Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bodoh kau Doni


Metta menarik tangan sahabatnya, menjauh dari sana, mereka berjalan ke meja kerja Dinda.


"Kamu serius lihat mereka?"


Dinda mengangguk, "Dan kau tahu? Berita hangat yang lagi top tranding? mereka ada main dibelakang!" ujarnya dengan menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.


"Apaan sih, suka ngaco! Masa Doni sama Tiwi? Astaga...."


Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan Tiwi padaku? meminta tips untuk mendapatkan pria lebih muda tempo hari? Apa ini ada hubungannya dengan Doni? batin Metta mengingat pertanyaan Tiwi padanya.


"Sha, kamu tahu kan Tiwi seperti apa? Mendingan kamu bilang sama suamimu, biar dia mengingatkan Doni, kok perasaan aku tidak enak," ujar Dinda dengan mendudukan dirinya di kursi.


"Entahlah, aku tidak suka berurusan dengan masalah orang lain,"


Dinda berdecak, "Kau ini... gak kasian apa sama Doni? Dia mungkin tidak sepolos suamimu, tapi aku gak tega aja, kamu tahu kan gimana si Tiwi Itu,"


"Kenapa kamu tidak bertanya pada kekasih mu!"


Dinda terdiam, lalu mendongkakkan kepalanya, "Beda jalur, Doni kan asisten suamimu, sekaligus sahabatnya. Suami berondongan itu pasti tahu sesuatu."


"Dia bilang Doni sedang mengurus sesuatu masalah, tapi gak bilang masalah apa!" ujarnya dengan mengerdikkan bahu.


"Eh, udah deh aku kesini mau ngajakin kamu!" pungkas nya lagi.


"Kemana?"


.


.


Doni


Siang itu langit terasa runtuh, bumi pun terasa keluar dari porosnya. Doni terhenyak saat Tiwi menghampirinya dikantor dan memberikan kejutan luar biasa untuknya.


"Apa ini?" tanya Doni dengan memegang benda pipih dengan dua garis merah. yang baru saja dilempar kan Tiwi di meja kerjanya.


"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu!" sentak Tiwi yang masih berdiri.


Doni menarik lengan Tiwi, "Aku tidak punya waktu bermain-main dengan mu, katakan saja langsung ini apa?"


Fikirannya melayang, kedua tangan Doni bergetar, begitu juga dengan kakinya, menunggu jawaban dari bibir Tiwi.


"Aku hamil!" ujar Tiwi dengan kepala tertunduk.


Bak dihantam batu besar, seketika dunia terasa gelap, nafasnya tiba-tiba sesak seperti hantaman batu menghimpitnya hingga sulit bernafas.


"Kau jangan sembarangan bicara, kita hanya melakukannya sekali! Dan bukan hanya dengan aku saja, kau melakukannya bukan?"


Plak


Tiwi menampar pipi Doni dengan keras, dadanya bergemuruh, dengan tangan mengepal,


"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku masih punya harga diri! Aku jelas melakukannya terakhir hanya denganmu!"


"Dan kau yang memaksaku! Kau ingat kau yang memaksaku!" lanjutnya lagi.


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi, jika kau tidak mau bertanggung jawab Doni! Kau dengar itu."


Tiwi lantas pergi, meninggalkan Doni yang hanya mematung bak tersambar petir, wajah kedua orang tuanya tiba-tiba berkelebatan di kepalanya.


Dasar bodoh kau Doni, benar-benar bodoh.


Duniaku seketika hancur, apa yang harus aku lakukan, ini benar-benar gila.


'Aaahhhkkkk...." gumamnya dengan meremas benda pipih dengan dua garis merah itu lalu pergi dari sana.


Tiwi yang melihat ke arah Doni dengan tatapan menyalang, "Kita lihat Doni, apa kau bisa menghindar, dan aku akan menggunakan anak ini sebagai satu-satunya cara terbaik."gumamnya.


Doni berjalan lalu masuk begitu kedalam ruangan kerja Farrel. Menatap sekilas ke arah Farrel yang tengah berkutat dengan beberapa berkas. Lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa.


Dia mengacak rambut nya, pikirannya menjadi tak karuan, berkali-kali dia menghembuskan nafasnya panjang.


"Kau kenapa?" Tanya Farrel yang merasa heran oleh tingkah laku sahabatnya itu.


Doni menggelengkan kepalanya berulang kali. "Gawat Rel ... gawat!"ujarnya semakin panik.


"Apaan sih, kenapa? ada masalah apa?" ujar Farrel yang langsung ikut menghempaskan dirinya disamping Doni.


"Tiwi hamil," lirihnya.


Hah


"Dia mengatakan kalau itu anak ku!" imbuhnya lagi.


Doni menundukkan kepala, penyesalannya datang terakhir, terus-terusan merutuki diri.


"Bodoh sekali kau! Aku sudah mengatakan padamu berulang kali, dia itu wanita licik!" ucap Farrel geram.


Doni terus menunduk, dia tidak menyangkalnya, namun saat ini bukan itu masalahnya. Akan semarah apa orang tua nya jika mereka tahu.


"Apa yang harus aku lakukan Rel?" lirihnya.


"Bertanggung jawablah sebagai seorang pria, kalau memang benar-benar anakmu!"


"Tapi aku tetap tidak yakin! Kau tahu kan dia? Bagaimana jika dia menipuku?" tanya Doni.


"Kau ternyata lebih bodoh dari yang aku kira."


"Dia akan melaporkan ku, kalau aku tidak mau bertanggung jawab."


"Kalau begitu, kau ikuti dulu apa mau nya! selagi kita mencari tahu kebenarannya."


"Tapi kau harus siap dengan semua konsekwensi dari perbuatanmu itu!" tambahnya lagi.


"Dasar bodoh! Otakmu tidak digunakan dengan baik!"


Doni terdiam, Farrel terus saja memakinya,


Dreet


Dreet


Ponsel Doni bergetar didalam sakunya, dia merogohnya, lalu berdecak, saat tahu Tiwi yang melalukan sambungan telepon nya.


"Angkat...! Kau membuat telingaku sakit."


.


.


Terima kasih untuk semua yang masih setia mengikuti kehaluanku, makasih juga untuk doa-doanya❤❤