Berondong Manisku

Berondong Manisku
Lebih penting dari ujian negara


Nissa berbalik arah dengan terseok, bahkan dia tersandung kaki-kaki meja makan. Dia masuk ke dalam kamar Andra, dan menutup pintu kamar dengan keras.


"Bang...!" Seru Nissa dengan tangan gemetar.


Andra yang tengah memakai head phone, tentu saja tidak mendengar panggilan adiknya, dia yang tengah bermain game diponselnya sontak kaget saat Nissa menepuk bahunya keras.


"Bang....!" Nissa kembali berteriak.


Andra gelagapan, ponsel yang tengah berada dalam di tangannya hampir saja terjatuh, "Apa sih! Ganggu aja,"


Nissa membuka paksa head phone dari Kepala kakaknya, lalu meletakkan nya diatas meja.


"Aku mau ngomong, ini soal penting, bahkan lebih penting dari pada Ujian Negara."


Andra menaikkan satu alis miliknya, "Apa, kamu mau ngomong apa?"


"Kalau tidak penting, awas saja!" imbuhnya jadi dengan tangan yang dikepal lalu di tiup dengan mulut terbuka.


Hah ... hah... Hah


Nissa duduk ditepi ranjang, dengan kedua tangan yang melipat-lipat ujung baju yang dikenakannya, lalu kembali berdiri mondar-mandir.


"Itu ... aku mau ngomong kalau tadi...."


Kedua bola mata Andra sibuk mengikuti pergerakan dari adiknya, terlihat cemas,


"Apa sih, gak jelas banget! Udah deh, mending kamu keluar, cuci kaki lalu masuk kamar. Tidur!?" ujar Andra yang mendorong adiknya keluar dari kamar.


"Bang, aku mau ngomong. Dan ini penting!" ucap Nissa dengan berpegangan erat pada pintu, saat Andra menutup pintunya.


"De ....?Kenapa?" tanya Metta saat melintas didepannya.


Metta menatap Nissa begitu pun sebaliknya, namun Nissa jadi salah tingkah sendiri. "Eng--nggak kak, gak apa-apa."


Lalu beralih menatap Farrel, kembali lagi manik hitamnya menatap sang kakak. "Nissa mau ke kamar saja!"


Metta menoleh kearah Farrel, "Sebaiknya aku bicara pada Nissa, kamu duluan saja kalau mau ke kamar!"


Farrel mengangguk, " Iya, maaf ya sayang...."


Metta kemudian menyusul Nissa ke kamarnya, dengan ragu-ragu dia mengetuk pintu kamarnya, lalu membukanya lebar. Dia masuk kedalam kamar, menatap kearah Nissa yang tengah duduk di kursi belakangnya.


"Niss...." ujar Metta dengan menyentuh bahunya.


"Kau Sha mau minta maaf, kare--karena kecerobohan yang kak Sha dan abang tadi."


Nissa menatap nya dengan tatapan penasaran. "Ahk... kakak gitu sih, mataku kan jadi ternoda!" ujarnya lemah.


"Kakak juga tidak sengaja de, maaf yaa!"


Metta yang juga salah tingkah, tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada adiknya itu. Dia hanya mengusap bahunya lembut, lalu keluar dari kamarnya.


Nissa mengerdikan bahu, "Kak Sha kenapa harus minta maaf segala coba! Aku tahu itu adegan dewasa, tapi kan kalau lihat di film kan suka ada sensor nya, kalau yang barusan ... astaga!!"


.


.


Farrel membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang tidak terlalu besar namun masih cukup untuk berdua itu dengan menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Metta masuk kedalam dan langsung menatap nya.


"Kakak sudah selesai bicara dengan Nissa?"


Metta mengangguk, "Sudah, tapi aku tidak berkata-kata,"


Farrel mengangguk, " Nissa pasti mengerti."


Metta duduk ditepi ranjang, "Iya tapi bukan berarti kita bisa bebas melakukannya."


"Iya... Maafin aku yaa!" ujar Farrel yang mengulurkan tangannya.


Metta menoleh, dan meraih tangan Farrel yang Kini tertaut dengan jari nya.


"Naiklah, kita tidur."


Metta naik dan membaringkan tubuhnya disamping Farrel, menjadikan lengannya menjadi bantal dan menyusupkan kepalanya di dada bidangnya.


Farrel memijit pelan punggung dan bahu Metta dengan nyaman,


"Tidur lah, jangan memikirkan hal itu lagi!"


Metta mengangguk kecil, rasa nyaman dari pijatan lembut Farrel membuatnya semakin mengantuk, hingga akhirnya dia benar-benar terlelap.


Farrel mencium pucuk kepala Metta, dan menyusul nya kedalam alam mimpi.


.


.


Keesokan pagi.


Sinar mentari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela menyilaukan sepasang netra cokelat yang kini tengah mengerjap-ngerjap, Farrel meraba-raba ranjang samping yang kini terasa dingin.


