Berondong Manisku

Berondong Manisku
Hari Terakhir di negara B 2


"Ya udah, kita kembali ke hotel." Goda Farrel yang membuat Metta kembali membulatkan kedua matanya.


"Kita belum ke satu tempat yang ingin aku kunjungi." ujarnya dengan berkacak pinggang.


"Gemes banget sih Kakak ... aku kan jadi mau!" Farrel terkikik.


Metta mendelik, "Iih ... nyebelin,"


Masih dengan terkekeh, menarik tangan istrinya, "Kita makan dulu sambil nunggu."


Mereka pun menuju restoran, mereka masuk dan duduk menghadap ke arah laut yang membentang, terlihat sangat indah dengan banyaknya turis-turis yang tengah bermain bola maupun volley pantai. Negara ini memang terkenal dengan sepak bola nya yang mendunia.


Seorang waiters menghampiri mereka dengan menyerahkan buku menu.


"Buenas tardes (Selamat sore)"


Farrel mengangguk dengan membawa menu yang diletakkan diatas meja, " Sayang makan apa?"


"Ini sama minumnya ini!" ujarnya menunjuk buku menu.


"Ensalada de frutas y helado(salad buah dan es krim), Bacalla amb samfaina(Ikan cod panggang) y 2 mosto(Fermentasi anggur non alkohol)."


"Vale, espera un momento (Baik ditunggu)"


"Gracias (Terima kasih)"


Waiters itu mengangguk dan berlalu dari sana, Metta menghela nafas,


"Kau sangat fasih berbahasa!"


"Sedikit, kalau percakapan pendek-pendek aku bisa, kalau sudah panjang aku juga bingung." ujar Farrel terkekeh.


Menu makanan mereka datang, makanan yang tidak terlalu aneh di lidah mereka, dan mereka hanyut dalam makanannya.


"Ini enak sekali sayang, cobalah!" ujar Farrel, yang menyendok potongan ikan.


"Aaaa... buka mulutnya."


Metta menyuap, mengunyah, lalu mengunyah, "Benar ini sangat enak, kau pintar memilih hidangan,"


"Tentu saja, pilihan ku selalu luar biasa, sama seperti aku memilih istri bukan?"


Metta menutup mulutnya, "Astaga, kau semakin pintar membual juga. Tapi itu benar! Kau mendapat kan wanita cantik seperti ku."


Farrel tergelak, "Benar sekali, wanita paling cantik berdasarkan Farrel of the records."


Metta ikut tergelak, "Only you."


Mereka tak berhenti tertawa, terus mengumbar kebahagian satu sama lain. Saling menggenggam tangan, menebar senyum di bibirnya.


"Jangan tersenyum terlalu manis, pria disini akan menganggap kakak tertarik pada mereka!" ujarnya membuat Metta bungkam menutup mulut.


"Kau hanya mengada- ngada!"


Kembali tertawa.


Setelah mengisi perut, mereka kembali berjalan. Menuju Kereta api bawah tanah menuju tempat yang mereka tuju.


"Kau pernah kesana?" tanya Metta saat mereka duduk di kursi kereta.


"Belum, hanya saja kawasan itu memang terkenal. Saat aku di kota P, dan ada temanku juga yang berasal dari distrik itu."


"Begitu yah!"


Farrel menarik kepala Metta, "Istirahatlah, kita akan sampai sekitar 30 menit lagi."


.


.


Dan benar saja, saat mereka sampai, orang-orang sudah terlihat memenuhi kawasan yang terkenal dengan air mancur menari. Destinasi wisata air ini sudah ada sejak tahun 1929 dan pertama kali dibuka pada acara Great universal Exhibition.


PerpaduanĀ  antara cahaya yang berwarna-warni, gerakan dari air seolah sedang menari dan juga musik yang mengikuti pergerakan air mancur dan menghasilkan pemandangan yang mempesona.


Namun biasanya hanya pada jam tertentu saja pertunjukan air mancur itu. Farrel melirik jam tangannya,


"Masih ada waktu, kita cari tempat." ujarnya dengan terus menggenggam tangan Metta.


Sampai akhirnya mereka menemukan tempat yang pas, dan melihat pertunjukan itu dengan bebas.


.



.


.


Dan benar saja alunan musik mulai terdengar, pergerakan air mancur menari dan warna-warni yang menyusul nya indah. Membuat penonton juga bersorak , begitu juga Farrel dan Metta. Tepuk tangan terdengar riuh.


"Keren sekali," ujar Metta.


"Hm... padahal negara kita punya, tapi disini lebih berasa karena kita dikelilingi bangunan unik dari berbagai bentuk yang indah."


