Berondong Manisku

Berondong Manisku
Gejala ibu hamil


Udara pagi kian menghangat, sepasang calon mama dan papa itu kian mendekap, bunyi jam weker di atas nakas sebagai pengingat terabaikan begitu saja, beberapa kali berbunyi hingga senyap dengan sendirinya.


Dua tubuh yang masih polos itu saling menggeliat dibawah selimut, tidak merasa gerah maupun kepanasan, meski sinar mentari pagi sudah hampir sepenuhnya menerobos melalui celah jendela.


Namun tiba-tiba Farrel harus kembali merasakan perutnya mual, bau bawang menyeruak masuk menusuk hidungnya.


Farrel berlari menuju kamar mandi, mengagetkan Metta yang terhempas begitu saja.


Huekk


Huek


Lagi-lagi Farrel muntah, Metta yang menyambar pakaiannya lalu menyusul nya dari belakang.


"Mual lagi?"


"Siapa sih yang masak bawang?" ujar Farrel dengan kesal.


Metta mengendus-ngendus udara, "Gak ada bau bawang. Bi mimah mungkin lagi masak, wangi kok ini."


"Ini bau kak, aku mual!" ujarnya dengan keluar dari kamar.


Dia menatap jam dinding lalu berdecak, "Seharusnya aku ada meeting hari ini, tapi kepalaku pusing sekali."


Metta merasa kasian pada Farrel, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, gejala kehamilan tidak ada obatnya, dan kenapa hanya Farrel yang merasakannya sementara dirinya tidak sama sekali.


"Jam berapa kamu meeting?"


"Jam sebelas." ujarnya memijit kepalanya yang terasa berat.


Metta mengangguk, "Kalau begitu, bersiap-siaplah, aku akan ikut menemanimu."


Farrel mendongkak, "Tidak, kakak dirumah saja, kakak sedang hamil harus banyak istirahat, biar Alan saja yang menggantikanku."


"Tidak apa-apa, sekalian kita keluar, aku bosan dirumah terus."


"Kakak yakin?"


Metta mengangguk, "Hem...sangat yakin, biar aku yang menggantikan suami ku yang sedang mengalami gejala hamil muda."


Metta terkekeh, sementara Farrel hanya mendengus ke arahnya, "Itu karena aku sangat mencintai kakak, sampai hamil pun aku yang merasakannya."


"Anakmu ini persis seperti kamu, dulu kamu merepotkan, bertingkah konyol. Aku tidak bisa membalasmu, jadi sekarang anakmu yang membalas mu!" Metta terkikik lalu berlari kecil masuk kedalam kamar mandi,


Sementara Farrel menggelengkan kepalanya, "Kakak jangan lari-lari seperti itu!"


Metta menutup pintu, "Memangnya kenapa, berlebihan sekali, aku saja yang hamil tidak merasakan apa-apa! Aneh bukan?" ujarnya dengan berteriak dari kamar mandi.


"Itu karena kakak memang tidak pernah peka!" gumamnya dengan kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


.


.


"Kau yakin bisa melakukanya?" suara Alan sari ujung telefon.


"Hm ... kakak akan menemaniku, kau tenang saja! Bukankah kau juga tetap tidak bisa menggantikkanku?"


"Aku benar-benar tidak bisa, aku harus mengurus sesuatu yang penting!"


"Baiklah, pergi saja! Kau memang payah."


Tut


Farrel menutup sambungan telefon dengan Alan. Metta hanya mengelus bahunya.


"Sabar ...."


"Bagaimaana aku tidak kesal, dia memngnya sedang sibuk apa sih? Ssmpai tidak bisa menggantikan Meeting."


"Sayang, jangan marah-marah terus dong!"ujar Metta yang tengah mempelajari berkas untuk meetingnya, baginya ini tidaklah sulit, dia memang terbiasa dengan berbagai acara meeting.


Farrel menghela nafas, "Aku juga tidak tahu moodku sepertinya berantakan sekali."


Metta menoleh dengan melipat kedua tangannya, "Kenapa malah semua kamu rasakan, seharusnya itu aku, benarkah Mac?"


Mac hanya mengangguk dengan melirik Metta hanya di spion,


"Apa kau juga merasakan gejala awalnya?"


"Tidak Mas, sama sekali tidak."


"Benarkan? Hanya aku saja yang mengalaminya,"


Metta terkekeh, "Maaf...." ujarnya dengan mengelus lembut lengan Farrel.


