
"Jangan memancingku untuk marah! Aku sudah mengikuti kemauanmu!" ujarnya dengan mata terpejam.
Metta merengut, dia bukan tidak tahu suaminya lelah, karena dirinya pun merasakan hal yang sama, namun setelah melihat gadis cantik berwajah blasteran dengan mata hazel itu memicu kekesalannya.
Tatapan matanya yang hanya tertuju pada Farrel dengan bahasa tubuh, yang menandakan dia itu sedang tertarik, dia sedang menggoda, dan dia sedang bermain-main dengannya.
Entah Farrel tahu atau tidak, dia bertambah kesal karena suaminya mengenalnya, hanya dengan mengingat namanya saja membuatnya kepanasan.
Dia suamiku, hanya milikku. batin Metta dengan menatap Farrel yang tengah terpejam. Perlahan dia menggeser tubuhnya, melingkarkan tangan dipinggang Farrel dengan kepala yang dia sandarkan dibahunya.
"Maafkan aku! Aku terlalu berlebihan,"
Lalu untuk beberapa saat mereka sama-sama tertidur dalam posisi duduk saling bersandar. Mac menatap keduanya, menggelengkan kepala dengan sudut bibir yang ditarik ke atas, lalu menoleh pada Doni.
Doni menoleh pada Mac, lalu beralih pada sepasang pengantin baru dengan heran.
"Ampun deh, begitu yaa orang menikah? Kau begitu juga Mac? Ribut dengan hal-hal yang sepele," gidig Doni.
"Memusingkan!" imbuhnya lagi.
Perjalanan dari bandara kerumah Bu Sri memakan waktu hampir 45 menit lamanya, dan itu membuat cukup waktu untuk Farrel mengistirahatkan tubuhnya, dia mengerjapkan kelopak matanya perlahan, ada sesuatu yang mengganjal di perutnya.
Farrel bahkan tidak bisa menggerakkan kepalanya ke arah kiri, dilihatnya Metta terlelap dengan tangan melingkari pinggangnya.
Farrel mengulum senyum, Dasar ... hanya karena aku mengingat namanya, dia berfikir aku mengenalnya dengan baik! Segitu saja sudah marah-marah tidak jelas, apalagi kalau dia tahu, Chaira hampir menggoda ku, dan mencium ku!
Dan kemarahan tidak jelasnya itu, membuatnya semakin menggemaskan, dasar, sudah menikah saja masih tidak bisa mengatakan kalau dia cemburu.
Doni menolehkan kepalanya kebelakang, "Ssstthh ... Rel, siapa gadis yang tadi?"
"Jangan gila!!" gumamnya dengan kedua mata Farrel membulat seketika.
Membuat Doni terkekeh dan menahan tawanya agar tidak menggelegar dan membangunkan wanita yang masih terlelap di pelukan sahabatnya.
"Diam ... cari masalah, kau membahasnya lagi!"
"Kau harus cerita nanti." gumam Doni.
Hingga Mac menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Metta, Doni sudsh turun untuk menurunkan koper dari bagasi, Mac membantunya dengan ikut turun. Sementara Farrel masih menunggu sang istri yang masih belum juga bangun.
Perlahan Metta menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal, sementara kedua matanya langsung tertuju pada seseorang yang saat ini tengah menatapnya.
"El...apa kita sudah sampai?" Ujarnya dengan suara serak.
"Hmm ... " Farrel masih mode pura -pura kesal.
"Humm maafkan aku, kalau aku memintamu pulang kerumah Ibu!" ujar nya dengan mengucek mata.
"Sudah lah, hari ini aku terlalu lelah, kita disini dulu, besok baru ke rumah bunda,"
Metta mengangguk, "Maafkan aku juga karena...."
"Karena apa....?"
"Karena bersikap berlebihan tadi," ucap Metta dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Jangan bilang kakak sedang cemburu?" Farrel harus menahan tawa karena masih berpura-pura kesal.
"Aa--aku tidak cemburu! Enak saja," Ucap Metta seraya membuka pintu mobil.
Farrel mencekal lengannya, "Selangkah saja keluar dari mobil tanpa menungguku, aku akan marah!"
Metta menoleh padanya, "Ka--kamu ...iiihh!!"
"Aku belum mengatakan aku memaafkanmu!" ujarnya kemudian.
Metta mencebik, "Lalu aku harus bagaimana?"
"Cium aku disini dan disini!" Farrel menunjuk pipi kira dan kanannya bergantian.
Metta mendelik, "Kamu hanya mencari kesempatan kan?"
Farrel tidak menjawab, dia hanya menusuk-nusuk pipinya bergantian.
"Iiihh... nyebelin!" Metta mencubit lengan Farrel.
"Ayo, atau aku berubah fikiran."
Cup
Metta mencium kilas kedua pipi Farrel, "Udah tuh...nyebelin Ayo masuk, aku sudah kangen banget sama ibu!"
