Berondong Manisku

Berondong Manisku
Membuat khawatir


"Hehehe, iya maaf mbak! Maaf ya semua, aku tidak bermaksud untuk membuat kalian berfikir macam-macam atau berfikir hal yang buruk, tapi sepertinya aku salah, jawabanku membuat kalian salah faham, terutama kamu Nak," ucapnya mengarah pada Metta.


"Adikku ini lho jeng, selalu saja begitu!" gerutu Ayu,


"Dokter ini yang dulu menolong Andra juga jeng!"


"Oh yaa, memangnya kenapa Andra dulu?" tanya Ayu penasaran.


Nissa yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan mereka hanya geleng-geleng kepala, Lalu menyikut sang ibu, "Ibu malah bergosip ...."bisiknya pelan.


"Iya, Mbak sudah ...." ucap Frans


"Itulah makanya, sudah kubilang berapa kali, kalau bicara itu yang jelas! Kebiasaan, selalu membuat takut orang lain." sungut Ayu dengan memukul pundak adiknya.


"Iya sudah Mbak, aku kan sudah meminta maaf." Frans meringis akibat pukulan dari kakak perempuannya.


"Sudah jeng Ayu, kasian Pak Dokternya ...." Sri berusaha melerai pertengkaran antara adik dan kakaknya.


"Maafkan Om ya Nak," mengusap bahu Metta.


"Aku juga bodoh, padahal tadi Dokter gak bilang apapun, dia hanya bilang maaf saja. Dan aku yang menyimpulkan sendiri."


"Iya Om, tidak apa-apa, aku juga yang salah karena tadi terlalu panik." Lalu Metta memilih kembali duduk, menatap Farrel yang belum siuman juga.


"Tunggu saja, dia pasti akan segera sadar! Kalau begitu saya permisi dulu!" Ucap Dokter Frans.


Sementara Dokter itu menghilang dibalik pintu, Ayu mendekat ke tepi ranjang, "Ayo Bun, duduklah disini," ucap Metta yang bangkit dan menyuruh Ayu duduk.


"Terima kasih ya Nak," Ayu lantas mendudukkan bokongnya dikursi, membelai Farrel.


"Kamu anak Bunda paling kuat, ayo bangun! jangan membuat kita semua khawatir, El!" mengelus lengan Farrel.


Sri bangkit dari duduknya, "Ayo Nak kita pulang?"


"Enggak Bu, aku ingin disini saja! Bolehkan Bunda?"


Ayu mengangguk, tentu saja boleh sayang, El pasti senang jika melihat kamu ada disini."


"Kalau begitu ibu pulang dulu ya, nanti ibu suruh Andra membawa baju ganti untuk kamu,"


"Iya Bu, terima kasih,"


Metta mengangguk, dan menyalami ibunya,


Berdoalah, Farrel pasti baik baik saja,"


"Iya Bu...."


Sri dan Nissa pulang terlebih dahulu, sementara Metta memilih untuk menunggui Farrel, Ayupun pulang terlebih dahulu, Kini diruangan itu hanya ada Mereka berdua. Dengan bunyi mesin yang menjadi teman


"El, ayo bangun, kamu mau tidur terus seperti ini?" ucap Metta yang mulai gelisah karena Farrel tak juga membuka matanya.


"Ayolah El, buka matamu!"


Waktu pun terus berputar, Farrel belum juga sadar, Hingga Metta merasa kelelahan karena terus menangis dari siang, Metta melirik jam di tangannya,


"El kamu sudah tidur 10jam!" gumamnya lalu menyandarkan kepalanya ditepi ranjang. Dengan tangan Farrel yang dia genggam.


"Kamu tahu El, bagaimana takutnya aku tadi siang? bahkan aku tak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi padamu." masih menggenggam tangan Farrel.


"Rasanya aku tidak akan mampu jika kehilanganmu El!" lirihnya pelan hingga Metta terlelap dengan posisi yang tidak nyaman.


Meskipun diruangan itu tersedia sofa, namun dia enggan meninggalkan Farrel.


Tak lama tangan Farrel bergerak, matanya mulai mengerjap-ngerjap, melihat sekeliling ruangan yang hening dan berakhir menatap Metta yang tengah terlelap disampingnya.


"Maafkan aku sayang, membuat kamu dan semua orang khawatir." ucapnya dengan tangan yang mengelus rambut Metta.


Merasa ada yang menyentuhnya, Metta terbangun dan melihat Farrel yang juga tengah melihatnya, bibir pucat itu melebarkan senyuman kearahnya.


