Berondong Manisku

Berondong Manisku
Rencana Alan


Arya terhenyak ketika sebuah tangan menyentuh lengannya. Jarinya dengan cepat menyapu buliran bening yang hampir jatuh di pelupuk mata.


"Alan...kenapa belum pergi"


"Kunciku ketinggalan yah " Alan mencari kunci mobil yang tertinggal.


"Apa yang ayah pikirkan?" tukas Alan menatap wajah Arya yang sendu.


" Tidak ada nak" sahut Arya menyembunyikan raut kesedihannya.


" Ayah baik baik saja.."


Arya mengangguk, namun hatinya terasa perih hanya dengan melihat Alan.


Arya begitu menyayangi Alan, bukan karena Alan anak sahabatnya, bukan karena kasihan pula. lebih dari itu..


Dari Alanlah Arya belajar menjadi orangtua pertama kalinya.


" Jadi Kau mau pergi kemana?" tanya Arya


" Aku hanya akan pergi kesuatu tempat yah," sahut Alan.


" Baiklah kau berhati-hatilah"


Tiba tiba pintu terbuka.


" Cx ternyata disini" ujar Farrel yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


" Buruan atau kau ku tinggal"


" Bentar, kunci mobil gue ketinggalan"


" Kalian mau pergi bersama " tanya Arya


" Iyaa yaah "


Farrel dan Alan pun beranjak setelah berpamitan. Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Memecah jalanan yang sudah ramai. Tentu saja karena akhir pekan.


"Kenapa kau gak bilang sama ayah tentang kemana kita pergi " tukas Alan yang fokus mengemudi.


" Nanti saja, toh kau juga akan melaporkan semua sama ayah kan"


Alan mengernyit, menatap sekilas pada Farrel.


" Kau ini, jelas saja aku akan melapor karena ini menyangkut perusahaan"


Farrel mendengus pelan dan kembali manatap ke luar mobil.


" Cx jawabanmu sudah bisa kutebak"


" Tapi kau tau kan magsudku" ujar Farrel.


" Tentu saja Aku tau, kau ini"


" Kau ingin membuktikan apalagi pada ayahmu, sementara ayah juga sudah tau kemampuanmu" tukas Alan dengan tetap fokus.


Farrel menghela nafas, jemarinya dia ketukan diatas pahanya sendiri.


" Aku sedang tidak membuktikan, aku hanya memastikan kemampuanku sendiri sebelum aku terjun langsung ke perusahaan"


" Ppftt,,,kau sungguh dewasa sekali tuan muda" tukas Alan dengan terkekeh.


" Sialan kau.." Farrel memukul keras bahu Alan yang tengah menahan tawanya yang berubah menjadi ringisan.


" Heii..kau mau membunuhku" tukas Alan dengan nada keras.


Yaa Farrel memang tidak ingin terlalu terlihat mencolok jika berurusan dengan perusahaan keluarganya, dia ingin memantaskan dirinya sebelum kemudian bergabung, meski sebagian orang tau kemampuan Farrel tidak bisa diragukan meski usianya masih terbilang muda.


ditambah image anak manja yang selama ini melekat pada dirinya.


" Dan kau tunggu saja, kau pasti akan senang dengan kejutan yang akan aku berikan" batin Alan, bibirnya kini menyeringai.


Sesaat kemudian mobil berhenti disebuah gedung, setelah memastikan mobilnya terparkir dengan aman mereka masuk kedalam gedung itu.


" Apa sudah siap semua "


" Aman..semua sudah siap , kau cukup mendengarkan apa yang mereka minta"


Jujur ini pertama kalinya Farrel terjun langsung sebagai CEO yang tentu saja belum resmi. Apalagi menemui karyawannya secara langsung seperti ini.


Perusahaan keluarga yang salah satunya dibidang perkebunan. Menjadi perusahaan terbesar eksportir dibidangnya yang sudah berhasil dipasar global, melibatkan banyak karyawan harian lepas yang sering luput dari perhatian managemen kebun. Salah satu masalah yang kerap mereka alami adalah kebosanan, sehingga produktifitas mereka kerap menurun, dan mereka tidak lagi menyelesaikan pekerjaan mereka sebaik biasanya.


Banyak keluhan yang mereka utarakan pada pertemuan semiformal itu dan Farrel antusias mendengarkan keluhan mereka.


Semua sudah terencana dengan sangat baik, Karena masalah tersebut sebenarnya sudah diselidiki oleh Alan.


" Baik teman teman sekalian, berdasarkan apa yang menjadi masalah kita saat ini, perusahaan sudah mempunyai solusi untuk kita semua, salah satunya adalah penghargaan untuk teman teman yang dapat kalian peroleh jika kalian mencapai target prestasi kerja yang maksimal " seru Farrel


Suara tepuk tangan para karyawan mulai terdengar riuh. Farel pun melanjutkan perkataannya.


" Dan jangan khawatir tak hanya pernghargaan saja yang kami berikan, kami juga akan berikan insentif,"


" Tentu saja berbeda dengan upah yang sudah diberikan secara komentitif"


Terdengar mereka semakin bersorak, dan begitu antusias. Hingga kembali membakar semangat kerja pada diri mereka.


