
Mauku hanya kamu
Meski orang berkata tidak,
Rinduku hanya kamu
Meski orang berkata tidak,
Aku memilih bertahan, meski mereka tidak paham.
.
.
Setelah perdebatan nya dengan sang bunda Farrel masih berdiam diri di kamar, berkutat dengan Drawing pad nya, mencoba mengalihkan fikiran tentang perkataan Ayu dengan goresan goresan sketsanya. Farrel pun hanyut dalam dunia nya sendiri hinggw beberapa waktu.
.
.
" Kakak, apa yang kakak inginkan dalam hidup ini" ucap Farrel saat dia dan Metta berada di tempat rahasia waktu itu.
" Aku?" Metta terlihat menyapu air mata dengan jarinya. Berusaha tegar saat dia harus melihat Faiz lagi setelah sekian lama.
" Iya kakak,?" Farrel berbaring dihamparan rumput dengan kedua tangan yang menjadi bantalnya, memandang bintang bintang berhamburan dilangit.
"Untuk apa kau tanyakan hal seperti itu,?" sahut Metta ketus.
" Jawab saja kak, aku hanya ingin tau!"memandang Metta yang sedang memandang lampu warna warni.
" Cx kalau kau tau memang kau akan memberikan apa yang aku mau? tidak kan.." Metta menoleh pada Farrel yang tengah berbaring.
" Aku akan memberikan semua yang kakak mau"ucap farrel lembut. Mereka beradu pandang, sepersekian detik saling menyelisik satu sama lain.
Bahwasanya ada sebuah Takdir diantara mereka.
.
Farrel terhenyak, teringat semua perkataan nya pada Metta saat dulu. Kini bagaimana dia akan membuktikan semua jika restu yang utama tidak dia dapatkan. Farrel mengacak rambutnya dengan kasar, mencoba berfikir dengan jernih namun otaknya saat ini bahkan tidak bisa berfikir, bahkan goresan Sketsa yang dia buat sejak tadi ternyata wajah Metta yang tengah tersenyum.
Restu tetap lah yang pertama, apapun akan dilakukannya agar Farrel mendapat restu dari orangtua nya terutama sang bunda.
" Aku tidak boleh menyerah mendapat restu Bunda, bunda harus tau kalau kakak adalah orang yang tepat untukku." gumam Farrel dengan memandang Sketsa yang dia buatnya.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, meski terkadang cara mereka pun tak selalu benar, begitu pun dengan Ayu. Ingin melihat anak kesayangannya hidup bahagia, dengan memastikan dengan siapa dia dekat. naluri ibu tidak pernah salah, namun adakalanya juga tidak selalu benar.
" Dan aku harus buktikan ucapan ku sendiri pada kakak"
Farrel menganggukkan kepalanya" Aku tidak akan menyerah untukmu ka." lirihnya kemudian.
Namun restu tetap yang utama.
Farrel meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja dekat ranjangnya, mencari kontak kekasih yang beberapa jam yang lalu baru juga bertemu.
💬"Kakak sudah tidur?"
💬" Sudah😋"
💬" Kakak!"
💬" Kenapa?"
💬" Apa kakak merindukanku?"
💬" Kita baru saja bertemu "
💬" Tapi aku sudah rindu kakak.. heuheu"
💬" Kau ini!"
💬" Kakak tau apa yang membuatku bahagia?"
💬" Menang doorfresh, payung cantik, buy one get one, mmp apalagi ya🤣"
💬" Bukan, kakak !!"
💬" Ya sudah jawab sendiri kalau gitu"
💬" Tau ahk kakak selalu merusak moment keromantisanku!!😩 "
💬" 🤣🤣 yaa sudah apa?"
💬 " Gak jadi, kakak menyebalkan"
Farrel melempar ponsel nya ketengah ranjang, "Menyebalkan" gumamnya dengan tersenyum. Sikap Metta yang tidak suka berbasa basi itu lah salah satu yang membuat dia semakin menyukainya, meski sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
Dreet..dreeet..
Ponsel Farrel berdering, Farrel melihat layar ponsel menampilkan "Kakak❤" yang memanggil. Farrel terkekeh sambil memandang layar ponsel yang masih berdering mengulur waktu mengerjai kekasih ketusnya itu.
" Farrel ayoo angkat" gumam Metta dengan ponsel menempel ditelinga, panggilan nya belum diangkat juga oleh siempunya.
