Berondong Manisku

Berondong Manisku
locked by you, only you


"En-ngga.... kok!"


Metta menoleh pada Farrel dan Nissa yang berada disampingnya, "Lalu apa...?"


Nissa memejamkan matanya, sementara Farrel terbelalak menatap Nissa,


"Tatapan apa itu?"tanya nya pada Farrel, namun dia tak juga menjawabnya.


Lalu dia kembali meneruskan mencuci gelas yang kotor, kali ini dia menggosok gelasnya hingga diputar-putar berulang kali.


"Kak, jangan marah!" lirih Nissa.


"Enggak marah, kenapa harus marah."


Sementara Farrel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, jawaban yang dilontarkannya pada Nissa. Dia tahu artinya.


Mati gue.


"Sayang, aku gak ngapa-ngapain kok. Cuma main basket bentar sama Andra, Irfan, juga Jaka, itu aja!"


"Gak nanya!"


"Niss bantuin," gumamnya pada Nissa yang masih belum bisa membaca situasi.


"Gak usah bisik-bisik,"


Nissa membulatkan bola matanya nyaris sempurna, "Abang sih!"


"Mana lap keringnya?" Nissa menyodorkan lap piring pada Metta.


"Sayang, aku beneran gak ngapa-ngapain disana,"


"Iya kak, abang memang hanya main basket, jas nya dibuka, terus lengan kemejanya dilipat, sampai sini," Nissa menunjuk lengannya sendiri.


"Sampai seantero sekolahan pengen lihat bang Farrel pas main basket,"


"Katanya kayak artis, heboh banget deh waktu itu, sampai kakel (Kakak kelas)pada teriak-teriak,"


Sok Artis.


"Aduh Nissa," gumam Farrel dengan kerlingan dimatanya,


"Habis itu udah, hanya senyum-senyum aja sambil pake jas nya lagi,"


Astaga, bocah ember.


Namun Metta tetap tak bergeming, Sok cakep banget


Gumamnya.


"Nah kan aku gak ngapa-ngapain kan? iya kan Niss ...Nissa ada kok disana,"


Iya and Well kamu tebar-tebar pesona.


"Iya, Nissa malah dikerumunin,"


"Kenapa?" tanya Metta penasaran.


"Pas aku bilang bang El abang aku, semua minta nomor Nissa, minta nomor Abang."


"Kamu kasih?" seloroh Metta, Nissa menggelengkan kepalanya.


"Tawaran mereka gak ada yang bagus,"


"Tawaran? Tawaran apa...." Farrel mengernyit,


"Cx... memang apa yang kamu minta?"


"Engg-ng itu ..."


"Aku ke kamar dulu, ya kak Sha, bang El,"


Nissa memilih tindakan yang paling aman, menghindari, menjauhi kakaknya yang sudah berbicara dengan meletup letup, terdengar ketus, singkat dan tajam. Karena semakin lama berada disana, semakin lancar dia berceloteh.


"Ooh tidak, jangan sampai kak Sha tahu anak-anak bahkan memberi aku sogokan hanya untuk sekedar info tentang bang El."


"Nanti cerita lagi ya Niss, kalau bisa ajak sini lagi dong!"


"Iya niih, ah aku masih ingat senyum nya itu lho!"


"Beuuh, aku rela dah putusin pacarku buat abang,"


"Iya, tapi abang ganteng yang gak rela buat kamu,"


Celoteh teman-teman Nissa selama beberapa hari, yang berhasil mengumpulkan cemilan-cemilan dari kantin, coklat, permen, cilok, bahkan dengan paksaan meminta nomor ponsel Farrel namun tak kunjung dia berikan.


"Wah kalau nomor ponsel, aku gak berani kasih!"


"Yah Nissa, entar aku kasih link nya Army deh ( Sebutan Fans club oppa korea)


Sementara Metta yang membilas gelas terakhir masih terdiam meskipun Farrel menjelaskan berulang kali.


"Aku gak marah, udah sana,"


"Gak apa-apa,"


"Idih, siapa juga yang marah,"


Membuat Farrel memijit pelipisnya, bertepatan dengan Ibu Sri yang masuk,


"Sha, Nak El ayo kedepan."


Metta menyimpan gelas terakhir, "Iya Bu," sementara Farrel hanya mengangguk.


Tatapan nyalang ditujukan padanya, "Urusan kita belum selesai abaaaang,"


Lalu Metta keluar meninggalkan Farrel yang tengah terperangah dengan menepuk jidatnya sendiri.


