
Farrel masuk ke ruangan Alan dengan wajah yang menekuk. Mendaratkan tubuhnya di sofa kecil. Ruangan yang berbeda dibandingkan dengan kantor pusat. Kantor inilah kantor pertama yang di rintis oleh kakeknya.
" Kenapa kau tidak bilang apa yang terjadi kemarin padaku"
Farrel mengernyit melihat Alan yang tengah duduk di sofa, memeriksa file file ditangannya tanpa menoleh sedikitpun.
" Kau juga pasti sudah tau apa yang terjadi"
" Tidak, aku tidak tau" ujar Alan tanpa merubah posisinya.
"Cx kau kira aku tidak tau, kau bahkan menyuruh anak buahmu mengikutiku"
Alan berseringai, kali ini dia menoleh ke arah Farrel yang tengah mendekat, mendaratkan tubuh nya disampingnya.
" Kau keberatan?"
" Setidaknya biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri "
" Cx masalah perempuan saja kau tidak becus, menyelesaikan sendiri apa!" Alan tertawa.
" Sialan kau "
Farrel memukul bahu Alan, namun Alan tak menghentikan tawanya.
" Kenapa kau membuat dirimu sendiri sulit? cukup katakan siapa kau, maka perempuan mana yang tidak akan menyambutmu"
" Cih kau pintar sekali membual, kau sendiri bagaimana?"
" Hei kenapa malah membahasku "
" Kau saja tidak becus mencari jodoh," ucap Farrel dengan jengah.
Kini ruangan itu dipenuhi tawa dari mereka berdua. Menyadari bahwa mereka berdua sama sama sangat tidak becus masalah perempuan.
" Kau sudah mengecek emailmu?"
" Kau benar- benar mengirimnya untuk anak anak kita?"
Alan berseringai, " Tentu saja, jangan pernah mencoba main main denganku "
" Kau menakutkan " cibir Farrel.
" Pertama, dia bermain main dengan perusahaan. Kedua dia bermain main dengan wanitamu, haruskah aku berbaik hati?"
Aku tidak akan diam jika itu berkaitan denganmu tuan muda. Haahaa" Tukas Alan.
"Cx..kau bahkan tidak memberikan ku kesempatan, aku ini sudah dewasa!" sahut Farrel kesal.
" Dewasa apanya?" Alan melihat ujung kepala hingga ujung kaki Farrel.
" Kau tidak tau, bahkan aku sudah...?
Farrel menghentikan perkataannya.
" Sial, mana mungkin aku mengatakan tentang mimpi itu "
" Sudah apa..?" Alan menunggu Farrel melanjutkan perkataannya.
" Tidak..lupakan!"
" Kau masih belum mengerti juga, bunda bisa membunuhku jika terjadi sesuatu padamu, dan Ayah sudah pasti membunuhku jika terjadi sesuatu pada perusahaan." tukas Alan kemudian.
"Iyaa dan mereka pasti juga membunuhku jika kau tidak ada"
Hahahaha..lagi lagi mereka tertawa.
.
.
Farrel beranjak dari sofa, hari ini dia akan menyelesaikan permasalahan dengan para karyawan perkebunan.
" Kau siap?"
Farrel mengangguk, kali ini proses terakhir dari rentetan penyelesaian dari masalah perusahaan.
" Ku ingatkan, jangan coba coba kirim kakak menyusulku!" tangan nya menunjuk ke arah Alan, kemudian berlalu dibalik pintu.
" Kakak...kakak.." gumam Alan mencibir Farrel.
" Apa yang dimiliki oleh perempuan itu hingga Farrel benar benar tertarik bahkan bisa membuat Farrel mau melibatkan diri pada masalah perusahaan seperti sekarang?"
Alan kemudian meraih ponsel yang dia letakan dimeja, menghubungi seseorang.
" Selidiki perempuan ini "
" Hem..secepatnya"
" Hem.."
bip..
Sambungan telpon pun terputus.
.
.
" Farrel?"
" Kamu disini juga"
" Heh, hai Sya magang juga disini"
" Iya nih, ini baru selesai ngerjain laporan harian nya."
Tasya, yang memang sangat menyukai Farrel begitu senang ketika mendengar kalau Farrel berada disini dari sahabatnya Doni, dan akhirnya yang ditunggu tunggu pun datang.
" Makan siang bareng yuk" Ujar Tasya memegang lengan Farrel dengan manja.
Farrel berusaha melepaskan tangan Tasya, namun lagi lagi Tasya memegangnya.
" Lepas Sya, malu banyak orang"
Tasya mengerucutkan bibirnya tanpa melepaskan pegangannya.
" Kamu kok gitu sih,?" ucapnya manja.
" Gak apa apa donk, lagian disini juga gak ada yang peduli kan kalo liat kita begini." lanjutnya lagi.
" Yuk, makan makan siang bareng"
Tidak punya malu, dan tidak menantang.
