
"Wah..wah ternyata ada yang pacaran disini"
Metta dan Farrel menoleh bersamaan kearah belakang.
" Doni..?" Seru Metta.
" Sialan lo, gue kira siapa"
" Emang lo pikir siapa?Tasya,?" sahut Doni dengan menarik kursi tepat disebelah Metta.
" Hai kakak Sha " Doni melambaikan tangan nya pada Metta meski jarak mereka tidaklah jauh.
" Hai Don.."sahut Metta.
" Cx dah gue bilang jangan panggil dia kakak" Farrel berdiri kearah Doni yang hendak duduk, mendorongnya agar menjauh dari Metta.
" Cx pelit amat,"
" Lo harus tau sekarang kakak Sha pacar gue!"
" Shombong amat, gak sekalian lo umumin sono pake toa mesjid biar semua orang tau"
" Wah mbak cantik udah punya pacar toh sekarang, pantesan dari tadi masnya nabokin lalat mulu..hihihi" ujar Joko menyambung pembicaraan mereka.
" Wah..wah..bener bener yaa loe rel ta api"
Doni tak mau kalah dengan Farrel, mereka saling membalas satu sama lain membuat Metta bergeleng kepala.
Tak lama kemudian,
" Hai semua, wah pada ngumpul sini juga ternyata"
Mereka bertiga menolehkan kepalanya ke arah suara, melihat Tasya yang datang dengan cantik, dengan hanya memakai atasan sabrina dan juga rok pendek diatas lutut.
" Ngapain lo disini?" ucap Farrel seketika melihat Tasya, dia tak mau kejadian kesalah pahaman tempo hari terjadi lagi dan akan membuat hubungan nya dengan Metta yang baru menjadi berantakan.
" Rubah kecil datang lagi" batin Metta dengan menatap jengah ke arah Tasya
" Lho kenapa, ini tempat umum kan! aku boleh donk kesini juga" sahut Tasya dengan mengerlingkan mata nya sinis ke arah Metta.
" Tumben aja lo ada disini, lo kan gak suka tempat seperti ini" Doni ikut penasaran dengan apa yang Tasya rencanakan kali ini.
Tasya mengerjapkan matanya, dia memang tidak suka berada disini, namun saat melihat mobil Farrel keluar dari mall, Tasya terus mengikuti nya dari belakang tanpa di curigai, menunggu moment yang pas dengan pura pura bertemu di tempat ini.
" Enggak, kata siapa gue gak suka tempat ini? ini tempat langganan ku tau" ucap nya." Ya kan mas" lanjutnya lagi ke arah Joko yang tengah melayani beberapa pembeli.
" Hah, iyaa.iyaa" Jawab Joko asal, "Iya aja dah, biar cepet" batin Joko.
" Tuh kan lo semua denger, kamu juga kan Farrel" Tasya menatap Farrel dengan nanar.
" Terserah," ucap Farrel.
Tasya menghempaskan tubuhnya di kursi plastik berhadapan diantara Farrel dan Metta, dengan gayanya yang manja, Tasya berusaha mengambil perhatian Farrel.
" Kalo kita bertemu disini, berarti mungkin kita bisa saja berjodoh," ucap nya manja.
" Loe gila," ucap Farrel.
" Lagian jodoh itu harus nya sepadan, bukan nya nyari yang diatas kamu El," sinis nya pada Metta.
Metta berusaha menahan diri, dia tidak ingin mencari keributan apalagi ditempat umum.
Farrel terlihat mengepalkan tangan nya, hendak berdiri namun dengan segera Metta menggenggam tangan Farrel dan menahannya.
Farrel menoleh kearah Metta yang menggelengkan kepalanya.
" El bukain," ucapnya saat membuka botol sambal.
" Cx, begini saja tidak bisa" Metta tiba tiba merebut botol sambal itu dari Tasya, membuat Tasya sontak terkaget, dan Farrel pun tak kalah tersentak dengan apa yang dilakukan Kekasihnya itu.
" Nih, jadi perempuan jangan manja," Ucap Metta dengan ketus.
"Gue harus cabut apa tunggu yaa, bakal ada perang dunia ke 3 ini sih" batin Doni melihat diantara dua perempuan di depannya.
" Cx, gak usah sok baik deh KAKAK" ucap Tasya tak kalah ketus.
" Nih aduk dulu, habis itu pake sambelnya yang banyak biar tambah seger" ucap Metta tiba tiba, memberikan botol sambal pada mangkok Tasya dengan sengaja.
