
Farrel masuk kedalam kamar menyusul sang pujaan hatinya yang lagi-lagi meluapkan kemarahan itu padanya. Kemarahan yang tiada henti nya dan belum juga mereda membuatnya kebingungan sendiri.
Marahnya yang sulit di bujuk apalagi di rayu, namun ada saja tingkah Farrel yang membuat Metta marah.
Ceklek
Pintu dia buka dengan hati-hati, melihat Metta yang tengah duduk menghadap jendela, dengan sesekali terlihat mendengus dengan nafas panjang, Farrel sendiri menghela nafas lalu keluar dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Maafkan anak ibu yaa Nak." ucap Ibu Sri.
Farrel menoleh, "Eeh..." melihat Ibu Sri sudah berada dibelakangnya.
"Dia memang emosional,"
"Dan juga galak bu!" Farrel terkekeh.
Ibu Sri mengangguk menyetujuinya,
"Ditambah hormon kehamilan yang tidak menentu sepertinya membuat emosinya berubah dengan cepat."
"Ooh seperti itu ya bu, selain kakak emosional, dari efek hormon juga?"
Ibu Sri mengangguk,
"Gak apa-apa bu, nanti aku akan membujuknya,." ucap Farrel kembali.
"Terima kasih Nak El."
Farrel keluar dari rumah, membuat Ibu Sri mengernyit, dia berjalan ke samping rumah dan berhenti tepat dibawah jendela kamar Metta.
"Apa kakak akan mengingatnya?"
Trek
Trek
Trek
Farrel mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar dengan sebuah batu kerikil.
Metta yang menatap jendela itu menggelengkan kepalanya, lalu membukanya.
"Ngapain?"
Farrel terkekeh, "Hai ... aku lagi mencari wanita cantik yang penghuni kamar ini?"
Metta mengernyit,
"Yang saat tersenyum sangat cantik, melebihi apapun, bahkan mengalahkan personil jkt10, yang ketika tersenyum, dunia seolah berhenti berputar,"
Metta berdecak dengan bibir yang dikulumnya kemudian.
"Wanita cantik yang saat tersenyum, membuat jantungku berhenti berdetak, ingin berulang-ulang melihatnya."
"Mati dong kamu!"
"Wanita yang senyumnya mengalahkan ratu Elisabeth,"
"El ... apaan sih!"
Farrel mengernyit, "Kamu siapa? Apa kamu melihat wanita itu?"
"Farrel ... gak lucu tahu gak!"
Farrel naik dan berpangku tangannya dijendela, "Aku merindukan senyumannya, kau pasti memakannya ya? Kau makan senyum wanita ku ya!"
"Garing banget!"
Metta menahan senyumnya, dia hendak menutup pintu jendela, namun Farrel menahannya.
"Apa kau tahu cara memanggilnya kembali? Katakan padanya ada yang rindu."
Masih dengan berpangku tangan, dia tersenyum ke arahnya.
"Kalau dia tidak datang juga, aku akan terus menunggunya disini, gadis yang...eh bukan lagi gadis, tapi wanita ... wanita apa ibu-ibu yaa!"
"Farrel... aku jadi ibu-ibu kan gara-gara kamu!"
"Ih siapa kamu? ngaku-ngaku? Aku tidak kenal, aku mencari wanita cantik."
Metta mengerucutkan bibirnya hingga maju melebihi hidungnya, dengan kedua manik hitam yang sengaja dia fokuskan satu arah alias juling, "Begini Kan? Wanita cantikmu itu."
"Iya itu dia...." Farrel menahan tawa.
"Iihhh... Farrel masa aku gitu!"
Farrel tidak bisa menahan tawanya, "Iya kalau kamu tiap hari marah-marah lama-lama mungkin seperti itu!"
Farrel tak berhenti tertawa, niat awal dia ingin menggoda Metta, malah dia yang tertawa terpingkal oleh tingkah istrinya sendiri.
"Kalau aku kayak gitu, memang kamu tidak mau?"
Farrel berpura-pura berfikir, "Eemm ... mau gak yaa!"
Metta membulatkan mata ke arahnya.
"Awas aja!"
Farrel mengerucutkan bibirnya dan melakukan seperti Metta lakukan, "Ya udah aku juga akan berubah seperti ini, kalau kakak seperti itu."
Metta tergelak, wajah jelek yang di pasang oleh suaminya itu bukannya menjadi jelek malah menjadi semakin gemas, wajah Farrel yang imut dengan iris coklatnya itu membuatnya semakin tampan.
"Curang!! Kau bukannya jelek," Metta menggusel kedua pipinya.
"Kalau gitu maaf aku gak bisa jelek!" ujarnya tertawa.
"Iya terserah kau saja."
Farrel menarik tangan Metta hingga menjadi dekat. "Kakak ingat kita pernah berciuman disini? Ayo kita mengulangi..."
"Iihh...apaan sih! Gak mau!"
"Ayo kak...." Farrel memajukan bibirnya.
Metta memundurkan kepalanya.
Terus begitu hingga mereka saling menarik tangan.
Brakk
Bangku kayu yang jadi dijadikan pijakan Farrel patah, hingga kakinya terjerembab masuk, membuat dia mencari pegangan lain,
Byurrr
Genangan air dari plafon rumah jatuh mengenainya, sementara tadah yang digunakan untuk mengasah air hujan yang menempel di plafon ikut roboh karena Farrel memeganginya saat terjatuh.
"Awww...!"
"Astaga ...ppffftt...!"
Metta menahan tawa, saat kepala Farrel basah kuyup akibat air hujan.
Namun mereka malah tertawa hingga terpingkal.
.
.
"Makanya diem, pecicilan banget sih, udah mau jadi papa juga!" Ucap Metta dengan tertawa.
Dia mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya di halaman rumah.
"Memangnya papa gak boleh pecicilan?" Farrel juga tak berhenti tertawa. Papa, geli sekali .
"Lihat, astaga, udah kayak bocah jatuh di got kamu El."
"Kakak!! Ini juga kan gara-gara kakak!"
Metta menggosok rambutnya dengan keras, "Kenapa nyalahin aku, kamu yang narik-narik sampai roboh juga!"
"Aku mau mandi aja, rambutku lengket!"
"Sudah sana sana mandi, makanya jangan banyak tingkah,"
Dengan sengaja Farrel memeluk tubuh Metta, hingga baju yang dipakainya ikut sedikit basah.
"Farrel!! Basahkan,"
"Biar kita mandi bersama!" ujarnya terkekeh,
"Astaga, El ..."
Farrel menjumput hidung istrinya, "Makanya jangan marah-marah terus."
"Habisnya kamu gak jelas." mengusap-usap perut ratanya , "Papa El gak jelas yaa sayang." ucapnya lagi.
"Sayangnya papa, jangan dengerin mama, mama yang gak jelas."
Nissa yang baru keluar rumah pun mengernyit melihat tingkah kakak dan kakak iparnya.
"Ih, kalian kenapa? Dua-duanya gak jelas." gidiknya lalu kembali masuk ke dalam.
"Tuh kan dilihat Nissa, kamu sih!"