" Tidak seperti kakak, Ah iyaa kakak kan mengajak ku makan siang." Farrel melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
Tepat pada saat itu Metta keluar dari ruangan nya, selesai sudah pekerjaan nya hari ini, dan besok pagi sudah bisa kembali. Serta mendapat jatah libur langsung selama 2 hari. Begitu membuat Metta senang, mendapat gaji berlipat lipat dan libur pula.
Metta berjalan keluar ruangan, senyumnya bahkan lebih merekah dari sebelumnya. Tidak adanya Hendra membuat dirinya semakin tenang. Entah kemana dia juga Metta tak perduli.
Dilihatnya Farrel tengah tarik menarik tangan dengan seorang perempuan seusianya. Miris, Metta memandanginya dengan perasaan yang tidak karuan.
" Mereka begitu cocok " batin Metta.
Namun ada sesuatu yang terasa perih dalam hatinya setelah mengucapkannya. Bahkan mungkin tanpa Metta sadari diam diam Farrel telah menyusup dalam hatinya.
Berjalan kembali ke dalam, tidak mungkin. Tapi melangkah melewatinya juga tidak sanggup, Metta hanya berdiam diri.
Hingga satu tepukan mendarat di bahunya, Metta menoleh.
" Doni?"
" Hai kak, lagi nungguin siapa?" Ujar Doni dengan mengedarkan kedua matanya ke sekeliling.
" Emmph..gak nunggu siapa siapa kok"
" Kamu disini juga, kirain magang di hotel kemarin"
" Magang disini kak, terus nginepnya di hotel kemaren. Yaa karena paling deket sama tempat ini" ujar Doni.
Sedangkan Metta hanya beroh ria .
Metta dan Doni pun berjalan beriringan keluar, melewati Farrel yang terpaku melihatnya.
" Hei, Rel taa api makan siang bareng yuk." ucap Doni saat mereka berjalan melewati.
Sementara Metta menarik bibirnya ke atas begitu manis. Membuat Farrel berang dan menatap sinis padanya.
" Bahkan kakak bisa tersenyum begitu manis saat bersama Doni" Batin Farrel.
" Apa kita semua akan makan siang bersama kakak ini?" seru Tasya tiba tiba, membuyarkan tatapan kedua sahabat itu pada Metta.
" Tentu saja kalo kalian mau " tukas Metta.
Tasya merasa tersaingi ketika ada perempuan yang lebih menarik perhatian dari pada dirinya.
"Apa tidak ada lagi teman sepantaran kakak untuk diajak makan siang?"
Jlebb..
Kata kata yang Tasya ucapkan menyakitkan hati Metta, bagaimana tidak bahkan secara tidak langsung mengatakan dia tidak tau malu kah?
" Apa maksudmu?" Ucap Metta.
" Masa begitu saja tidak tau maksudku" sahut Tasya.
Sementara Farrel dan Doni terbelalak tak percaya apa yang di lakukan Tasya.
" Jaga ucapanmu,"
" Yang kukatakan tidak salah kan, KAKAK "
Tasya mengucapkan kata terakhirnya oenuh penekanan.
" Dasar rubah kecil" gumam Metta , entah terdengar atau tidak .Dia tidak perduli.
" Sudahlah ayo Rel" Tasya menggandeng tangan Farrel agar mengikuti nya, namun Farrel
diam tak bergerak.
Farrel menatap Tasya dengan jengah, sekilas melihat kearah Metta yang sedang bersama Doni.
Farrel melepaskan tangan Tasya yang tengah bergelanyut manja, dan berjalan dengan cepat menghampiri Metta.
Dengan tatapan nanar Farrel meraih tangan Metta dan menariknya. Berjalan dengan cepat membuat Metta kerepotan mengikuti langkahnya.
Sementara Tasya menghentak kan kakinya ke tanah, melihat Farrel menarik Metta. Doni terpaku tak mengerti.
" Farrel..Lepas" ucap Metta setengah berteriak.
Namun Farrel tak menggubris apa yang dikatakan Metta.
" Farrel.." Metta sekuat tenaga melepaskan gengaman tangan Farrel.
" Kamu kenapa sih" Metta mengusap tangan nya yang memerah.
Seketika kesadaran Farrel kembali setelah melihat Metta kesakitan.
" Maaf..maafin aku kak aku gak bermaksud menyakiti kakak" Farrel mengusap tangan Metta.
Namun Metta menghempaskan tangan Farrel seketika itu juga.
" Kau benar benar sudah gila "
Metta berbalik, melangkah meninggalkan Farrel yang tengah terpaku.
"Kak.."Farrel berlari memeluk Metta dari belakang.
" Kak maafin aku "
Sesaat mereka mematung dengan posisinya.
Metta melangkahkan kakinya, namun juga tidak menolak saat Farrel memeluknya seperti saat ini. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat ini, seketika merasa bahunya terasa basah, dengan suara isak terdengar dari orang yang tengah memeluknya.
" Kaa...mu kena pa menangis "
.
.
.
🍁🍁
Akhirnya 2 bab hari ini, 😂
Makasih yang udah terus kasih aku semangat buat Up..
Semoga karya aku bisa diterima yaa💖