
"Lo gak asik, tiap ngemall bawaan nya ngomel mulu,"
" lo tau gue gak suka ngemall, heran deh orang orang pada ngapain kesini, bikin pegel kaki doang" gerutu Metta.
" Yaa udah gak usah ngomel terus, ayo kita kesana aja," Dinda menunjuk Coffe shop.
Metta berdecak, kemudian membungkuk memijat pelan betisnya, "Cx kesini cuma minum kopi doang mah dirumah juga bisa, tinggal nyeduh Udin"
" Ampun dah jalan sama rakyat jelata kaya lo, ngomel mulu kaya emak emak, baru jalan segitu aja udah pegel " Dinda terkikik.
" Berisik lo ah, gue pegel beneran ini"
" Udah ayo buruan, kita nongkrong cantik sambil minum kopi asik kan tuh, siapa tau ketemu jodoh gue disini" Dinda menarik tangan Metta menuju coffeshop.
" Udah makin gila lo" cibir nya pada Dinda.
Mereka masuk ke coffe shop yang terlihat tidak terlalu ramai itu, mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang tidak terlalu banyak dilewati orang.
" Kita duduk disana saja" Metta menunjuk bangku kosong di paling ujung.
Metta membulak balikkan daftar menu," Harga nya bahkan bisa untuk jajan sekolah adik adik gue "
Dinda menggelengkan kepalanya,"Sekali kali lo juga harus nikmatin hasil kerja keras lo, jangan terlalu menyiksa diri Sha"
" Lo salah Din, gue nikmatin hasil kerja keras gue dengan melihat keluarga gue tercukupi dan hidup layak" Tukas Metta.
" Semoga jodoh lo orang kaya, tampan, pewaris tahta satu satu nya, hartanya gak habis tujuh turunan biar lo gak sengsara lagi, yang baik, yang sholeh seiman Aamiin" Dinda mengangkat kedua telapak tangan lalu diusapkannya pada wajahnya.
Sementara Metta terkikik, namun ikut mengangkat tangannya juga " Aamiin" ucapnya pelan.
"Tuh gue udah doain lo sedemikian bagusnya"
Mereka pun tertawa terbahak, dengan saling dorong bahu, tak ayal membuat pengunjung cafe melihat ke arah mereka.
Mereka pun seketika berhenti tertawa namun masih terlihat saling dorong mendorong, " lo sih kan jadi diliatin"
" Idih kok gue, lo yang ketawanya kayak gitu"
" Yaa sudah kalo gitu aku pesen kopinya dulu kesana" ujar Dinda kemudian berlalu meninggalkan Metta.
Metta menggangguk, dia merogoh ponsel nya yang di simpan didalam tasnya. " Kok Farrel gak hubungin gue sampe sekarang, apa dia sibuk banget sampe gak bisa bales chat gue?"
" Ah, bodo amat lah! tapi kok aneh rasanya.," batin nya bermonolog.
Tiba tiba Metta tersentak dengan munculnya kepala dari belakang yang menempel pada kepalanya, pipinya terasa hangat oleh hembusan nafas seseorang " Hayo lagi mikirin aku yaa"
Kedua manik Metta mengerjap, menolehkan kepala mengikuti aroma parfum menyeruak yang dikenalinya.
" Kamu..?"
Sekali lagi Metta mengerjapkan mata, mengedarkan pandangan ke segala arah tak percaya.
" Kamu ngapain disini?"
" Kenapa memangnya, gak boleh?"
" Bukan begitu, kamu tau tau ada disini, lagi ngapain?" Metta mulai memicingkan matanya.
" Kakak, aku tadi lihat kakak pas mau pulang, jadi aku ikutin kakak aja sampai sini "
" Farrel.." Farrel menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya disamping Metta.
" Apa, kakak kangen sama aku?" ucapnya dengan mengerjap ngerjapkan mata.
" Heh, bukan begitu"
" Bukan kangen, lalu apa? Kangen banget hem?"
Metta semakin membulatkan matanya ke arah Farrel yang tengah terkekeh, namun ada perasaan bahagia dalam hatinya kini.
" Kamu tuh yaa ngeselin banget" Metta memukul lengan Farrel.
" Tapi kakak suka kan?" ucap Farrel menautkan jari tangannya disela jari Metta.
Metta tersentak, namun tidak pula menolak, " Kamu tuh yaa."
" Kenapa wajah kakak?" Farrel mendekatkan wajahnya melihat wajah Metta dari dekat yang semakin memerah.