"El, kamu sudah sadar?" Metta memeluk Farrel, membenamkan kepalanya di dada kekasihnya itu.


"Syukurlah, kamu sudah bangun, apa ada yang sakit, kamu mau minum? laper gak? mau makan? atau aku panggil dulu dokter yah!" cerocos Metta.


Farrel hanya menggelengkan kepalanya, dan menarik bibirnya perlahan. " Aku tidak apa-apa!"


Metta memukul lengan Farrel pelan,


"Bodoh, kamu membuat khawatir semua orang! tapi masih bilang tidak apa-apa," ucapnya kesal namun matanya merasa panas.


"Apa kakak juga mengkhawatirkan aku?"


Metta berdecak,"Sudah jangan banyak bicara dulu, kamu baru saja sadar!" mata yang panas itu mulai menganak.


"Sudah kukatakan jangan banyak bicara, kau ini bandel!" Metta bicara dengan terisak.


"Kau tahu bagaimana takutnya aku tadi siang!" Masih dalam isaknya.


"Kau tidak tahu gimana khawatirnya aku, bagaimana jika tadi yang dibawa mereka itu kamu!" isaknya semakin keras.


Farrel terkikik lemah, "Sudah jangan nangis lagi, aku sudah tidak apa-apa! lihat kan, aku ada disini sekarang ....!" Ucap Farrel dengan suara yang masih lemah. Tangannya terulur menyeka air mata dipipi Metta.


"Aku tidak akan membuat kakak khawatir lagi, maaf yaa!"


Metta kemudian memeluk Farrel dan menangis sejadinya didalam dekapannya. Farrelpun mengelus rambut Metta.


"Kak, aku kesulitan bernafas jika kakak menekanku begitu," bisiknya.


Metta mengangkat kepalanya, "Maaf ...." sambil menyeka air matanya.


"Kakak cengeng sekali, apa kakak takut kehilangan aku hem?" tanyanya dengan suara masih lemah.


"Kau sudah membuat semua orang khawatir, tapi masih bisa bercanda yaa, hem?" Metta melebarkan matanya.


"Enggak sayang ... Maafin aku!" Farrel meraih tangan kekasihnya itu.


"Aku yang takut kehilanganmu..."


Metta semakin melebarkan matanya, telunjuknya menusuk-nusuk pelan pinggang Farrel,


"Iiih... masih bisa bicara gombal begitu!"


Tubuh Farrel tergerak, dia pun meringis, "Aw, aw sakit!" dengan sebelah tangan menghalau tangan Metta.


"Aah... maaf!" Metta mengelus pinggang Farrel yang tadi dia tusuk- tusuk pelan.


"Badanku sakit semua ...." keluhnya.


"Apa perlu aku panggil dokter? Tunggu sebentar ya ...."


Metta bangkit dari duduknya, namun Farrel menahan tangannya.


"Tidak perlu, aku tidak butuh dokter sayang!"


Metta mengernyit, "Kita periksa keadaanmu dulu!"


Farrel menggelengkan kepalanya, menarik tangan Metta hingga dia terduduk kembali.


"Badanku sakit, tapi kalau dipeluk kakak nanti juga sembuh!" ucapnya lirih.


"Ih ... Kau ini!"


"Kemarilah ..."


Tiba- tiba pintu terbuka saat Metta akan melingkarkan tangannya ke atas pinggang Farrel,


"Rel ... Akhirnya kamu sadar juga!" seru Doni yang langsung berhambur ke tepi ranjang.


"Doni pelan-pelan ...!" ucap Metta menatap Doni tajam.


Namun Doni seakan tidak mendengarkan apa yang Metta katakan, dia kemudian duduk ditepi ranjang.


"Gak lupa ingatan kan? masih bisa mengenaliku kan?" ucapnya terkekeh, menutupi kekhawatiran yang dia rasakan juga.


"Sudah jangan dulu diajak bicara, biarkan dia beristirahat." ucap Metta,


"Sudah sayang, aku gak apa-apa!" lirihnya pelan.


"Jangan bandel!" Metta membulatkan mata kearahnya.


"Iya ...iya ... suster!" jawab Farrel pelan.


Doni terkikik, melihat Farrel yang merengut.


"Kalau gitu aku tunggu diluar, panggil aku kalau kalian butuh sesuatu," Metta mengangguk.


"Terima kasih Don," ucap Farrel pelan.


Donipun menghilang dibalik pintu, dia kembali duduk ditemani Mac yang hanya diam seperti patung, hanya menunggu perintah dari Bosnya.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, rate 5 juga fav. Terima kasih