
"El... bagaimana?" ucapnya saat keluar dari fitting room.
Farrel tak bergeming, menatap Metta yang sempurna dimatanya.
"Astaga...ini sih bidadari."
Tak hentinya dia berdecak kagum. Gaun putih yang memperlihatkan bahu dan dadanya, bagian depan pendek memperlihatkan paha yang putih dengan balutan kain sutra dan bagian belakang panjang menjuntai yang dipadukan dengan kain tulle yang lembut dan tampak bergelombang di dikedua sisi.
Memperlihatkan aksen outdoor sebagai wedding theme ( tema pernikahan)mereka. Gaun yang mencerminkan gaya Metta yang cuek serta apa adanya namun tidak meninggalkan kesan mewah dan elegan.
"Apa ini cocok?"
"Perfect... My Cherry!" ucap Farrel seraya mendekat dan melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Cantik banget, aku sampai kelilipan."
"Masa, sini aku lihat matamu?" Metta mendongkak dengan sedikit menjinjit melihat mata Farrel yang kelilipan, namun Farrel malah mengecup kilas ujung bibir Metta dengan sengaja.
"Astaga....sayang!"
Bibir itu yang tak hentinya mengumbar senyum, membuat Farrel kecanduan, ibarat morfin yang ingin terus dia hisap, yang terus ingin dia cecap layaknya madu pertama yang dihasilkan sang ratu lebah.
Farrel mendorong sedikit tubuhnya hingga mereka menghilang diantara gorden fitting room yang menghalangi pandangan para pegawai,
"Aku gak sabar sampai hari itu tiba,"
"Sayang...iih" lirih Metta karena nafas hangat milik Farrel menghembus diantara cuping telinga dan tengkuknya, membuatnya tersengat.
Tanpa berkata lagi Farrel sudah menempelkan benda kenyal itu hingga saling bertautan, melumatt lembut namun dalam dan semakin dalam hingga tak menyisakan satu rongga pun yang luput dari cecapannya, dengan mata terpejam mereka saling merasai, saling meresap dalam dan terus membuai satu sama lain.
Ingin rasanya waktu berputar lebih cepat lagi. Agar bisa menari bersama menembus cakralawa, lalu terbang ke atas nirwana, dan berdiam disana. Atau bergelung dengan ombak gairah hingga tenggelam bersama di puncak samudera dan berdiam disana. Sama-sama memabukkan.
Berada di ruangan tertutup yang dikelilingi gorden yang menjuntai tinggi seperti di fitting room cukup lama akan membuat mereka semakin terlena. Namun beberapa saat kemudian mereka tersadar, bahwa ada yang harus bisa dijaga, untuk nanti saat nya tiba. Menjadi hadiah dari rasa mawas diri dan nafsu yang menguasai. Metta mendorong dada Farrel dengan kedua tangannya, seraya menggelengkan kepalanya. Hingga tautan itu terlepas, lalu saling mendekap satu sama lain.
Dengan dada yang turun naik dan bergejolak dengan kecepatan tinggi. Nafas yang saling memburu Farrel mencium kening Metta lama dan semakin dalam. Lalu keluar dari balik fitting room.
"Jadi gimana? Mba...Mas...." pegawai itu mengulum senyum.
Mereka tersentak, lalu saling menatap dengan mata yang saling berbicara.
Sejak kapan dia ada disini?
Entah lah aku tidak tau.
Kau ini.
"Jadi bagaimana rasanya? mmmpphh...maksud saya bagaimana mengenakan gaun berbahan sutra rasanya....? jika ingin mengganti, kami masih punya pilihan kain lainnya.
"Oke ini aja, udah cocok." Farrel yang mengurai pelukannya saat pegawai outlet itu menghampiri mereka. Lalu menoleh pada Metta yang juga ikut mengulum senyum.
Astaga semoga pegawai itu tidak melihatnya. Eh
"Lalu bagaimana Mbak ukurannya? apa sudah cukup, apa perlu kita rubah sedikit, pengantin biasanya melakukan diet untuk mendapatkan hasil yang sempurna menjelang pernikahan." ucap pegawai itu.
"Tidak usah, ini sudah cukup." sela Farrel dengan cepat.
"Kakak gak perlu diet-diet, aku akan menghabiskan semuanya nanti." bisik Farrel di telinganya.
Metta membelakak,"Astaga...." menepuk lengan Farrel.
Namun Farrel sudah menghindar dengan mendudukkan dirinya di kursi, dengan kedua jari telunjuk dan ibu jari membentuk kotak seperti kamera yang dia arahkan pada Metta.
"Perfect future wife...." gumamnya.
Sementara Metta tergelak lalu kembali membelakangi Farrel guna berbicara pada pegawai itu. Hingga mengekspose bahu dan punggung nya yang putih. Farrel hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Tahan sebentar lagi, tahan Farrel.
