Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bernegosiasi 2


Arya naik pitam, dugaannya selama ini benar. Metta hanya mengincar hartanya saja,


"Kau fikir siapa kau itu?"


"Bukankah Om lebih tahu banyak tentang saya?"Jawabnya dengan bibir yang melengkung penuh.


"Jangan kurang ajar kamu!" Ayu menggebrak meja.


"Lho saya berbicara tentang fakta Tante,"


"Apa yang kalian tawarkan pada saya tidak akan sebanding dengan apa yang diberikan anak Om dan Tante pada saya," Metta berseringai lagi.


"Lancang sekali mulut mu itu, apa orang tuamu tidak mengajari sopan santun hah?"


"Maaf Tante, bukannya saya ingin lancang, tapi kurasa sopan santun tidak lagi penting dalam perbincangan kita ini!"


"Astaga, kau benar-benar tidak tahu diri!"


Metta tersenyum, "Terserah ..." menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga, dan senyuman terindah sengaja diukir di bibir tipisnya.


Sepasang suami istri itu kalah telak, mereka tidak mampu berbicara. Bahkan Ayu sampai menganga tak percaya. Tidak pernah menyangka reaksi Metta sungguh diluar ekspetasinya.


"Anakku harus tahu semua ini!" Ucap Ayu dengan menggebu.


"Lakukanlah, kasih tahu sekarang juga kalau perlu."


masih dengan seringaian di bibirnya.


"Dasar perempuan licik..."


"Hahaha ... harusnya Tante bicara seperti itu didepan cermin!"


"Kau....!" Arya mulai memegangi dadanya.


"Ah, sudahlah lebih baik saya pergi saja. Bukankah kalian tidak memiliki banyak waktu?"


"Terima kasih karena undangannya hari ini."


Metta beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dengan penuh percaya diri, berjalan dengan senyum yang mengembang di wajahnya, tampak elegan dengan balutan dress berwarna hitam milik Dinda yang sangat pas di tubuhnya.


Kembali dengan hentakan high hills melewati lorong yang masih sama sepinya. Namun senyum yang dia pasang seindah mungkin didalam sana kini menghilang.


Metta menghembuskan nafas berkali- kali saat dia sampai ditempat parkir. Dengan cepat dia melajukan motornya, walau memakai dress, dia tak peduli.


Jalanan pun kian padat, ditambah rintik hujan mulai membasahi gersangnya bumi. Lengkap sudah apa yang dia dapatkan hari ini.


Ujung mata mulai menganak, seiring butiran hujan menusuk wajahnya. Berkali-kali Metta menghela nafas, agar sesak di dadanya sedikit berkurang. Setelah dirasa jauh dari tempat tadi Metta menghentikan motornya dan menangis sejadi jadinya. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini terjun dengan bebas. Hatinya terasa sakit,


2 kali direndahkan seperti ini membuat dirinya semakin hancur. Dadanya sesak menahan nyeri, bak dihujam dengan belati berkali-kali.


Hujan turun semakin lebat, namun dia tetap berjongkok memeluk lutut, dalam guyuran hujan tubuhnya bergetar, tangisan kedua kalinya setelah dia menemukan bahagianya.


Metta tetap bertahan dalam posisinya, hingga seseorang menyentuh bahunya.


"Sha... Ayo kita pergi dari sini!"


Metta mendongkak, dilihatnya Dinda tengah memayungi dirinya. Metta berhambur memeluk sahabatnya itu.


"Sudah, ayo kita pergi dari sini!"


Dinda membawa Metta masuk kedalam mobil, dan melaju meninggalkan tempat itu. Tangisnya belum mereda, sementara Dinda hanya bisa mengusap pelan bahunya tanpa kata.


Setelah berapa lama tangisannya mulai mereda, Metta menarik nafas panjang bak memberi pasokan udara yang rasanya hampir habis itu.


"Din jangan antarkan aku kerumahku."


"Kamu yakin?"


Metta mengangguk, dengan kedua tangannya mulai menyapu buliran di wajahnya.


"Aku tidak mau membebani keluargaku dengan masalah yang tengah aku hadapi."


"Mungkin seharusnya lo cerita sama ibu, dia pasti khawatir,"


"Jangan selalu dipendam sendiri Sha!"


"Enggak Din, aku gak sanggup berbagi duka dengan keluarga,"


"Sayang sekali, mereka tidak melihat hatimu Sha,"


"Entahlah, aku lelah Din!"


"Lalu bagaimana kamu ada di tempat tadi?"


"Aku sengaja ngikutin kamu! gak apa-apa kan?"


"Apa dia tidak menghubungimu?" Ucap Dinda dengan tangan masih dikemudi.


Metta menggelengkan kepalanya,


"Ya udah, kita pulang ke Apartement saja?" Metta menjawab dengan anggukan. "Aku ingin istirahat."


.


.


"Apa dia benar-benar perempuan yang dicintai anak kita Yah?" Arya mengangguk, "Tidak salah lagi, bahkan dia bisa merubah anak manjamu itu!"


"Ayah lihat tadi wajahnya?" rasanya Bunda ingin merekamnya.


"Untuk apa? Aneh-aneh saja!"


"Ku viralkan lah Yah!"


"Jadi, apa yang akan kita lakukan! El bahkan tidak mau mengangkat telfonnya."


"Tunggulah sesaat lagi!"


Benar saja, ponsel yang dia pegang kini berdering. Menampilkan nama anaknya dilayarnya.


"Apa yang Ayah dan Bunda lakukan?"


"Wah, wah dengan cepat perempuan itu mengadu padamu ya!"


"Kakak tidak mengadu apapun padaku! tapi aku sudah tahu semua,"


"Apa Ayah akan mengingkari janji Ayah sendiri?"


"Dan keinginan Ayah sudah ku penuhi, sekarang apalagi?"


"Apalagi keinginan Ayah yang harus aku lakukan?" sentak Farrel.


"Tinggalkan perempuan itu, dia hanya menginginkan harta kita saja, apa kau mengerti?" Arya membentaknya.


"Ayah yang benar-benar tidak mengerti!"


Ayu tiba-tiba merebut ponsel dari tangan suaminya,


"El pulang lah..."


"Maaf bunda, El belum bisa pulang, sebelum Ayah dan Bunda berhenti ikut campur "


"Semua ini demi kebaikanmu El,"


"Maaf Bun, El gak bisa!"


"Tapi El ..."


"Sudah Bun, biarkan saja dia," Arya mengambil alih kembali ponselnya.


"Maaf Ayah, tapi jangan salahkan aku jika aku juga akan beringkar."


"Jangan bersikap bodoh El."


Tut


Ponsel dimatikan secara sepihak dari ujung sana.


"Kamu pasti menyesal El," Arya meletakkan ponselnya di meja.


"Yah, bagaimana ini?"


"Bunda tenang saja, dia tidak akan gegabah!"


"Bunda takut dia semakin berubah Yah!" Ayu tampak cemas, tak berhenti meremass tangannya.


"Kita lihat sejauh mana anak manja itu berulah!"


"Yah ...!"


.


.


Terima kasih atas semua dukungannya,❤


Terus dukung karya receh dari author remahan ini dengan like, komen, rate 5 dan Fav nya yaa jangan lupa,