Metta mengangguk, " Seperti kita berada di zaman romawi." terkikik.


"Seperti itulah, abad-abad kekuasaan yang masih terjaga dengan baik!"


"Seharusnya kita mencoba kostum nya juga..."


"Iya kau ratu nya aku rajanya, ayo kita cari kostumnya."


Mati aku salah ngomong lagi, seharusnya aku tidak mengatakan hal yang akan memancing sifat konyolnya. batin Metta.


"Tidak usah sayang, lagi pula ini sudah malam, kita akan larut malam kembali ke hotel," Metta menarik tangan Farrel hingga kembali duduk.


"Tapi kita belum mencoba kostum!"


"Tidak usah, sudah... Aku sudah jadi ratu tanpa kostum itu!" ujar Metta dengan terkekeh.


"Kakak benar...." Farrel ikut terkekeh.


Ah syukurlah, kenapa aku selalu lupa kalau dia selalu konyol dan melakukan hal yang aneh tanpa difikirkan.


Tak lama mereka pun kembali pulang, perjalanan yang cukup lumayan mereka tempuh untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap, jika berangkat harus naik kereta api, berbeda dengan jalur pulang, harus naik bus lalu taxi atau sekalian menyewa taxi untuk lebih cepat.


Mereka memilih menyewa Taxi, ditambah waktu sudah terlalu larut untuk kembali berjalan menuju pemberhentian bus, hingga mereka memilih opsi kedua, yaitu menyewa taxi langsung menuju hotel.


Perjalanan pun cukup melelahkan, namun semua terbayar karena mereka masih bisa menikmati ruas jalan yang penuh dengan ukiran bahkan pahatan-pahatan yang sudah berabad-abad lamanya.


Lalu melewati bangunan yang mirip dengan kastil-kastil mewah dengan segala arsitektur indahnya. Hingga kedua mata tak kunjung lelah melihatnya.


"Mirip seperti istana vampir," bisik Farrel pada Metta yang terus menatap bangunan mewah dari kaca penumpang.


"Indah sekali," ujar Metta.


Namun Farrel tak terdengar lagi bersuara, Metta menolehkan kepalanya, "Pantesan sepi, dia tidur rupanya."


Metta menggeser tubuhnya hingga menghadap Farrel." Pasti karena kamu lelah." ujarnya kemudian


Metta pun melingkarkan tangannya dilengan Farrel, dan bersandar pada bahunya.


Tak lama kemudian supir membangunkan mereka pelan, dan taxi sudah berada didepan hotel tempat mereka menginap.


"Sayang kita sudah sampai." Metta menepuk pipi Farrel.


Tak lama mereka turun dari taxi dan menyerahkan ongkos pada taxi.


"Gracias...." Ujar Farrel menyerahkan 250 euro padanya.


"Berapa barusan kalau jadi rupiah?"


"Sedikit kok ... ayo masuk!"


"Tunggu dulu, berapa barusan?"


"250 euro...." ujar Farrel dengan menekan tombol lift.


"Astaga, hampir 4,1 juta rupiah?"


"Iya segitu kira-kira...." ujar Farrel menggaruk tengkuknya.


"Kamu menghabiskan banyak uang sayang."


"Tidak masalah, uang dicari untuk dihabiskan bukan?" Ujarnya dengan merengkuh bahu dan masuk kedalam lift.


"Kau ini ... itu boros namanya."


Ting


Pintu lift terbuka, mereka keluar dan langsung menuju kamar mereka,


"Cape yaa?" Ucap Farrel yang baru saja membuka pintu hotel setelah perjalanan sekitar 2 jam lamanya.


"Kaki ku pegal, tapi aku suka! Ini sangat menyenangkan, aku suka jalan-jalan begini daripada berkeliling didalam mall, aneh yaa!" Metta terkikik lalu menghabiskan segelas air putih.


Mengisinya gelas lain lalu di diserahkan pada Farrel, "Kenapa memakai gelas yang berbeda? Aku mau gelas yang sama,"


"Sama gimana, udah beda aja! gelas ini bekas aku! Dikasih yang bersih kok gak mau!"


Farrel memeluk Metta dari belakang, "Aku mau gelas bekas istriku masa gak boleh,"


Metta melepaskan tangan Farrel yang membelit, "Udah iih aku gerah mau mandi,"


Metta berlalu masuk ke kamar mandi, namun sedetik kemudian berbalik lagi, "Jangan coba-coba menyusulku!"


Membuat Farrel tertawa, dan tidak jadi menyusul Metta. "Habis enak, bikin mau lagi- mau lagi...." gumamnya lalu kembali tertawa.