"Aku tidak mau hanya meminta maaf, aku mau yang lain!"


Metta mengernyit "Yang lain apa? Jangan aneh-aneh deh, kalau aneh berarti itu hanya keinginanmu!"


"Enggak, bukan hal yang aneh, kakak juga pasti sudah tahu,"


Farrel mengangguk, "Iya ... masa kakak lupa! Akhir- akhir ini aku sering meminta kakak melakukannya kan?"


Metta membulatkan mata, sementara Mac yang ikut kaget malah terbatuk, Farrel sendiri memperlihatkan wajah polosnya.


"Ayo kak!"


"Disini?"


Farrel mengangguk, "Tentu saja, cepatlah!"


"Ih kau ini, ada Mac! Masa disini,"


Farrel mendecak, "Jangan hiraukan dia, anggap saja Mac tidak ada, ayo cepat jangan banyak alasan."


Farrel kembali mulai kesal, segalanya seakan menjadi rumit, Metta merasa kelimpungan sendiri, bukankah seharusnya dia yang di manja, dan bersikap manja? padahal dia yang tengah hamil.


Metta mendengus pelan, lalu menghadap Farrel dengan memejamkan matanya, menunggu Farrel melakukan apa yang dia mau.


Satu detik


Dua detik


Farrel masih mengernyit dengan melihat wajah Metta yang mendekat, bulu mata yang berkumpul menjadi satu itu tampak mengejap-ngerjap.


"Kakak sedang apa?" tanyanya heran.


"Hah....?"


"Aku tanya kakak sedang apa?" Farrel kembali mengulangi pertanyaannya.


Seketika Metta terkesiap, dengan membuka matanya membulat sempurna.


"Bukankah kamu ingin menciumku?" gumamnya pelan.


Farrel tergelak, "Jadi kakak berfikir aku mau mencium?"


"Bukankah itu yang sering kau minta?" Metta mendengus kesal.


Metta merasa wajahnya panas, pipi itu merona seiring wajahnya yang tertunduk malu.


Haissh...aku malu!


Farrel berdecak dengan mata yang menyipit, "Kakak ini ternyata semakin mesum saja."


"Ih kau ini...!" memukul lengannya.


Farrel membaringkan kepalanya dipaha sang istri, "Ayo elus kepalaku!"


Astaga, ternyata dia hanya minta aku untuk mengelus kepalanya saja, duh malu banget aku.


"Kau ini, kenapa tidak kau bilang langsung saja tadi itu, jadinya aku tidak bingung."


"Aku kan sudah mengatakan, hal ini kan yang akhir-akhir ini aku mau, merasa nyaman saat kakak mengelus kepalaku." ujarnya dengan mata yang terpejam.


Mac menatap Metta lalu terkekeh, dia juga melihat ke arah Farrel yang sudah mulai mengantuk.


"Aku sudah mengatakannya, kakak saja yang tidak paham." ujarnya dengan suara yang melemah.


Metta kembali menghela nafas, "Ihhh ngeselin, apa saat ibu hamil, para suami ikut begini juga? semua nya begini? Kacau kalau semua!"


"Aku tidak tahu, tapi kurasa mungkin kau benar sayang!"


Metta mengangguk-anggukan kepala.


"Benar kan buktinya kamu sering marah sekarang, mood mu juga berubah dengan cepat tahu gak sih? belum lagi muntah-muntah, dan minta hal yang tidak biasa itu."


Hening, tidak ada suara apa-apa, "Heh...."


"El... kau tidur?" gumam Metta dengan menyuruh Mac.


"Ayo kak, jangan berhenti."


"Iihhh...ngeselin bangat!" gerutunya dengan pelan.


"Kakak ...!"


.


Tidak terasa mereka telah sampai disebuah kafe, tempat dimana Farrel akan melakukan meeting nya dengan klien. Metta turun setelah Farrel membukanya, dia melingkarkan tangan dilengan suaminya, "Terima kasih!"


"Sayang wajahmu pucat sekali,"


"Hm... tidak apa, aku hanya sedikit lemas saja!" jawab Farrel dengan mengelus punggung tangan Metta.


Metta pun benar-benar menggantikan Farrel untuk mewakilinya presentasi, lalu mencatat poin-poin tertentu yang dianggapnya penting. Semua berjalan lancar, meskipun Metta yaang merasa kasian pada Farrel yang hanya diam memperhatikkan.


"Kakak hebat, tapi rasanya aneh!"