
Metta menoleh, "Aku..., aku hanya ...."
"Tiga hari lagi usiaku 20!"
"Jadi apa yang kakak khawatirkan sebenarnya?"
Metta menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap taman kecil milik ibunya. "Aku hanya takut El, usiaku masih jauh diatasmu,"
Farrel mengernyit, "Usia lagi, usia lagi!? Sekarang usia kita sama-sama dikepala 2 sayang!"
Metta mendengus, "Gak lucu El ...."
"Kenapa, apa aku kurang dewasa? Tubuhku kurang tegap? Rahangku kurang keras? Hem... kakak ingin aku seperti apa?"
Metta menoleh dan menggelengkan kepalanya, Lalu kembali menatap tanaman. Seolah mencari jawaban diantara bunga-bunga yang tengah mekar.
"Apa penampilanku harus dirubah? Apa aku harus memelihara jambang dan bulu dada yang lebat agar terlihat dewasa? Begitu...?"
Metta menarik tipis bibirnya, "El ... jangan bercanda, gak lucu tau gak!"
Farrel menatap kekasihnya itu dengan menahan marah, "Aku tidak bercanda, aku hanya ingin menjadi apa yang kakak mau, sampai kakak tidak pernah berpaling dariku! Kenapa yang kakak masalahkan hanya usiaku saja?"
Metta menggelengkan kepalanya lagi.
"Lantas apa? Katakan yang jelas, tidak semua orang dapat mengerti isi hati kakak. Apa yang kakak rasakan, apa yang kakak inginkan, jangan sampai aku berfikir hanya aku yang berusaha membuat kakak mencintaiku, tapi kakak tidak juga membuka hati kakak sepenuhnya," intonasi Farrel mulai meninggi.
"Kenapa kamu marah?" Metta balik bertanya.
"Asal kamu tahu, masalahnya itu bukan dari kamu, tapi dari aku!"
"Kalau gitu katakan apa masalahmu?"
Metta terdiam, kata-kata itu memang berseliweran di kepalanya, merebak hingga menyesakkan rongga hati. Menjadi ketakutan tanpa alasan, keraguan yang sudah memuaipun terkadang hinggap lagi. Dan kini lidahnya kelu, tak mampu mengungkap isi hati, selalu bertabrakan dengan ego diri paling tinggi.
"Ayo katakan? Kenapa kakak hanya diam." Farrel melangkah mendekat.
"Kakak masih meragukanku?" Metta menggeleng, air mukanya kini berubah, dia semakin menekuk wajahnya.
"Kakak masih tidak bisa melupakan masa lalu?" menggeleng lagi.
"Ini tidak ada hubungannya dengan masalaluku."
Farrel mendecak, "Kakak membuatku bingung!"
Metta menatap Farrel, " Ini tentang masa depan kita, aku hanya takut El...."
"Aku takut kamu bertemu dengan gadis lain yang lebih cantik, lebih sexy, lebih muda, lebih segalanya dari padaku suatu hari nanti." ucap Metta lirih.
"Aku takut tidak bisa mengimbangi kamu, menyesuaikan diri dengan masa mudamu lalu kamu mencari yang lain saat aku semakin tua dan kamu semakin dewasa kedepannya nanti," lanjutnya lagi
Kini Metta menunduk, "Saat nanti aku tua, apa kamu masih melihatku dengan penuh cinta seperti sekarang?"
Farrel mengangguk, "Kakak memang benar, sampai-sampai aku tidak bisa menjawabnya," Jawaban Farrel menohok Metta.
"Tuh kan...." Membuat hati Metta kian tak menentu,
ujung matapun kembali meluruh, dia menarik kursi lalu menghempaskan tubuhnya disana.
Farrel berjalan hingga beberapa langkah, "Akan ada banyak gadis cantik didunia, yang lahir, bahkan setiap hari dikota ini, dan mungkin salah satunya akan mengenaliku suatu hari nanti," Farrel terkekeh.
Farrel kembali melangkah, kini dia menyandarkan tubuhnya di tembok, dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku.
"Tapi asal kakak tahu, usia itu tidak akan menjadi masalah bagiku, bahkan keluargaku tidak juga mempermasalahkannya, masalah gadis cantik pasti lebih banyak, lebih sexy bahkan lebih dari segalanya dari kakak mungkin juga ada, bahkan banyak sekali! Tapi bukan mataku yang melihatnya." Menghela nafas,
"Dia akan sempurna jika seseorang menatapnya dengan cinta, seperti aku melihat kakak!"