Namun Farrel terlebih dulu menarik dagunya, dia menyambar bibir Metta yang manis itu dengan lembut, menyisirnya pelan sampai Metta membukanya sedikit, membiarkan lidah saling menerobos masuk dan saling membelit.
Menikah hampir tiga minggu, membuat keahlian Farrel semakin mumpuni. dia acapkali membuat Metta hampir kewalahan. Tangannya naik menyusuri benda bulat milik Metta, dan perlahan bibirnya turun ke leher dan membuat tanda kemerahan disana.
Tangan Metta menahan tangannya yang bergerak bebas, lalu melepaskan tautan kedua benda kenyal itu, "Kita lakukan nanti, ibu pasti sudah menunggu."
"Gak bisa nanti." ujar Farrel dengan suara berat.
Metta menggigit bibir bagian bawah, menahan diri dari lengguhan yang mungkin akan lolos begitu saja, saat Farrel memberikan kembali sensasi terbang ke nirwana dan berputar-putar di sana.
Hembusan nafas semakin panas dirasakan Metta saat udara di dalam mobil itu saling berburu, dengan sekali hentakan Farrel mengkungkung tubuhnya, membawanya kembali terbang dan melambung tinggi ke puncak nirwana.
Lengguhan pun hanya tertahan dengan bungkaman dari bibir Farrel, mereka sama-sama melambung hingga akhirnya melemah dengan sendirinya.
"Kamu menyebalkan, aku kan sedang marah!"
"Aku orang menyebalkan sekaligus menyenangkan bukan? Dan jangan marah tidak jelas lagi. Aku tahu kamu cemburu, tapi kamu juga harus percaya padaku." ujar Farrel dengan merapihkan rambut istrinya.
.
.
Sementara Mac dan Doni yang sudah menunggu kemunculan majikannya diteras rumah Metta. Mereka berdua saling berpandangan lalu membuang wajahnya.
"Kak Doni kenapa kakak sama bang Farrel tidak keluar juga?" tanya Nissa yang menyembulkan kepala nya dari dalam.
"Ehmm... itu ... Mereka mungkin sedang mengobrol dulu! Ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum keluar." jawab Doni dengan menggaruk belakang kepalanya.
"Sesuatu apa? Mereka sedang bertengkar? Mana mungkin, mereka baru menikah masa sudsh bertengkar. Iya kan om? ujar nya bertanya pada Mac.
Mac hanya mengangguk, "Sebentar lagi juga kesini, tunggu saja."
Nissa hanya hanya menyembul kini keluar, "Aku akan menyusul,"
Dengan segera Doni menarik bahunya hingga Nissa mundur dan menabrak tubuhnya sendiri.
"Iihh...kakak apa sih!" deliknya pada Doni.
Doni menahan tangannya, "Jangan, jangan kesana ... maksudku nanti, ayo kak Doni temenin!"
Doni gelagapan sendiri, hingga dia menjawab sekenanya.
"Ya udah ayo," ucap Nissa berjalan lebih dulu.
Doni menatap Mac, sedangkan sosok Mac hanya mengerdikkan bahu. Terserah lah
Kemudian dengan langkah yang dipercepat Doni menyusul Nissa dan menarik bahunya, "Pelan-pelan saja jalannya,"
"Dih kenapa?"
"Bagaimana kalau Nissa antar kakak beli minuman,"
"Kau tadi udah ibu kasih didalam, kenapa malah beli?"
"Kalau beli camilan mau?" Ujarnya lagi.
"Udah ada!" Ucap Nissa membuka pagar rumahnya.
Celaka, semoga si Rel kereta api tidak lupa mengunci pintu mobil.
"Kalau gitu Nissa mau apa? kakak anter deh sekarang, yuk." Doni berjalan dengan menusuk-nusuk bahu Nissa.
Nissa akhinya berbalik, "Benarkah? Bagaimana kalau kak Doni anter aku ke toko buku?"
"Ayolah berangkat sekarang saja," ujarnya dengan menarik lengan Nissa yang sudah berada didepan Mobil.
"Janji yaa...!"
Doni mengangguk, "Iya, janji ayo!"
"Tapi Nissa mau ketemu kak Sha dulu, weee." ucapnya dengan menjulurkan lidah.
"Astaga...."
Bertepatan itu pintu mobil terbuka, Farrel keluar lalu disusul oleh Metta dari arah belakang.
Nissa memeluk kakak perempuannya, "Kak Sha, lama banget sih gak keluar-keluar ngapain didalam? Ibu sudah menunggu dari tadi."
"Hai bang...." ucapnya menyapa Farrel.
"Hai Nissa...."
Mereka kembali masuk kedalam pekarangan rumah, Doni sengaja berdiam membiarkan Nissa dan Metta berjalan lebih dulu.
"Gak cukup lu kerja di negara orang? Sampai-sampai kerja juga di mobil?" bisik Doni saat Farrel melewatinya.
Farrel terkekeh, "Kayak gak tahu gimana rasanya aja,"
"Buset dah, lu udah pro sekarang?"