Setelah semua pengukuran dan lain-lainnya selesai, Metta berganti pakaian kembali. Lalu keluar dari fitting room, dengan berlari kecil menghampiri Farrel yang tengah mengotak-ngatik ponselnya.
"Ayo kita pergi...." menarik tangan Farrel untuk bangkit.
"Kenapa?"
"Aku malu, bagaimana jika pegawai itu melihat kita."
Farrel tergelak, "Mungkin akan menyuruh kekasihnya cepat-cepat menikahinya,"
"Aku serius, ayo pergi dari sini!" Farrel semakin tergelak.
"Segitu udah malu aja, gak minta tapi gak nolak juga," gumam Farrel yang kembali tergelak.
"Iiihh... kamu nyebelin!" memukul- mukul lengannya.
"hahaha...iya iya udah ayo pergi."
Gaun pengantin kakak yang dipilih sendiri oleh babang El.😍
Akhirnya mereka keluar dari outlet itu dengan terpingkal-pingkal.
"Lain kali kakak gak boleh godain aku, berabe kan kalau aku kayak tadi," Farrel terkekeh.
"Iiihh... iihh nyebelin, kok aku yang godain! kamu kok yang duluan."
"Iiihh...mana bisa begitu!" menghindari jari telunjuk Farrel yang kesana kemari.
"Karena gaun kakak sangat sexy...." bisik nya dengan terkekeh.
"Astaga...El! ih..., lagian itu kan pilihan kamu!!" sungutnya tak terima.
"Iya juga sih...jadi aku yang salah yaa?" Metta mengangguk dengan mencebikkan bibirnya.
"Maafkan aku yang mulia, hukum aku sekarang juga," membuat Metta tergelak.
"Ih....ngeselin!!"
"Udah ayo, cepet! Ucap nya dengan terus menoleh kebelakang.
"Ada yang mau dibeli lagi gak?"
"Gak ada,"
"Atau makan lagi?"
"Kamu mau bikin aku gendut, makan terus!"
"Gak apa-apa, biar tambah sehat!" Metta memutar mata malas.
"Gak mau...."
Sedetik kemudian mereka kembali tertawa. Hingga mereka sampai di pelataran parkir, menunggu Mac.
"Udah ah aku cape ketawa terus," Ucap nya Metta dengan mengedarkan pandangannya. Sementara Farrel tengah menghubungi Mac. pandangannya pada ponsel yang tengah dia pegang.
Brukk
Metta menabrak seseorang, barang yang ada di kantong belanjaannya terburai berantakan,
"Ya ampun maaf." ucapnya sedikit membungkuk, mengambil barang-barang yang terjatuh.
"Gak apa-apa," Ucap nya, ikut menunduk membereskan barangnya.
"Tasya ...?
Seketika Tasya mendongkak, sementara Metta mendongkak melihat kearah nya.
"Kalian?" ucapnya dengan senyum yang tertahan.
"Hai Sya, apa kabar....? Tasya mengangguk.
"Kalian sedang ngapain disini....?" tanya nya dengan masih memasukkan barang terakhir yang tercecer.
"Sedang...."
"Kami sedang mempersiapkan pernikahan,"sela Farrel cepat.
"Oh iya... selamat yaa!" Tasya mengulurkan tangannya pada Farrel namun Farrel membiarkannya menggantung, dia hanya menunduk sedikit.
"Terima kasih ya...."ucapnya.
Setelah Farrel mengabaikan tangannya, Tasya pun mengangguk dan beralih pada Metta,
"Selamat yaa...."
Metta memeluk tubuh Tasya, "Terima kasih, jangan lupa nanti datang ya,"
"Aku usahakan, semoga kalian berbahagia yah,"
"Aku duluan," Ucap nya kemudian.
"Sayang... itu beneran Tasya kan?"
"Iya Tasya, memang siapa?"
"Rasanya aneh aja melihatnya, seperti orang yang sedang hamil,"
"Benarkah?" Metta mengangguk.
"Ya biarin aja, mungkin sudah menikah lebih dulu dari pada kita."
"Hem mungkin juga," Ucap Metta namun kedua manik hitamnya terus mengarah pada Tasya yang sepintas seperti orang yang tengah hamil itu masuk ke dalam outlet perlengkapan bayi.
"Sayang ayo...." Ucap Farrel saat membuka pintu mobil untuknya.
"Kapan datangnya Mac?" sambil melangkah masuk kedalam mobil.
"Sejak kakak terus melihat kemana Tasya pergi."
"Tapi memang benar-benar aneh, bukankah pas ketemu terakhir itu 3 bulan yang lalu yaah." Metta menoleh pada Farrel.
"Entahlah aku lupa sayang, lagian juga gak penting!"
"Iihh...kamu!"
Kemudian tangan Farrel terulur mengelus lembut pipi Metta.
"Gak ada yang lebih penting dari pada kamu...."