
Farrel terhenyak, setelah melihat Metta berada di dekapan nya, mengingat ingat kenapa bisa berada satu ranjang dengan nya. Mendapati wajah Metta begitu dekat, menbuat jantungnya berpacu dengan cepat bak sedang ikut balapan.
Dengan satu tangan menjadi bantal dan satunya lagi tengah berada diperut Metta..
" Astaga, bagaimana ini "
Rasa pegal di lengan nya pun ditahannya, Farrel memejamkan matanya kembali ketika Metta mulai menggeliat, tubuhnya terhimpit.
" Ah..malu sekali rasanya "
Farrel pura pura menggeliat juga, mengerjap ngerjapkan matanya.
" Euh..."
" Kau sudah bangun "
" Kakak.."
Berpura pura kaget, kemudian mengurai pelukan nya pada Metta. Dan segera berlari ke kamar mandi.
" Dia yang meluk, dia yang malu " gumam Metta menutup wajahnya dengan selimut.
" Apa yang kulakukan semalam yaa "
" Jangan jangan.."
" Tidak mungkin "
Setelah selesai dengan urusan nya Farrel keluar dengan mengendap ngendap. Dia sungguh malu sekali.
" Kamu kenapa "
Secepat kilat Farrel berbalik membelakangi Metta.
Mati gue...
" Euh enggak kak.." Sahutnya berpura pura sibuk mencari pakaian.
Metta mengerdikkan bahu nya kemudian turun dari ranjang, baru beberapa langkah metta mengaduh.
" Aw..." Metta memegangi perutnya yang terasa kram.
" Kakak.." Farrel bergegas menghampiri Metta dan membantunya berdiri.
" Aw, sakit sekali "
Farrel membawa Metta untuk duduk di sofa, disandarkannya kepala Metta di sandaran kursi.
" Kakak kenapa "
" Mana aku tau, mungkin ini karena semalam " ucapan Metta terhenti, dan melirik Farrel yang tengah berfikir.
Tiba tiba Farrel berlutut dikaki Metta, dengan memegang kedua kakinya dengan lembut.
" Aku akan tanggung jawab, aku akan menikahi kakak " seru Farrel dengan suara lantang.
Metta mengernyit, tak paham apa yang Farrel katakan.
" Hah, maksud mu? "
" Aku sungguh keterlaluan, maafkan aku kak "
" Apa maksudmu, menikah menikah "
" Kakak mau bilang kan kalau semalam kita "
Metta menautkan kedua alisnya.
" Kita.." Apa..?
Sungguh tak mengerti apa yang dikatakan Farrel.
" Kalau semalam kita..."
" Perut kakak sakit kan karena semalam itu kita"
" Apa bicara yang jelas, kita apa, semalam memangnya ada apa"
Farrel terlihat menghembuskan nafasnya,
" Kita semalam melakukan itu kan"
" Itu apa .. aw..sakit lagi" Metta kembali memegangi perutnya.
" Kita melakukan ninu ninu kan " Menempelkan kedua telapak tangan nya.
Metta terbelakak melihat tingkah Farrel kemudian tertawa terbahak, memegangi perutnya.
" Kau fikir kita melakukan itu semalam"
Farrel mengangguk.
Lagi lagi Metta tertawa terbahak bahak, sementara Farrel terpaku ditempatnya.
" Lantas kenapa perut kakak sakit " ujar Farrel tak mengerti.
" Kakak bilang karena semalam"
" kita juga tidur satu ranjang "
Metta masih tertawa terbahak, hingga berair mata.
" Kamu sungguh lucu, kamu fikir kita melakukan hal itu semalam, karena aku sakit perut, dan kita satu ranjang?"
" Kamu lucu sekali " Metta meraup kedua pipi Farrel dan menguyel uyelnya.
" Kakak berhentilah tertawa dan jelaskan lah padaku dulu"
" Baik baik " Metta menahan tawanya.
" Apa kau tidak ingat apapun semalam?"
" Tidak "
" Pppttt.."
Metta tak kuasa menahan tawanya.
" Kakak, berhentilah dulu jangan membuatku penasaran "
" Kita tidak melakukan hal itu Farrel, oke kita memang tidur satu ranjang, tapi kita tidak melakukannya, alias kita hanya tidur saja "
" Kau paham"
" Dan soal perutku yang sakit karena semalam mungkin aku belum makan, kemaren hanya makan sekali doank"
Farrel terlihat mengangguk anggukan kepalanya.
" Kau mengerti "
Terlihat Farrel mengeratkan giginya yang rapi dan menggaruk tengkuknya.
" Sudah awas aku mau mandi " Metta beranjak menuju kamar mandi.
"Hahahaha" Suara tawa melengking terdengar dari kamar mandi.
" Kakak stop "
Farrel melempar bantal kearah pintu kamar mandi yang tertutup.
Farrel terduduk disofa, merutuki dirinya yang berfikiran sejauh itu. Bergidig geli sendiri "
karena ternyata dia tak tau apa apa.
Meraih ponsel nya di atas meja, mendial nomor ponsel Alan.
"Halo"
" Aku tidak dari mana mana "
" Kau tau, aku bahkan mencari mu dari semalam"
" Sekarang dimana kamu"
" Aku mau kau kirim anak buahmu kesini "
" Kenapa, ada apa?"
