Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bertemu Nissa


"Setthh ...!" Dinda menyenggol lengan sahabatnya.


"Apaan sih!" ketus Metta dengan mendelik.


Dinda berdecak, dia memutarkan kepala Metta ke arah restoran jepang yang mereka lewati.


"Tuh, si Doni ... aku juga bilang apa! Dia ada main kan sama si Tiwi, berarti gosip murahan itu bener kan?" ujar Dinda dengan terus melihat ke arah resto.


Metta terperangah, melihat Doni duduk berdua dengan Tiwi. "Itu benar Doni?"


"Bukan, itu suamimu!" timpal Dinda dengan kesal.


Metta memukul lengannya, "Kau ini, bicara yang benar! Sembarangan kalau bicara! Kau belum tahu saja bagaimana rasanya jika kekasih mu itu ada yang deketin!"


"Dih, kenapa jadi aku! Lagian yaa, My sweety ice itu takkan tergoda dengan yang lain, dingin dan kaku begitu! Hanya padaku saja dia itu..." Ujarnya dengan kedua alis yang turun naik.


Metta mengerdikkan bahu, "Dasar stress!!"


"Udah deh, kita duduk di sini dulu saja, sambil lihatin mereka. yuk!"


"Males ah... mending kita ke tempat lain,"


Mereka pun berlalu pergi, mereka masuk kedalam coffe shop yang berada tak jauh dari resto jepang itu.


Sementara Tiwi mendorong mangkuk nya ke hadapan Doni, "Aku gak mau makan itu, perutku mual dengan aromanya."


" Kau yang mau ini tadi!"


"Aku gak mau! Kamu saja yang habiskan."


Dasar wanita gila, membuatku pusing kepala.


"Terserah lah, aku pusing! lebih baik kita pergi saja, kalau kau tidak jadi makan! Aku harus kembali ke kantor!"


"Tapi aku ingin melihat kamu yang memakannya." rengek Tiwi.


"Udah deh, aku gak ada waktu meladeni kamu! terserah mau ikut atau tidak." ujarnya dengan bangkit dari duduknya.


Dasar curut sialan.


Tiwi menghentakkan kakinya, menyusul Doni yang tengah kesal. Namun wajahnya berubah tambah kesal saat seseorang memanggil Doni.


"Kak ... kak Doni! Yuhuuu,"


"Nissa..." ujar Doni yang melihat Nissa yang tengah melambaikan kedua tangan ke arahnya.


Doni menghampiri meja Nissa yang duduk bersama dua teman sekolahnya.


"Kak Doni baru saja ingin kasih tahu Nissa resto ini! Eh Nissa udah gerak cepat juga ternyata."


Dengan bangkit berdiri Nissa terkikik, " Iya dong Nissa gitu lho! Kak Doni sama bang Farrel kesini? Kok aku gak lihat dia?"


Dengan kedua manik hitamnya Nissa mengedarkan pandangannya namun bola matanya malah mengunci seseorang yang tadi dilihatnya.


Tiwi yang berjalan menyusul Doni dengan marah, dia lantas menyelipkan tangan dengan Doni.


"Heh ... bocah aneh, ngapain ngangguin pacar orang!"


"Tiwi...!" sentak Doni dengan melepaskan tangannya yang melingkar pada lengannya.


"Dih ... siapa yang ganggu," Nissa mendelik ke arah Tiwi, lalu beralih pada Doni.


"Kak Doni, ini benaran pacar kakak?" tanya nya.


Sementara kedua temannya menatap tajam ke arah Tiwi. "Ini mbak yang tadi tabrakan sama kamu kan Ning?"


"Huum... gila Re, tante-tante apa yaa?" senggol Renita pada Bening.


Mereka menutup mulutnya dengan menahan tawa. Sementara Tiwi dan Doni tengah sibuk berdebat.


"Bukan hanya pacar! Tapi aku calon istrinya. Dan aku sed--."


Doni menarik tangan Tiwi, "Nissa kak Doni duluan yaa, salam buat ibu!"


Nissa yang terpaku hanya mengangguk tak mengerti. "Aneh banget, " lalu kembali mendudukkan dirinya.


"Nis...siapa sih? perasaan cowok yang kenal sama kamu itu pada ganteng tapi pada gak jelas, dulu bang Farrel yang hensom, ilang gitu aja! Lah sekarang dia tuh, kak Doni, sama pacarnya nenek lampir." ujar Renita terkikik.


"Emang gak ada yang jelas sih Nis. Sama gak jelas nya kayak teman-teman abang loe, Andra Cs." timpal Bening


"Iihhh...kalian gitu sih! Ya mana aku tahu kak Doni ternyata gak jelas begitu, aku aja baru tahu dia punya pacar, kalau bang Farrel dah gak usah ditanyain lagi, dia udah nikah sama kakak gue!"


"Hah ... seriusly! kok bisa sih?" ujar Bening dengan kedua mata nyaris keluar.


"Biasa aja tuh mata! gue colok juga tuh biji mata." sela Renita tergelak.


Sementara Tiwi dan Doni berjalan menuju mobil. Tiwi menghempaskan cekalan tangan Doni.


