Berondong Manisku

Berondong Manisku
Rencana Ayah 2


Farrel tidak bisa memejamkan matanya, berulang kali dia membulak-balikkan badan. Segala posisi sudah dicobanya, namun kantuk tidak juga menyerangnya. Farrel kemudian beranjak dari ranjangnya lalu keluar dari kamarnya.


Dia menuruni tangga menuju dapur, dia merasa tenggorokan tiba-tiba menjadi kering. Farrel masuk ke dapur, membuka lemari Es dan mengambil air mineral dari dalamnya. Lalu mengambil botol air itu agar bisa dibawanya kedalam kamar.


Hingga saat Farrel hendak kembali ke atas, dia melewati kamar kedua orang tuanya. tampak pintu yang tidak tertutup rapat itu.


"Pokoknya Bunda ikuti saja rencana Ayah, biar Ayah nanti yang membereskan perempuan itu."


DEG


Farrel menempelkan tubuhnya di dinding samping, perkataan Ayah bagai tombak yang dihujamkan tepat pada jantungnya.


"Membereskan perempuan itu? perempuan mana?apa kakak? Apa maksud ayah, bukankah ayah akan membantuku mendapatkan restu bunda saat aku berhasil!"


"Ayah apa yang kau rencanakan?!"


Alan berjalan menuju kamarnya dengan amarah yang membuncah, dia menutup pintu dengan keras sampai-sampai Foto keluarga yang ada diatas meja pun terjatuh.


PRANK


Farrel mengambil foto diri dan kedua orang tuanya yang terlepas dari bingkainya. Menatapnya lekat hingga urat-urat dikeningnya terlihat jelas, giginya nya pun bergemelatuk menahan rasa marah.


"Apa yang sedang kau rencanakan Ayah?"


Berkali-kali dia bertanya pada dirinya sendiri, Ayah tidak mungkin bisa menolak keinginan bunda nya, itu artinya ayah tidak akan membantunya mendapat restu dari sang bunda.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan?" lalu menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Hingga meja itu hampir terbelah, rasanya dia butuh sesuatu untuk menyalurkan kekesalannya.


Ingin bertanya langsung namun itu tidak mungkin dilakukannya sekarang, Farrel membuka pintu balkon kamarnya lalu keluar. Menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan.


Lalu dia menyambar kunci mobilnya, keluar dari kamar dengan tergesa. Menuruni tangga lalu keluar dari rumah.


,


.


Farrel menepikan mobilnya di tepi jalan, dia tidak tahu harus kemana malam itu, lalu dia masuk kedalam mini Market yang tidak jauh dari sana, mencari sesuatu untuk membantu menghilangkan kemarahannya. Dia selalu melihat Alan sering melakukannya, dan malam ini rasa ingin mencobanya semakin menyeruak, kekesalan yang dirasakannya menjadi pemicunya.


Farrel kembali masuk kedalam mobil, melajukannya kembali membelah jalanan yang tampak lenggang, dia turun disebuah taman kota yang terdapat danau buatan ditengah-tengahnya. Dia mendaratkan tubuhnya disatu kursi. Lama Farrel terdiam, hanya ditemani kepulan asap yang berasal dari sebatang nikotin yang baru saja dia beli.


Dia teringat perkataan Alan, bahwa sebatang tembakau dapat menghilangkan kegundahan, keresahan apapun itu. Bahkan meredakan kemarahan, apa benar begitu? Farrel ingin mencobanya, ini kali pertama dia mencoba, meski awalnya terbatuk-batuk, namun akhirnya dia bisa juga.


Sugesti yang diberikan Alan mampu dirasakannya juga, ditambah keheningan taman di malam hari membuatnya kekesalannya juga mereda. Dia terus berfikir apa yang akan dilakukannya kedepan, jika sekarang dia menghadapi kedua orang tua yang tidak merestuinya sampai saat ini.


Rasanya dia juga tak bisa lari dari kenyataan yang terjadi, tapi jika Ayahnya bertindak melebihi batas, dia juga akan menyelesaikannya dengan cepat, Farrel sudah membuat keputusan, jika ayahnya berani menyingkirkan kekasihnya, dia juga akan meninggalkan perusahaan.


Farrel ingin semua cepat selesai, "Ya benar begitu," gumamnya pelan.


.


.


"Yah, kok El gak turun-turun, udah jam segini coba?"


"Mungkin sebentar lagi, bunda lihat dia dulu ya..."


