
Doni menepis jari Tiwi yang tengah bermain kancing, dengan sengaja memancing darah nya mendesir. " Aku harus pergi."
"Temui aku malam ini atau...."
Glek
Tiwi semakin mendekatkan wajahnya dengan menggigit sedikit bibir bagian bawahnya.
"Tiwi, jangan kurang ajar!" ucap Doni menepis tangannya.
"Siapa yang pertama kali menggodaku? Siapa yang pertama kali kurang ajar? Kau atau aku!?" ujarnya kemudian.
"Kau memang gila,"
Tiwi tergelak, "Kau baru tahu? Sayang sekali,"
"Mungkin aku terlalu cepat lahir di dunia ini daripada mu, tapi aku yakin ini akan berhasil! Bagaimana kalau kita berkencan secara resmi?"
"Jangan mimpi Tiwi, lupakan apa yang terjadi kemarin, itu sebuah kesalahan!" sentak Doni.
Tiwi tergelak, "Mimpi? Kau tidak ingat temanmu yang berkencan dengan seorang wanita yang aku benci? Dan apa tadi ... kesalahan? Kau bilang itu kesalahan? Tapi kau menikmatinya kesalahan itu juga bukan?"
Perempuan ini benar-benar gila, aku menyesal bermain api dengannya. Rasanya melihatnya saja aku sudah muak, bagaimana jika aku berkencan dengannya, menjadi pacar seorang ja lang. Astaga, aku benar-benar menyesal. Batin Doni.
"Sudah lah aku mau pergi."
Doni berlalu meninggalkan Tiwi, dia masuk kedalam ruangan dan mere mas rambutnya dengan kasar.
"Seharusnya kau tidak berbuat ulah!" Ujar Alan dengan dingin, tanpa menolehkan kepalanya.
Doni terkesiap, "Maaf...."
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh Don!!" ucap Mac yang muncul entah dari mana, membuat Doni kaget selaigus menunduk pada waktu bersamaan.
"Ini karena tugas yang aku terima tempo hari, demi mendapat info, aku harus mendekati wanita itu."
Alan menghempaskan pulpen dari jadinya, "Masalah nya bukan pada tugasnya, melainkan dirimu sendiri yang berfikir bodoh."
"Apa jika aku memberimu tugas untuk menghabisi seseorang, lantas kau akan bermain-main dengan seseorang itu? Bodoh!!" imbuhnya lagi.
Doni menghempaskan tubuhnya, " Lalu aku harus bagaimana?"
"Selesaikan masalahmu secepatnya!Jangan gara-gara hal itu, pekerjaan mu jadi berantakan." ujar Alan dengan dingin.
Mac hanya bergeleng kepalanya heran, "Otakmu harus diservise, agar tidak lagi memikirkan hal-hal bodoh seperti ini lagi."
Doni terdiam, dia menundukkan kepalanya. Lalu menghela nafas berat. Fikiran sialan, gara-gara terpancing ucapannya yang membuat aku tidak berfikiran panjang kedepan. be go....
'Kau masih terlalu kecil, aku tidak bermain dengan anak-anak.'
Ucapan Tiwi tempo hari yang kembali terngiang dikepalanya.
Sial ... sial ... sial
.
.
Doni kini terduduk di salah satu kursi di sebuah cafe yang cukup terkenal. Dia menunggu seseorang yang bisa diajaknya mengobrol.
"Hai Don.... maaf aku terlambat!
Doni bangkit dari duduknya, " Tidak apa-apa Sya, maafkan aku yang mengajakmu keluar begini. Padahal kandungan mu sudah semakin membesar."
Doni menarik kursi untuk Tasya, "Terima kasih,"
Tasya duduk di kursi yang baru saja ditarik oleh Doni, "Sepertinya ada masalah penting sampai harus pergi ke cafe dengan jarak yang lumayan ini."
"Iya karena kamu tengah hamil, jadi semua tampak jauh dan melelahkan."
Tasya terkekeh dengan mengusap perutnya. "Iya mungkin juga yaa, atau mungkin karena aku tidak pernah keluar rumah semenjak aku hamil."
"Jadi ada apa nih? Tiba -tiba gak angin, gak ada hujan!"
Doni menghela nafas, "Aku ada masalah seriuse, dengan sepupumu."
Doni menceritakan semua nya dengan jelas, dia bahkan menceritakan kesalahannya pada malam itu.Membuat Tasya terperangah tak percaya.
"Kau serius? Kau melakukannya dengan Tiwi?"