Doni berusaha menahan amarahnya dari tadi, namun kali ini dia sudah tidak tahan dengan sikap Tiwi.


"Kau yang sudah gila! Datang-datang memarahi orang gak jelas! Menuduh sembarangan."


"Asal kamu tahu yaa, mereka itu yang sudah bikin aku hampir terpeleset di toilet, terus seenaknya kamu bersikap baik pada mereka yang nyaris mencelakaiku?" ujar Tiwi.


Doni semakin jengah, " Tidak usah drama deh, kau pikir mereka melakukannya dengan sengaja? Kau fikir kau orang penting? Artis...?"


Doni berjalan ke arah pintu kemudi, lalu masuk ke dalamnya, sementara Tiwi masih mematung di luar.


Sampai Doni menghidupkan mesin mobil san menekan klakson pada Tiwi. Dia akhirnya masuk kedalam mobil dengan tersungut.


"Siapa dia?" tanyanya pada Doni.


"Untuk apa kau tahu, tidak penting kau ini!"


Tiwi berdecak, " Jawab, atau aku akan masuk kembali ke dalam, dan menanyakan nya langsung padanya."


" Silahkan kalau kau mau mencari ribut di sini." ujar Doni menggertak.


"Oke, kalau begitu! Kau pikir aku takut?" ujar Tiwi sambil membuka pintu mobil.


Tiwi yang keluar dari resto lalu terlihat masuk kembali kedalam sana. Doni berlari keluar san mencekal lengan Tiwi, "Kau tidak mendengarkan? Jangan berbuat yang tidak- tidak, atau kau yang akan menyesal."


"Terus saja kau membelanya, kau bahkan menghiraukan aku! Lepas, kau yang akan lihat apa yang bisa aku lakukan padanya." ujar Tiwi mendorong pintu resto.


Doni mencekal kembali tangan gadis menyebalkan itu. "Kau yang akan menyesal, Nissa itu adiknya Metta, dan itu artinya dia adik pemilik perusahaan di mana kau bekerja!"


"Silahkan, lakukan sesukamu Tiwi!"


Tiwi terperangah, tangan nya mundur dari handle pintu resto, dia tidak jadi membukanya.


"Benarkah? Apa kau sedang mengkhawatirkan aku?" ujarnya dengan senyum merekah dari bibirnya.


"Dasar wanita licik!" gumamnya dengan mendengus kasar. Namun Tiwi tidak mendengarnya dengan jelas, dia melingkarkan tangannya pada lengan Doni.


"Baiklah, aku menurut padamu, aku tidak akan melakukan apapun padanya, mari kita kembali ke kantor." ujarnya tersenyum.


Ya tuhan, aku terlalu banyak dosa, hingga aku mendapatkan balasan seperti ini. Dasar wanita ular.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil, dan kembali ke kantor.


"Besok aku akan menjemputmu!" ucap Doni pada Tiwi saat mereka sampai di rumah Tiwi.


"Kau tidak masuk dulu, istirahat lah sebentar, kau pasti cape." ujar Tiwi dengan membuka seat belt nya.


"Besok saja, hari ini kau istirahatlah!" jawab Doni.


Tiwi mengangguk, "Memangnya kau akan mengajakku kemana?"


"Besok saja! Kau juga akan tahu,"


Tiwi mendekatkan wajahnya, dia hendak mencium pipi Doni, namun Doni dengan cepat menjauh, hingga Tiwi ikut menjauh dengan kecewa.


"Baiklah, kalau begitu aku turun! Hati-hati papah Doni." ujarnya lalu keluar dari mobil.


Dia melambaikan tangan, ke arah Doni. Namun Doni langsung melakukan mobilnya tanpa melihat ke arah Tiwi.


"Aaaghhkkk ... aku ingin melemparkannya ke tepi jurang! astaga, kenapa aku bisa mengenal wanita seperti itu. Aku harus melakukan sesuatu." monolognya.


.


.


"Niss... kamu yakin mbak itu pacarnya Kak Doni itu?" tanya Bening masih penasaran.


"Nissa juga gak tahu, kalau pun iya juga ya sudah. Memangnya kamu mau apa?"


"Iya bukan mau apa! Gimana ya, kok aku menyayangkan hal itu sih, padahal kenal juga enggak. Iya kan Re?" meminta dukungan Renita.


"Tahu deh, aku takut kecewa sama jawaban si Nissa, terakhir kali dia bilang akan membantuku dengan meminta nomor bang Farrel hansome itu, nyatanya apa?" Renita tiba- tiba mendelik ke arah Nissa, bening ikut mengangguk.


"Ih... apaan kalian ini! Aku kan tidak janji, Lagian mana mungkin Nissa kasih no nya, nanti Nissa malah di amuk lagi sama kak Sha."


"Yah... payah sih loe,"


"Udah deh, gak usah ngomongin cowok sama dia, gak bakalan ngerti." ujar Bening.


Mereka tergelak bersama, membuat orang- orang yang berada di sana melihat ke arah mereka.


Apa benar dia itu pacarnya Kak Doni, jangankan bening san Renita, aku juga menyayangkan jika itu benar.


.


.