" Masa gitu aja ngambek dasar bocah"
" Hallo, kenapa?"
" Kamu marah?"
"Sabar Sha, sabar " Metta memejamkan matanya.
" Masa gitu aja marah" suara Metta berubah lebih lembut sambil mengurut dada. " Astaga"
" Kakak sih nyebelin" Farrel mulai merajuk.
" Tahan Sha," suara hati Metta.
" Iyaa... maaf yaa" akhirnya meluncur juga dari mulutnya.
Farrel tersenyum dengan lebar menahan tawanya agar tidak terdengar.
" Ayo, Sha yang lain biar dia seneng" Metta mencoba berfikir.
" Kenapa kakak minta maaf" Suara Farrel datar.
" Sayang maafin aku yaa" Farrel tertawa lebar mendengarnya.
" Kakak bicara apa?, aku tidak dengar" Dengan senyuman yang semakin lebar penuh kemenangan karena berhasil mengerjai kekasihnya itu.
" Ayo Sha lebih lembut lagi" batin Metta.
" Sayang..aku minta maaf" ucap nya dengan lebih lembut.
" Astaga, bocah ini" memejamkan matanya,
" Coba ulangi lagi, tidsk jelas" Farrel terkekeh.
Sementara Metta memejamkan matanya.
" Ayo Sha kamu bisa"
" Sayang"
" Ulangi 3x"
" Sayang..sayang..sayang" Metta mulai menghentak hentakkan kakinya dengan kesal.
Kini terdengar suara tawa dari ujung sana," kakak menggemaskan sekali,aku ingin kesana sekarang juga" Farrel tak kuat menahan tawanya.
" Heh, kau ini mengerjaiku yaa" suara Metta mengeras, namun dia kembali menutup mulut dengan tangannya.
" Aku kesana sekarang yaa, aku ingin peluk kakak, aku ingin mencium kakak yang menggemaskan ini"
" Tidaak..tidaak jangan" Cegah Metta buru buru.
" Kakak kenapa selalu menggemaskan, bikin aku makin cintaaa sama kakak" Farrel terkikik.
" Kamu ini yang nyebelin, gak ada bosen nya ngerjain aku"
" Ayo panggil aku seperti tadi"
" Dasar gila" Metta memutuskan panggilan nya sepihak dengan kesal, namun senyuman tak kalah terbit di bibirnya.
" Bocah tengil mengerjaiku" masih dengan senyuman mewarnai wajahnya.
Farrel tertawa dengan berguling di atas ranjang," bagaimana aku tidak menyukainya jika kakak menggemaskan seperti itu" Gumamnya.
" Ah, aku ingin kesana, ingin kupeluk terus ku cium muah..muah..muah" Farrel mencium guling yang dia dekap dengan erat.
"Heh, anak nakal ngapain loe, gak waras loe" ucap Alan diambang pintu.
" Sialan lo, sejak kapan loe disitu gue gak liat loe masuk"
" Lewat lubang kunci" ketus Alan, Farrel melempar guling ke arah Alan.
" Ada apa?"
" Turun lo sekarang, makan malam udah ditungguin ayah sama bunda."
" Gue gak laper, duluan aja gue masih kenyang"
" Habis makan cinta lo, kenyang segala"
"Sialan lo, sirik aja loe gak tau rasanya jatuh cinta gimana"
"Makanya gue gak mau jatuh cinta" Alan mengerdikkan bahunya.
" Terserah, yang pasti loe bakal menyesal karena gak ngerasain hati ini bahagia" Farrel merentangkan tangan nya di atas ranjang.
"Menjijikan" tukas Alan melempar kembali guling ke arah Farrel, kemudian berlalu keluar dari kamar Farrel.
" Bener bener ya jatuh cinta bikin bisa lupa segalanya, bahkan rasa lapar sekalipun, benar benar gila" gumam Alan menuruni anak tangga.
Sebenarnya Farrel ingin bercerita perihal bunda yang menentang hubungannya dengan Metta pada Alan, namun diurungkan nya. " Mungkin nanti kalau aku butuh bantuan aku pasti cerita sama lo lan" tukas Farrel saat Alan berlalu dari sana.
"Aku tidak akan menyerah " ucapnya mantap.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen disetiap Babnya yaa, biar aku tambah semangat 💪. Jangan lupa Rate 5 dan masukin karya ini di Fav kalian yaa❤
Makasih😘😘