"Jangan, biar Ayah saja," potong Arya dengan cepat.


Arya menyentuh bahu istri nya dan bangkit dari duduknya lalu pergi menuju tangga ke atas, menuju kamar anaknya."El ... El"


Arya mengetuk ngetuk pintu kamar namun tidak ada jawaban sekalipun. Arya membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci, Arya masuk kedalam kamar Farrel yang kini lebih terlihat sebagai kapal pecah,


"Astaga,apa yang terjadi sebenarnya?"


" Kemana bocah itu, apa dia pergi"


Arya merogoh ponsel dari saku celananya,


"Mac, apa anakku sudah sampai di kantor?"


"Maaf sepertinya belum Tuan."


" Cari dia segera!"


"Baik tuan besar."


Arya mengakhiri pembicaraannya dengan Mac, dia lalu kembali ke ruang makan.


" Gimana yah? apa El belum juga siap?"


"El gak ada di kamarnya" Arya menghempaskan tubuhnya di kursi makan.


"Entahlah, sepertinya El pergi dari rumah, sepertinya tengah marah, kamarnya berantakan gak karuan." jelas Arya.


Ayu menutup mulutnya tak percaya. "Marah sama siapa, apa jangan-jangan marah sama bunda."


"Ayah gak tau, tapi ayah sudah suruh Mac mencarinya."


"Hubungi Alan, suruh dia segera pulang, Farrel pasti mau mendengarkan apa yang dikatakan Alan,"


"Apa jangan-jangan El mendengar pembicaraan kita semalam?"


"Ayah gak tau pastinya."


"Ini semua gara-gara Ayah,"


Arya meraup kedua tangannya, mungkin apa yang dikatakan istrinya benar. Dia mendengarkan pembicaraan mereka lalu marah dan pergi dari rumah.


.


.


Farrel bangun ditempat yang bukan biasanya, pagi ini dia bangun di hotel, setelah bingung harus pergi kemana, akhirnya dia memutuskan menginap di hotel saja, dia tidak mungkin pergi ke rumah Metta, apalagi ke Apartement Alan.


Benar saja puluhan chat dan panggilan telepon dari sang Ayah memenuhi ponselnya. Namun dia enggan melihatnya, dia hanya menghubungi satu orang,


"Halo kak, maaf aku sepertinya tidak jadi menjemput kakak,"


"Ya gak apa-apa."


"Ada urusan yang harus aku selesaikan, mungkin dalam beberapa hari ini aku akan berada diluar kota."


"Urusan mendadak?"


"Iya benar,"


"Baiklah, kamu hari-hari ya."


" Kak ...."


"Hem,"


"Whatever they say, believe me, even though I've sailed thousands of islands to stay with you ..."


[Apapun yang mereka katakan, percayalah padaku, meski ribuan pulau aku arungi untuk tetap bersamamu]


"El ....?"


"I love you more, bye."


"I love you too ..."


Farrel menutup sambungan telponnya, lalu dia


menghubungi sahabatnya Doni.


Sesudah pembicaraannya selesai, dia mematikan ponselnya kembali. Kemudian dia merebahkan diri diatas ranjangnya kembali.


Metta merasa ada yang aneh dari Farrel pagi ini, seperti sesuatu yang besar tengah terjadi padanya. Tapi apa...? apa ada hubungannya dengan perusahaan, tapi tidak mungkin. Sudah hampir 1bulan El bekerja menjadi manager, semua nya berjalan dengan baik, bahkan bisa di bilang lebih baik. Apa tentang restu yang belum juga didapat.?


Metta kembali berkutat dengan pekerjaannya, meskipun perkataan aneh dari Farrel membuat jadi jadi kepikiran. Hari berjalan semakin cepat, denting jam seakan bergerak lebih cepat dari biasanya, rintik hujan pun turun mulai membasahi hari yang semakin sore itu.


"Sha, lo pulang bareng gue? biar gak kehujanan, motor lo simpen disini aja."


"Boleh juga ide lo..."


"Ya udah yuk, keburu hujan gede."


Ting


Bentar, gue liat dulu pesan masuk. Metta terhenyak, saat pesan dari nomor tidak dikenal mengirimkan pesan padanya.


Datanglah ke Cafe de' rosell 1jam dari sekarang.


... ………………… ...


Jangan lupa like, komen dan terus dukung aku yaa


Makasihh ❤