" Sudah jangan banyak bertanya, kirimkan saja, nanti saja ceritanya "
" Oke kirimkan alamatmu "
.
.
.
Metta keluar dengan menggunakan jubah mandi, tidak ada pakaian lagi yang harus di kenakannya lagi, mana mungkin memakai pakaian yang sudah kemarin dipakainya.
Ujung Mata Farrel mengikuti gerak Metta yang tengah malu itu.
" Jangan lihat lihat " Metta berteriak di belakang lemari.
" Aku tidak melihatnya, sudah sini kita sarapn dulu"
Metta tetap berada ditempatnya.
" Aku tidak mau, kau duluan saja "
" Kakak "
" Kubilang kau duluan saja "
" Ya sudah kalau begitu, aku makan duluan ya "
" Hem "
Sementara Farrel membuka menu makanan yang di pesan nya.
" Wah ini sangat enak, Cumi saos tiram dan apa ini yaa " Dengan sengaja Farrel membulak balik kan penutup hidangan nya.
Harum semerbak sampai ke penciuman Metta, yang tengah bersembunyi di belakang lemari.
" Wah kak, kalau begini sih kayaknya habis kulahap semua"
Menyendok nasi, hup , cumi hup sayur kembali ke nasi hup hup.
Metta yang tidak bisa menahan lapar akhirnya berjalan pelan ke arah Farrel yang tengah menikmati makanannya.
Farrel tersentak melihat Metta yang hanya menggunakan jubah yang hanya sampai pangkal paha nya yang putih mulus, menampilkan belahan dada yang tak kalah mulus. Bagian rambut dibungkus dengan handuk kecil kebagian atas, dengan wajah tanpa riasaan namun tidak mengurangi kecantikan nya.
Farrel menelan ludah, seumur hidup dia tak pernah melihat pemandangan yang luar biasa itu secara langsung.
Ada gelanyar aneh berdesir dalam dirinya. Yang membuat naluri pria nya menyeruak tiba tiba.
" Sh it "
Farrel berusaha menghindari tatapannya tatkala Metta pun melihatnya dengan gelagapan.
" Aku lapar " Metta ragu- ragu.
Sungguh memalukan
" Kenapa aku seperti anak kecil " batinnya.
" Ayo makanlah, jangan menahan diri "
" Aku akan keluar sebentar, kakak makanlah "
Metta mengangguk, tangan nya dengan cekatan menyendok nasi, lauk pauk, dan sayur ditumpukkannya.
Farrel dengan cepat keluar dari kamar, dadanya bergemuruh hebat, memikirkannya saja dia takut.
" Lebih baik menunggu diluar, tidak baik untuk mataku yang masih suci ini " gumam Farrel melangkah dan menutup pintu.
Sementara Metta makan dengan lahap, kejadian kemarin membuat nya kehilangan banyak tenaga.
Tak lama kemudian orang suruhan Farrel yang di kirim Alan datang, menyerahkan paperpag pada Farrel.
" Tuan, ini yang tuan minta "
" Cx apa aku terlihat sudah tua "
" Tidak, anda masih sangat muda dan tampan sekali "
" Kalau begitu lantas kenapa memanggilku tuan, panggil aku Farrel saja "
Dia mengernyit, kesetiaan nya sedang di uji.
Alan yang menyuruhnya memanggil Farrel dengan sebutan itu.
"Jika orang lain akan bangga ketika dipanggil tuan, kenapa dia malah sebaliknya "
" Saya tidak berani tuan "
" Ya sudah terserahlah, kau boleh kembali "
" Maaf tuan Farrel, tapi tuan Alan menyuruhku tetap bersama anda sampai anda kembali "
Sungguh Farrel ingin tertawa mendengar apa yang diucapkannya. Panggilan panggilan yang membuat gendang telinganya geli.
" Terserahlah "
Farrel berbalik dan kembali masuk ke kamar.
Ceklek
Farrel mengedarkan pandangan, mencari sosok perempuan yang kini namanya mulai terpatri dihatinya. Dilihatnya meja sudah bersih tanda Metta sudah selesai dengan acara menyuplai tenaga tubuhnya.
Mencari dikamar mandi namun tidak ditemukannya.
"Kemana kakak pergi, tidak, tidak mungkin keluar dengan penampilan seperti itu."
Farrel berbalik menuju kamar, dilihatnya Metta bergelung ditengah ranjang bak sebuah guling.
" Astaga, rupanya kakak disini "
Farrel mendekati Metta dan meletakkan paperbag yang dia bawa ditepi ranjang. Dan ikut duduk disebelahnya, seketika Metta menggeliat merubah posisi tidurnya hingga jubah bagian atas tersingkap.
Glek..
.
.
.
🍁🍁
Permisi...😂
Ada bab sebelumnya yang harus aku revisi, tapi tidak mungkin kalau aku tidak up juga, jadi aku revisi sekalian aku up😂😂
Ah dasar aku ..
Jangan lupa like dan komennya yaa. karena itu sangat berharga buat aku yang masih ceh receh ini.
Terima kasih semuanya.
Salam Geje😚