Farrel menyentuh dahi metta dengan telapak tangannya, "Kakak sakit?"
Metta menggelengkan kepalanya " enggak kok,"
" Pake dipegang lagi, bikin makin panas aja nih bocah, kelihatan banget gue terlalu seneng dia tiba tiba ada di sini" batin metta.
Dinda yang tengah berjalan menuju arah meja pun kaget "Dia lagi ngobrol sama siapa?"
" Eh Din, udah pesennya?" tukas Metta yang melihat Dinda berdiri dibelakang Farrel.
Dengan mata yang mengedip ngedip ke arah Farrel, Dinda bertanya tanpa kata " Siapa dia?"
Farrel menoleh ke arah belakang, lalu berdiri " Oh maaf, aku jadi mengganggu acara kalian ya?" menggaruk tengkuknya.
Dinda melihat Farrel dari atas sampai bawah, farrel yang tak sempat berganti baju pun terheran.
" Gila nih berondong cakep juga ternyata" batin Dinda.
"Din mingkem "
Metta terkekeh melihat reaksi Dinda saat melihat Farrel, membuat dirinya juga melirik Farrel yang berdiri disampingnya.
" Kakak baru tau yaa aku ini tampan" bisik Farrel ditelinga Metta.
" Apa sih" metta menyikut Farrel mengenai dadanya, Lalu keduanya tertawa.
" Heh, kalian berdua mau pamer?" Dinda kemudian mwnarik kursi dan membantingkan tubuhnya.
" Dih, ngambek" ucap Metta.
" Kalian gak kasihan apa sama gue yang jomblo ini"
Farrel hanya tersenyum melihat keakraban mereka, tangannya tak lepas dari sela jari Metta. sesekali melirik Metta yang tengah bercanda dengan sahabatnya. Mengagumi setiap inci wajahnya.
" Maafin aku kak, tapi aku tak akan membiarkan dia merebut kakak dari ku"
Flashback on
" Lo kenapa diem aja?"
" Gue ngerasa gak tenang lan"
" Gara gara Faiz dinandra" ujar Alan dengan menenggak wine nya.
Farrel memutar mutar botol soda ditangannya." Gue rasa gue butuh waktu"
" Jangan terprovokasi dengan apa yang dia katakan, apapun yang dikatakannya hanya ingin membuat lo lemah"
Farrel mencerna apa yang dikatakan Alan ada benarnya " Gue belum tau maksud dia apa?"
" Kelamaan, dia mungkin sudah mempunyai rencana dan lo masih berpikir"
" Apa yang dia katakan?"
" Dia akan merebut kembali kakak dariku"
" Cih, bajingan. Setelah di tinggalkan lalu akan direbutnya kembali" Alan mengelap sudut bibirnya dengan jarinya.
" Lo tau dari mana kakak di tinggalkan?" Farrel menoleh kearah Alan yang dengan santai menegak minuman itu lagi tanpa ada reaksi.
" Cx, lo juga bahkan mencari tahu tentang kakak" Farrel memijit keningnya.
Alan tertawa " Lo baru sadar gue siapa?"
Farrel terdiam, memikirkan apa yang Alan katakan, mungkin sekarang dia belum tau maksud Faiz namun juga dia gak bisa menunggu hanya dengan berpikir saja, dia harus bergerak, tapi apa, bagaimana.
"berjuanglah El," Alan memegang erat bahu Farrel.
" Bodoh, gue malah gak bales chat dari kakak" Farrel meraup wajahnya.
" Gue harus pergi" ucapnya
" Pergilah,"
Farrel berdiri berjalan membuka pintu. " El..."
Alan melemparkan kunci mobilnya pada Farrel yang menoleh. " Pake mobil gue, bilang bunda gue pulang ke apartemen."
Farrel mengangguk, lalu menghilang dibalik pintu.
" Semoga lo selalu bahagia El"
.
Flashback off
" Sha gue balik duluan yaa" ucap Dinda
" Lah kenapa, lo yang ngajak kesini lo yang pulang" sahut Metta,
" Kopi gue juga udah habis, jodoh ternyata gak ketemu disini haaha, jadi gue balik aja ya."
" Gak apa apa kakak kan bisa berdua sama aku" bisik Farrel pelan memainkan ujung rambut Metta.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.
.
.
" Target sudah ketemu"
"...."
" Baik.."
.
.Jangan lupa apa??.. iyaa bagus..😂😂
dukung terus aku yaa.. jangan lupa
Vote nya juga kalo boleh mungpung hari seninðŸ¤
Makasih😘