Doni mengangguk, "Malam dimana setelahnya aku datang ke rumahmu dan baru tahu kalau dia sepupumu."
Tasya menggelengkan kepalanya, "Usia nya saja jauh dari mu, dari kita! Aku gak habis fikir sama kalian pria- pria setengah matang? Kenapa menyukai wanita yang sudah dewasa."
"Dulu Farrel yang berusaha keras mencari perhatian, meski sekarang mereka sudah menikah! Dan sekarang kau? Astaga..."
"Dengan kasus yang berbeda dan menurutku ini sangat gila!!"
"Hei, aku tidak menyukainya yaa! Aku hanya... ah kau juga ternyata tidak mengerti Sya."
Hening
Mereka tidak ada yang berbicara satu sama lain. Tenggelam dalam fikirannya masing-masing.
"Sebenarnya dia itu baik, tapi hanya karena masalah keluarga, dia berubah menjadi pribadi yang menyebalkan." Ungkap Tasya memecah keheningan.
"Dan setahu ku dia mencintai Eric, pria yang membuatku hamil. Tapi...."
"Rumit sekali ... dan jujur aku tidak ingin terlibat apapun dengan nya lagi sekarang, kau tahu dia itu ja lang!"
Tasya memukul bahu Doni keras, "Hei ... Kau sedang menjelek-jelekkan sepupuku, teman macam apa kau ini!?"
Doni meringis, "Pukulan ibu hamil ternyata kuat sekali. Dulu perasaan kau tidak bar-bar begini!"
Tasya tergelak, "Waktu sudah berubah Don, kita tidak bisa terus berada di masa lalu bukan?"
"Kau masih mencintainya bukan?" tanya Doni.
Tasya menundukkan kepalanya, "Kau tahu, bahkan saat malam itu terjadi, aku mengira melakukan nya dengan dia, bodoh sekali bukan?"
"Semakin aku berusaha melupakannya, semakin aku tidak bisa! Tapi mau bagaimana lagi, hidup terus berjalan bukan? Dia sudah bahagia sekarang, lantas kenapa aku masih diam di tempat. Aku sudah kalah sebelum bertanding."
"Tunggu sebentar! Kenapa jadi kamu yang bicara panjang lebar? Kan yang punya masalah aku Sya."
Tasya tergelak, "Curcor sih dikit!!"
Doni mengernyit, "Curcor apa tuh?"
"Curhat colongan!!" ujar Tasya dengan semakin tergelak dan memegangi perutnya.
Doni pun menggelengkan kepalanya, "Kau ini, sudah seperti ibu-ibu saja!!"
"Oh iya Sya, kenapa kamu tidak mau Eric bertanggung jawab atas kehamilanmu ini? Bukankah harusnya dia menikahimu?"
Tasya menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau menikah jika tidak ada cinta, pernikahan yang hanya dilakukan untuk sebuah pengakuan? Tidak Don, aku tidak mau...."
"Lebih baik aku membesarkannya sendiri, tanpa suami."
Doni hanya terdiam, dia saja tengah dalam masalah. Namun ternyata ada yang lebih rumit dibandingkan dia.
Karena aku juga masih sangat mencintai Farrel, bahkan aku tidak sanggup menggantikan namanya yang sudah lama bersemayam dalam hatiku. Seberapa kerasnya pun aku mencoba. Batin Tasya.
"Tuh kan aku curhat colongan lagi jadinya!!" ujarnya dengan menghela nafas.
Doni terkekeh."Iya, lantas bagaimana denganku? Aku kan sedang meminta pendapatmu, kenapa kau terus yang bercerita."
Tasya, aku tahu kamu pasti terluka.
"Jujur aku tidak tahu harus bilang apa? Tapi jika kamu benar-benar tidak menyukainya, katakan segera! Jangan membuat nya semakin terluka, dia sudah sangat menderita, dan aku ingin dia bisa menemukan pria yang bisa membuatnya berubah dan juga membuatnya bahagia."
"Kau bilang apa? Aku bahkan sama sekali tidak menyukainya. sedikitpun!" ujar Doni dengan cepat.
"Yaa, fikirkan lah saja! Bagaimana jika dia yang mencintaimu dan akan berusaha mendapat kan hatimu, seperti Farrel yang berusaha keras untuk mendapatkan hati istri nya."
Bahkan aku tidak sanggup memanggil nama wanita itu.
Tak lama seseorang masuk dengan tergesa, menghampiri mereka dengan langsung menarik kursi.
"Begitu pun dengan ku...."