Berondong Manisku

Berondong Manisku
Sampai kapan


Oh iya kenapa kalau up 3 chap like suka jomplang yaak, author pen nanges guling-guling deh. Hmmm


Sebelum lanjut baca, boleh dong minta vote, gift, rate5 sekalian. Makasih buat kalian yang masih bertahan dan setia baca❤


.


.


Mac datang saat Farrel tengah mandi, dia terlihat cemas, berkali-kali dirinya melirik jam tangan dipergelangan tangannya, Ibu Sri yang melihatnya terburu-buru itu menyuruhnya untuk masuk, namun Mac tetap berada di teras depan dengan mengatakan dia harus segera pergi.


Metta yang tengah mempersiapkan pakaian untuk Farrel pun ikut keluar untuk menemui Mac.


"Ada apa Mac? Buru-buru sekali, suami ku masih belum selesai mandi."


Mac tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk.


Tak lama kemudian Farrel keluar dan menemuinya, "Ada apa?"


"Ada yang terjadi pada Alan!"


Farrel mengernyit, "Apa?"


"Ceritanya nanti saja, ini gawat! Kita harus kesana, sebelum ayahmu murka."


"Oke!"


Farrel kemudian kembali masuk, "Sayang, aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku urus, kamu disini saja,"


"El ... Aku ikut, Dinda baru saja menelepon, dia sekarang ada di apartemen milik kakakmu, aku ingin menemuinya."


Farrel mengangguk, "Ada apa dengan dia?"


Metta mengerdikkan bahu, "Ya sudah, tapi jangan kemana-mana sebelum aku menjemputmu,"


Metta mengangguk.


Mereka akhirnya keluar dan memasuki mobil yang dikemudikan oleh Mac.


"Mac lebih cepat," ujar Farrel.


Mac pun menambah kecepatan, dia pun ingin segera tahu, apa yang di katakan anak buahnya itu benar apa tidak?"


Tak lama kemudian mereka sampai di gedung apartement milik Alan. Farrel turun dan juga Metta,


"Pelan-pelan saja, kakak sedang hamil!" ujarnya tegas.


Metta mengangguk, dia akan menciut saat Farrel terlihat serius, dan ini pasti bukan main-main, ditambah dengan telepon dari sahabatnya yang membuatnya khawatir.


Tak menunggu lama, Farrel langsung membuka password pintu, namun aksesnya ditolak,


"Sialan, dia mengganti passwordnya."


"Tenang lah El, mereka ada di dalam kok, Dinda yang mengabariku."


Bagaimana aku bisa tenang, sejak aku tahu Alan tergabung dalam dalam bisnis jual beli senjata, aku selalu was-was, apalagi jika sudah berhubungan dengan ayah dan bunda, terlebih lagi polisi kemarin mengatakan dia mengenal Alan, ini sudah membuatku khawatir. Bagaimana jika polisi saja sudah mulai mencurigainya.


"Kak, hubungi Dinda, Alan tidak mengangkat teleponku."


Metta yang melihat Farrel semakin serius itu kemudian hanya mengangguk, lalu merogoh ponselnya. Dia mendial nomor sahabatnya itu.


Telepon berdering, namun dia tidak mengangkatnya. Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka.


Ceklek


Alan terlihat membuka pintu dan hendak pergi, namun Farrel mendorongnya hingga mereka kembali masuk, Metta mengekor dibelakang dan mencari sosok Dinda, sementara Mac yang masuk paling akhir itu menatap tajam ke segala arah ruangan.


"Apa yang terjadi?"


"Apa ...?" Alan balik bertanya pada Farrel.


"Mac?" ucap Alan dengan sorot menajam pada Mac.


"Tidak usah menyalahkan nya, ini bukan salah Mac, aku memang sudah seharusnya tahu Al!" ujar Farrel sorot tajam pada Alan.


"Sudahlah, tidak penting! Semua sudah selesai."


Kedua tangan Farrel merangsek kerah Alan, dan mencengkramnya, "Katakan padaku atau aku akan mencari tahu nya sendiri,"


"Sudah aku katakan, kau tidak perlu tahu masalah ini, dan jangan ikut campur."


"El ... tenangkan dirimu!" Ucap Metta dengan memegang lengannya.


"Aku tidak main-main kali ini Al!" ujarnya lalu merogoh ponselnya.


"Kita lihat, apa kau mau mengambil resiko atau tidak!" Ucapnya dengan membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Sayang, lebih baik kau tunggu di atas, dengannya." ujar Farrel menatap Metta dan berakhir pada Dinda yang baru saja turun dari lantai atas.


"El ... jangan macam-macam!" titah Metta.


Farrel mengangguk pelan, "Naiklah,"


Dinda menangis saat mereka baru saja masuk kedalam kamar.


Sementara Farrel sudah sangat kesal karena Alan tak juga mengatakan apa-apa.


Farrel mendial nomor seseorang, "Berikan semua info tentang bosmu sekarang!"


Alan terperangah, "Siapa yang kau hubungi? Mereka tidak akan mengatakan apa-apa."


"Benarkah? Kita lihat, dia akan patuh padaku atau padamu?"


"El ... jangan macam-macam!"


"Kenapa? Kau takut? Kau takut aku tahu semuanya? Atau kau takut aku ikut terjun di dunia mu?"


Alan terhenyak, Farrel tidak pernah seserius ini, dan terlihat sangat marah.