Namun sosok yang dicari tidak ada disana, hanya terdengar riuh khas keluarga diluar kamar. Suasana yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Farrel membuka pintu kamar namun kembali menutupnya.


"Kak, bayi mu sudah bangun tuh!" ujar Andra terkekeh, saat melihat sekilas pintu kamar terbuka tapi kembali tertutup, saat akan keluar dan memanaskan mesin motornya.


"Andra!!" sentak sang ibu dari meja makan.


"Bayi?" gumam Nissa dengan sekelebat bayangan tentang apa yang dia lihat semalam.


"Sudah tidak usah ikut-ikutan!" Ibu Sri menyenggol lengan Nissa.


"Aku cuma bilang bayi bu! Memangnya kenapa?"


Ibu Sri menggelengkan kepalanya, "Sudah tidak perlu dibahas lagi omongan abangmu yang ngawur itu."


Andra tergelak lagi saat kembali kedalam rumah dan melewati kamar kakaknya. Membuat Metta membulatkan mata kearahnya, lalu masuk kedalam kamar. Melihat Farrel yang kembali masuk kedalam selimut.


"Kakak, aku mencarimu dari tadi!"


"Aku tidak kemana-mana! lagian mencariku itu tidak susah, palingan aku di dapur." ujar Metta terkekeh.


"Lagian kamu kenapa? Dirumah ini tapi malah semakin manja, ayo bangun, bukankah hari ini kita akan pulang?"


Astaga, aku lupa bilang kalau hari ini aku akan langsung masuk kantor.


"Kak ... aku harus ke kantor hari ini! Ada meeting yang tidak bisa di handle oleh Alan, dan juga sudah tidak bisa di reschedule lagi."


"Iya gak apa-apa, lagi pula kamu sudah terlalu lama mengambil cuti kan? Pasti pekerjaan mu makin menumpuk." ujar Metta dengan membereskan baju yang akan dibawanya.


Farrel beranjak dari ranjang dan memeluk Metta dari belakang, "Makasih sayang, Jadi kamu mau disini dulu, nanti aku jemput atau pulang ke apartemen langsung."


Metta membalikkan tubuhnya, "Aku ikut ke kantor yaa, aku ingin bertemu Dinda, dan memberikan oleh-oleh untuknya."


"Ya udah kalau gitu, tapi hanya ketemu Dinda saja kan?"


"Memang mau ketemu siapa lagi?" melepaskan tangan Farrel yang melingkari perutnya. Lalu berjalan mengambil handuk dari lemari.


Farrel terkekeh "Gak ikut aku meeting sekalian?"


"Enggak, udah sana mandi!" ujarnya dengan melilitkan handuk di bahunya.


"Cium dulu baru aku mandi!"


"El ... ih!"


Farrel mengulum bibir. "Cium disini atau cium diluar? Tinggal pilih ...."


"Farrel, gak lucu tahu gak!" sungut Metta.


"Aku hitung sampai tiga, atau kita keluar lalu aku cium kakak di meja makan." Farrel menaik turunkan kedua alisnya.


"Satu...."


Metta mendongkak dan mencium kilat bibir Farrel, "Tiga ... dah sana mandi!" ujarnya mendorong bahu Farrel hingga keluar dari kamar dengan tergelak.


Kakak gampang banget dikerjain, mana berani aku menciumnya di depan Ibu, mana ada Nissa lagi disana.


"Pagi bu, pagi Nissa...." ujarnya saat melewati ruang makan.


"Pagi nak." jawab Ibu Sri.


Sementara Nissa hanya mengangguk karena mulutnya tengah penuh dengan roti yang jadi sarapannya.


.


.


"Sudah siap semua?" ujar Farrel pada Doni saat mereka berjalan keluar dari rumah.


"Semua siap dari seminggu yang lalu, semua tinggal menunggu kamu saja!" ujar Doni membuka pintu mobil.


Farrel membiarkan Metta masuk terlebih dahulu, lalu dia menyusul setelahnya.


Mac melajukan mobil dari sana, membelah jalanan yang lumayan ramai, namun tidak ada hambatan yang cukup berarti hingga mereka sampai di kantor dengan cepat.


Farrel membuka pintu, dan mengulurkan tangan pada Metta, yang ikut keluar.


Mac yang sudah berada di samping pintu urung membuka pintu sebelah kiri. Doni menatap Mac, dengan menggelengkan kepalanya.


Doni tergelak, "Mac besok bawa mobil yang pintu belakangnya hanya satu! Rasanya percuma tiada guna, mereka selalu masuk di satu pintu yang sama."


"Ayo bekerja ... jangan banyak ngomong!"


Dreet


Dreet


Ponsel Doni berdering didalam saku, Doni merogohnya lalu menatap layar ponsel dengan nomor yang tidak dikenalnya. Doni berjalan dengan telepon menempel,


"Kak Doni, awas yaa ingkar janji terus! Pokoknya nanti siang wajib ...."