Mereka kini berkumpul di ruang tamu, Ibu Sri, Metta dan Nissa duduk bersebelahan dalam satu sofa panjang, Ayah Arya dan bunda Ayu berdampingan disofa didepannya, sementara Farrel duduk disofa kecil yang diambil dari ruangan keluarga.


"Yang pertama yang saya ingin katakan yaitu, kami keluarga kami datang untuk melamar secara resmi pada keluarga ibu," ujar Arya serius.


Membuat Metta dan Farrel saling menatap bergantian,


"Ya walaupun kita sudah tahu, tapi secara teknisi kita akan melakukan hal itu, agar keluarga dan warga sekitar juga mengetahui sehingga tidak terjadi sesuatu kedepannya nanti."


Metta teringat cibiran dan desas-desus dari tetangga beberapa waktu lalu.


"Dan yang kedua, membicarakan lebih lanjut teknisi kedepan, waktu yang akan kita pilih yaitu menunggu kepulangan Andra sebagai wali nikah, dan besok kita bisa langsung mengantarkan Andra ke bandara, setelah itu membicarakan teknisi kedalamnya."


Metta dan Farrel kembali bertatapan, Farrel menatap Metta dengan seutas senyum tipis, sementara Metta langsung membuang muka.


Urusan kita belum selesai, enak saja senyum-senyum tanpa dosa. batin Metta.


Sri mengangguk, "Terima kasih sebelum nya, namun mungkin dari keluarga kami ya seadanya pak Arya,


"Jeng Sri tidak perlu menyediakan apa-apa, biar itu jadi urusan kami, besok ada orang yang akan datang menyiapkan nya, jeng tidak usah khawatir." timpal Bunda Ayu.


"Iya Bu, kebetulan saudara saya berada jauh, mungkin baru besok pagi mereka baru berangkat, jadi kami akan meminta RT setempat, dan pak ustadz."


"Iya bu gak apa-apa, yang penting nanti di hari H semua kumpul ya,"


"Betul itu pak, jeng."


"Bagaimana menurut kamu Sha?" imbuh Bunda Ayu kemudian.


"Hah...eemm..."


Sementara wajahnya sudah merah padam menahan malu.


"Bunda pake ditanya lagi segala, udah tahu kan jawabannya seperti apa?" Farrel terkekeh, sementara Metta mendelik kearahnya.


Dia saja tidak pernah melamarku seperti orang orang, mau kah- maukah. batin Metta kesal.


"Iya...iya..., bunda hanya ingin dengar saja."


Hingga mereka kembali bercengkrama satu hal ke hal lainnya. Sementara Metta dan Farrel sudah melipir ke ruang makan sekaligus ruang kelurga itu.


"Kenapa senyum-senyum?" ketus Metta saat melihat Farrel menatap nya dengan bibir yang melebar.


"Enggak... lucu aja, aku gak nyangka ayah sama bunda kesini untuk membicarakan hal itu,"


"Alasan! kamu juga pasti ikut andil,"


Farrel mengangkat jari telunjuk dan tengahnya keatas, "Enggak sayang, aku gak tahu. Sumpah!"


"Gak usah bawa-bawa sumpah," tatapan semakin menyalang kearah Farrel.


"Ih Kakak masih kesel aja," meringsut mendekati Metta.


"Siapa yang kesel!? biasa aja, lagian kesel kenapa?" mengerdikkan bahu.


Farrel tiba-tiba berlutut, dengan satu kaki yang bertumpu pada lututnya. Meraih tangan Metta meski dia menepisnya berulang kali,


"Mettasha, will you Marry me," menepiskan tangannya kembali.


"Aku ingin kamu menjadi seorang pacar, menjadi kekasih, menjadi kakak, menjadi teman hidupku, dan ibu dari anak-anakku." tangan yang bersikeras menepis itu kini melemah, dan ikut melandai dalam genggaman Farrel.


"Mungkin ini mendadak, dan tidak biasa. Tidak seperti orang lain yang melamar di tempat romantis yang indah dan penuh dengan bunga, karena aku tahu kamu tidak menyukai hal-hal seperti itu."


"Kata siapa? so tahu...." kembali menepiskan tangan Farrel.


Astaga salah lagi.


"Jadi kakak maunya dilamar seperti apa hem?"


"Siapa juga yang mau dilamar sama orang yang suka tebar pesona pada gadis-gadis ABG, sok-sok kegantengan," Sungut Metta.


Farrel menahan senyumnya, " Jadi kakak masih marah, cemburu iyaa?"


"Tau ahk nyebelin,"


Farrel mengelus pipinya dengan lembut,


"My heart has been locked by you, only you,"


(Hatiku sudah terkunci oleh mu, hanya kamu)