" Kamu berhasil Ael" tukas Alan ketika selesai.


Alan memeluk Farrel dengan penuh kebanggaan.


" Bukan Aku saja, tapi kita lan" sahut Farrel.


" Ayah pasti bangga padamu"


" Padamu juga " tukas Farrel


Drrt drrrt..


Suara ponsel Alan terdengar, seketika pelukan mereka terurai.


" Siapa?"


" Apa ayah yang telfon?"


Farrel mengherdikan bahunya dan berlalu dari sana.


" Sudah sampai bos" tukas orang disebrang telfon


"Hem..antarkan dia ketempat yang sudah kuperintahkan"


" Baik bos"


Sedangkan Farrel yang kini tengah melihat area perkebunan dengan berjalan kaki, memandang luas hamparan hijau didepannya. Menghirup dalam dalam udara sejuk disekitarnya. Sesekali memejamkan mata.


Sementara disisi lain tempat itu, Metta turun dari mobil yang mengantarnya. Dengan senyum terukir dibibir mungilnya.


Betapa tidak, Metta yang mengambil kesempatan yang diberikan Pak bastian untuk menggantikannya datang meski ini hari libur, tentu saja karena intensif yang akan dia terima 5 kali lebih besar dari biasanya.


Flashback On


"Apa kau tau sesuatu lan, kenapa akhir akhir ini bocah itu terus datang ke perusahaan"


" Iyaa ayah, aku tau" sahut Alan.


" Ada seorang perempuan yang membuatnya bisa terus datang ke kantor"


" Siapa perempuan itu"


" Nanti juga ayah akan tau"


" Jadi dia datang hanya untuk mendekati perempuan itu" Arya menggelengkan kepala nya heran.


" Bukan yah, justru Farrel menjalankan tugasnya dengan baik "


" Benarkah"


" Tentu saja, ayah harus lihat ini" Alan memberikan laporan hasil pekerjaan yang sudah Farrel lakukan beberapa hari ini.


Arya memeriksa dengan teliti dan berdecak kagum. Dengan kepala yang sesekali mengungguk ngangguk.


"Jadi apa rencanamu"


" Aku dan Ael memang sudah mempunyai rencana untuk menyelesaikan masalah perkebunan yang di kota A"


"


"Dan rencananya kita hari ini akan kesana yah"


Arya mengangguk, sepenuhnya dia percaya pada Alan. Mengenalnya bahkan lebih baik, hingga dapat mengetahui apa yang ada dipikiran Alan saat ini.


" Pokoknya Ayah tenang saja, semua pasti berjalan dengan baik"


"Tapi kamu tetap awasi dia"


" Pasti yah"


" Ayahmu dan ibumu pasti bangga padamu lan" ujar Arya.


" Ayahku juga paati bangga bangga punya sahabat seperti ayah ini"


Obrolan mereka terhenti saat Ayu tiba tiba masuk.


Alan dan Arya sedikit terkejut karena kedatangan Ayu yang tiba tiba.


Alan yang hendak menelefon pun terhenti.


Setelah perbincangan mereka terhenti Alan keluar dari ruangan kerja Arya.


" Halo Bastian"


" Iyaa bos,"


" Aku ada tugas untukmu"


" Apa ini tentang anak buahku lagi?"


" Heem.. suruh dia ikut"


" Tapi besok hari libur bos"


" Tentu saja tawarkan 5kali lipat dari biasanya"


" Baiklah"


Dan aku akan beri Ael sedikit kejutan" Batin Alan terkekeh.


Flashback Off


Brug..


Metta dan Farrel bertabrakan, Metta terhuyung kebelakang, dan seketika tangan Farrel merengkuh pinggang kecil Metta. Metta yang kaget refleks mengalungkan tangannya keceruk Farrel, hingga mereka berpelukan. kedua manik hitam mereka bertemu. Saling menatap satu sama lain, merasakan desir demi desir di permukaan kulit dan berkumpul di hati yang bergerak semakin cepat.


๐Ÿ๐Ÿ


Cinta itu bukan kata benda, melainkan kata hati. Antara Pancaran naluri, perasaan jiwa, getaran hati dan saling terpautnya hati. Adalah fitrah manusia dari penggerak yang tak tergerakkan. Bukan melulu tentang cinta dengan lawan jenis, namun cinta dengan apa yang diciptakan Tuhan.


Cinta mampu bertahan meski sakit, mampu menerima walau sesak, mampu menunggu walau jenuh, mampu berubah walau sulit, mampu rela walau tak mudah, mampu setia walau kadang goyah, mampu berdiri tegak walau badai menghampiri.


Dan cinta tak pernah memandang siapa kepada siapa dia singgah. Datang menghampiri hanya untuk sekedar menepi atau menetap. Cinta juga kadang tiba tiba pergi dan menghilang. Bisa menorehkan luka yang mendalam.


......................


Eyaa eyaaa dalem bangett gak tuhh


๐Ÿค”kayaknya otor pengalaman jatuh bangun masalah cinta.


๐Ÿ jatuh di bangunan kali ahk..


๐Ÿค” Cie dalem banget..


Menurut kalian dalem banget apa dalem banget๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Serius nimah gak geje kan??


Salam geje๐Ÿ˜š