"Lo gila" ucap Tasya dengan kasar, seakan ingin menerkam Metta
Metta mengangguk, melihat Farrel yang tengah tersenyum padanya. Tak sedikitpun melihat ke arah Tasya yang sudah terlihat jengah.
Metta menyuap kembali makanannya dengan santai, tidak perduli keberadaan Tasya.
" Tuh bibir kakak belepotan lagi" ucap Farrel dengan lembut.
Metta menoleh ke arah Farrel yang tengah mengelap bibirnya.
Dengan kesal Tasya beranjak dari duduknya dan menggebrak meja. Kemudian berlalu pergi begitu saja.
" Kita lihat saja nanti, kupastikan kalian menderita" ucapnya saat memasuki mobil dan menancap gas dengan cepat.
" Sialan,bikin kaget gue aja.."
Farrel dan Doni terkekeh melihat Tasya yang pergi dengan amarah nya. Sementara Metta merasa semua akan semakin rumit kedepan nya.
.
.
" Bagaimana sudah kau dapatkan?" ucap Arya ketika tengah berada diruang kerja bersama dengan Alan.
" Sudah yah" Alan menyerahkan amplop kuning pada sang Ayah.
Arya membuka amplop kuning itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto dan beberapa berkas lainnya. Arya membaca nya dengan seksama, terlihat kepalanya terangguk angguk dan 2 jari tangan yang mengetuk meja.
" Apa informan mu tidak salah?" tukas Arya.
" Kenapa memang nya yah?" Alan menoleh.
" Apa usianya benar disini?" Arya bertanya dengan heran,, dengan menaikkan satu alisnya ke atas.
" Enggak yah memang itu benar, dia jauh lebih tua dari pada El."
" Bocah itu, apa tidak bisa mencari yang sepadan," Arya mengernyit,bergumam tak jelas entah apa, "Emmp tapi memang menarik"meneliti lembar demi lembar foto.
" Apa yang menarik yah?" selidik Ayu yang baru saja membuka pintu.
" Ini bun" Arya memberikan amplop dan selembar foto pada sang istri.
" Siapa ini yah?" Ayu menatap Arya dengan heran, kemudian beralih menatap Alan.
" Lan, siapa dia" tanya Ayu kembali pada Alan, karena sang suami tidak memberikan jawaban.
" Dia, dia perempuan yang mungkin saja sedang dekat dengan Farrel bun" ucap Alan hati hati.
" Dekat?"
"Iyaa bun," jelas Alan dengan menggaruk kepalanya.
" El tak pernah bercerita dia dekat dengan seorang wanita, apa dia teman El di kampus,"
" Bukan bun, dia karyawan kita" ucap Arya.
" Hah, karyawan kita! maksudnya dia sudah bekerja gitu?" Ayu memijat lembut keningnya." Jadi dia lebih tua dari El? Astaga..."
" Dia wanita baik dan kinerja nya juga bagus " Alan mengeluarkan pendapat yang memang di akui benar adanya.
" Tetap saja, bagaimana dengan kehidupan nya nanti " seru Ayu secara menenggak cangkir berisi teh.
" Bun, itu kan bunda bikin untuk Ayah?"
" Ah iyaa, bunda lupa yah!" ucap Ayu dengan datar.
" Bunda ini terlalu jauh memikirkan nya, siapa tahu El hanya main main, iya kan lan" Arya mengambil cangkir teh dihadapan Alan.
" Soal itu Alan tidak tau pasti yah, bun, tapi Alan akan mencari tahunya." sahut Alan, pandangan mata nya tertuju pada cangkir yang berpindah tangan.
" Tapi bunda tak mau punya menantu lebih tua yah," rengek bunda.
"Bunda ini hanya mempersalahkan tentang usia, padahal masih banyak kelebihan nya, nih contohnya dia berhasil menangani masalah managemen perkebunan kita, dan beberapa proyek lainnya juga."
" Tetap saja yah, nanti ujung ujungnya juga akan dirumah mengurus anak" Ayu bersikeras.
" Terserah bunda saja, yang pasti El pasti akan membela nya kalau bunda keberatan"
Ayu menghentakkan kakinya, dia tau hal itu mungkin akan terjadi.
.
.
Jangan lupa like ,komen, rate 5 nya juga yaa🤩🤗
Maaf juga yaa lham lagi susah dicari, wkwkwk
jadinya up nya kadang pagi kadang siang kadang suka suka saya😪😪
Semoga kedepan nya bisa lebih teratur yaa..
Makasiih😘