Metta menelan saliva, apa pendengarannya terganggu? atau bahkan rusak, dia bahkan tidak menyangka penuturan dari mulut pria yang masih dianggapnya usia tanggung itu.
"Apa kakak faham? Jika tidak juga faham aku akan terus menjelaskannya, jika kakak takut aku mencari yang seperti kakak sebut tadi, aku akan mencari yang seperti kakak, semuanya yang benar-benar sama persis. Karena aku tahu tidak akan ada lagi kakak lain dihidupku."
"Kakak ingin memastikan apa lagi? Ucapanku, sikapku, cara aku mencintai kakak? kedewasaanku, Apa...."
Farrel terus mencercanya, bagaimana caranya lagi dia meyakinkan pujaan hatinya.
"Aku hanya takut tidak bisa menjadi sempurna untukmu El."
Farrel kembali mendekat, kini mereka saling berhadapan, " Kakak ini hanya berfikiran sempit, apa aku pernah meminta kakak untuk menjadi sempurna?" Metta bergeleng kepala.
"Kakak adalah pengingatku, penyemangatku dan tempat aku pulang, " Farrel menarik tubuh Metta kedalam dekapannya.
"Jika kakak masih takut, lihatlah aku! Aku akan menjadi penguat saat kakak takut, aku berjanji pada diriku sendiri."
"Tapi El...."
"Apa kakak takut aku diambil orang? Bicara begitu saja kenapa susah sekali," Farrel terkekeh.
"El ...." Rengek Metta yang masih membenamkan kepalanya di dada Farrel.
"Hem ...."
"Apa kamu yakin?"
"Pertanyaan ini sudah pernah kakak tanyakan padaku, dan jawabanku tetap sama," Farrel membelai rambut Metta.
"Sekarang kakak yang jawab pertanyaan itu, tanyakan pada hati kakak! hem...." Tanya Farrel dengan menciumi pucuk kepala Metta. Dan Mettapun hanya mengangguk.
"Apa....?" Selidik Farrel dengan gerakan kepala Metta yang terasa di dadanya.
"Coba katakan, aku tidak mengerti!" ujar Farrel dengan menyunggingkan bibirnya.
Menangkup kedua pipi Metta hingga menghadap kearahnya. Terlihat Metta memejamkan Matanya,
"Katakan dengan jelas? jangan sampai aku mencium kakak disini, didepan orang tua kita yang saat ini tengah melihat kita," bisik Farrel.
Metta melirik kaca jendela, benar saja bayangan hitam terlihat didalam sana meskipun tidak jelas.
" Bagaimana kau bisa tahu, jeli sekali matamu!" ucap Metta yang masih mengenadah didalam tangan Farrel.
"Mataku memang jeli, itu sebabnya aku bisa menemukan kakak bukan! Cepat katakan, jangan mengalihkan pembicaraan."
"Iya...." gumam Metta nyaris tidak terdengar.
"Aku tidak bisa mendengarnya! ucap Farrel kembali.
"Iya ... I love you El."
Farrel tersenyum lebar, Lalu kembali menarik Metta kedalam dadanya.
"Yah, anakmu itu lho!?" Ayu menepuk pelan bahu Arya.
Arya mengangguk, "Dia sepertiku dulu saat aku mengejarmu Bun!"
"Anakku lebih baik, aku juga makin jatuh cinta padanya sekarang," Ayu mencengkaram bahu Arya dari belakang.
Arya memutar tubuhnya menghadap sang istri, "Apa sekarang Bunda tidak lagi cinta sama Ayah?"
"Ish, ayah ini tidak mau kalah sama anak sendiri...." menepuk pelan bahu suaminya.
Sementara Sri bergeleng kepala saat sepasang suami istri itu mengintip Metta dan Farrel dari kaca jendela.
"Bu .... mereka ngapain?" ucap Nissa yang muncul dari belakang tubuh sang ibu.
Sri mengerdikkan bahu, "Sudah ayo kamu kembali duduk! Ini urusan orang tua,"
"Orang tua tidak ada yang mengintip anaknya begitu Bu," tukas Nissa dengan mengerlingkan matanya.
"Hust... Kamu itu!"
"Ada apa sih bu? ngapain ....
Nissa baru membuka mulut hendak berbicara, namun Andra memasukan cake coklat pada mulut Nissa yang menganga.
"Abang..." Teriaknya dengan mengunyah.
.
.
Jangan lupa like, Rate 5, dan Fav ya.
Gift juga boleh..hihi