Farrel mengulum bibir, "Kalau iya memangnya kenapa? Kenapa hanya kau yang boleh, kenapa aku tidak... Kau fikir aku tidak bisa? Akan aku buktikan."


Farrel kembali mengotak-ngatik ponsel, dan kali ini membuat Alan kembali tercengang.


"Bukankah ini kau?"


Alan merebut ponsel Farrel, namun dia berhasil menghindar, "Luar biasa!"


"Oke El, aku akan mengatakan semuanya padamu, tapi tolong berhentilah main-main, ini bukan untuk main-main, jangan sampai kau terjerumus ke dalam dunia sialan itu seperti ku."


"Coba katakan, aku ingin mendengar dari mulut mu sendiri Alan Alfiansyah."


Alan pun akhirnya menyerah, dia menceritakan semuanya pada Farrel.


Kalian curang?"


"Tidak dapat dipercaya!"


Terdengar dari mereka yang berbisik-bisik dan membuat ruangan itu riuh oleh sorakan dan cibiran.


Sementara Alan berseringai, hal ini tentu saja sudah dapat diduga nya, Davis memang berlaku curang, dia ingin menjatuhkan perusahaannya, serta mendapat simpati dari orang yang berada disana, setali tiga uang.


Benar-benar licik.


"Kalian tidak bisa mengelak lagi, saya ingin minta ganti rugi." ujar Davis dengan masih berdiri.


"Betul itu, betul!"


"Dasar curang!"


"Kau tahu El, Davis Danuarta, salah satu anak dari keluarga Danuarta, dia menyerang anak buah ku, menghancurkan nama baikku, dan melakukan kelicikan yang membuat klien ku tidak mempercayaiku."


"Hari itu, dia datang untuk rapat bersamaku, namun ternyata dia malah menyekap Dinda, kau tahu, dia menodongkan senjata padanya,"


"Dan kau membunuhnya?" tebak Farrel.


Alan mengangguk, "Jika saja dia bisa diajak kompromi, aku tidak akan melakukannya."


Farrel meraup wajahnya. "Kau gila Al, benar-benar gila, kau membunuhnya dihadapan kekasihmu sendiri? Kau tidak memikirkan ayah dan bunda?"


"Aku tahu...."


"Lalu kau tetap melakukannya walaupun kau tahu, kau fikir keluarganya tidak akan menuntut balas?"


Alan menghela nafas, "Mungkin sebentar lagi keluarganya akan datang membalasku."


Farrel kembali merangsek leher Alan,


Bugh


Farrel memukul rahangnya, "Jelas itu akan terjadi, akan terus begitu sampai keturunanmu habis Alan BODOH."


Alan tidak menjawab, memang benar apa yang dikatakan oleh Farrel, jika hal ini akan terus berlangsung sampai kapanpun, saling membalas tiada henti, sampai semuanya lenyap.


"Kau memang brengsekk! Apa otakmu terlalu pintar hingga kau fikir ini akan selesai begitu saja."


"Dan kau mempertaruhkan nyawa semua keluargamu? Mereka semua akan mengincar kelemahanmu Alan, mereka akan terus menunggu, kau dan keluargamu yang lenyap atau mereka semua yang kau lenyapkan?"


"Apa pemikiran ku benar?" sambung Farrel lagi.


"Kau benar El, pemikiranmu sangat tepat, antara aku dan keluargaku yang lenyap atau mereka semua akan aku lenyapkan."


Prok


Prok


Farrel bertepuk tangan, dia kemudian tertawa, "Kau luar biasa Al, aku akan mengacungkan kedua jempolku sekaligus, dan setelah itu kau masuk penjara,"


Alan menghela nafas, "Aku tahu."


Bugh


"Kau selalu mengatakan kau tahu tapi kau tetap akan melakukannya. Tidak punya otak."


Mac menahan Farrel untuk tidak terus memukul Alan, dia tahu Farrel sedang marah, dan kemarahannya bukan hanya kemarahan atas apa yang dilakukan Alan, namun karena apa yang Alan lakukan akan membuat dirinya masuk penjara, akan membuat orang tuanya sedih, dan membuat dirinya kehilangan.


Namun Farrel menunjukkannya dengan kemarahan, memukulnya walau kenyataan hatinya tengah sedih.


"Mac lepaskan aku, aku tahu kau pasti akan membantunya, lepaskan aku brengsekk."


Mac melepaskannya, dia melangkah mundur beberapa langkah, memang benar, dia pasti akan membantunya, apa yang Alan katakan adalah perintah, begitu juga apa yang di katakan Farrel,


"Aku tidak akan memaafkanmu jika ayah dan bunda tahu soal ini!" ujarnya.


"Aku akan bertanggung jawab! Tidak akan aku biarkan ayah dan bunda tahu,"


"Sampai kapan? Sampai kapan hah? JAWAB sampai kapan kau akan menyembunyikannya? SAMPAI KAPAN!!"


Metta dan Dinda yang sedang berada dikamar pun melonjak karena suara Farrel yang menggelegar, mereka saling menatap.


"Farrel...." gumamnya.


"Suamimu marah besar Sha!" gumam Dinda.


Metta yang sama kagetnya itu mengangguk.


"Dia menakutkan jika marah begitu,"


"Huum...."


"Aku akan kesana!"


"Jangan, bisa-bisa kau jadi sasaran kemarahannya, biarkan mereka menyelesaikannya dulu Sha, kau tidak tahu. Alan bahkan punya senjata api."


Metta terperangah, "Apa?"