
Seseorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka. Dengan wajah lelah dan juga lusuh. Dia menghampiri Farrel dan juga Metta.
"Apa anakku ada di dalam?"
Keduanya mengenadah, menatap sesosok ibu paruh baya itu yang berdiri dihadapan mereka.
"Maaf ibu siapa?" tanya Metta dengan ragu.
Ibu itu mere mas kedua tangannya, "Saya Sari, ibunya Tiwi."
Farrel memalingkan wajah ke arah lain, berdasarkan apa yang di ceritakan Doni, bahwa ibunya bahkan memperlakukan anaknya sendiri dengan tidak baik.
"Memang betul bu, anak ibu tengah berada di dalam, dokter sedang baru saja masuk." jelas Metta, sementara Farrel hanya mendengarkannya saja.
Sari berjalan bergegas ke arah pintu, namun seorang perawat menahannya.
"Maaf bu, belum boleh masuk, dokter sedang mengambil tindakan. Mohon bersabar dan juga berdoa ya bu!"
"Tapi aku ingin melihatnya sus, ijinkan aku masuk untuk melihat anakku. Dia anakku, aku ingin melihatnya."
Metta bangkit dari duduk nya dan menghampirinya. "Ibu, duduk lah dulu, kita tunggu dokter sampai selesai."
"Ibu tidak mau! Ibu mau melihat Tiwi, bagaimana keadaannya? bagaimana...." mengguncangkan bahu Metta.
Farrel yang melihatnya pun langsung berdiri dan menepiskan tangannya dari bahu sang istri, "Lepaskan tanganmu dari istriku, apa kau tidak dengar penjelasan perawat tadi?" sentak Farrel.
Metta langsung mengucap lengannya, "Sayang, tenanglah, aku tidak apa-apa."
Farrel menuntun istrinya untuk duduk, sementara Sari sendiri terlihat tidak karuan, beberapa kali dirinya berusaha masuk, namun tentu saja belum boleh.
Keadaan semakin terasa mencekam saat upaya dokter tidak berhasil jiga, dokter beberapa kali menggelengkan kepalanya.
"Ini tidak akan berhasil, dia sudah pergi." lirihnya pada perawat disampingnya.
Doni mendekat, "Dok coba lagi dok, jangan menyerah begitu saja!
Dokter menggelengkan kepalanya, "Maaf, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi tuhan lebih menyayanginya dibanding kita semua yang ada di sini."
"Yang sabar yaa, ini mungkin yang terbaik untuknya." dokter menguatkan Doni dengan menyentuh bahunya.
Tangis Doni luruh begitu saja, tubuhnya merosot ke lantai, dia tidak menyangka Tiwi akan pergi dengan cara yang begini.
Dokter keluar dari ruangan,
"Dokter bagaimana?"
Dokter lembali menggeleng, "Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik."
Dokter pun pergi begitu saja, membuat Sari terhenyak, begitu juga dengan Metta dan juga Farrel.
"Tidak mungkin ...Tiwi!"
Sari masuk menerobos pintu, dia mengguncangkan tubuh terbujur kaku itu.
"Tiwi, ini ibu nak! Bangun Nak, kita akan pulang! Maafkan ibu nak, jangan seperti ini ... ayo bangun!"
Metta dan Farrel masuk, mereka bahkan ikut merasakan kesedihan, rasa pilu yang dirasakan oleh Doni dan juga Ibu nya sendiri.
Sari menoleh pada Doni lalu mendaratkan pukulan bertubi-tubi padanya.
"Kau...kau yang menyebabkan putriku menjadi begini kan? iya kan? kau membunuhnya? Kau membuatnya kehilangan nyawa."
"Kau pembunuh! Brengsekk, kau memang brengsekk!!?"
Doni menangis, bukan karena sakit ditubuhnya, namun karena apa yang dikatakan oleh ibunya Tiwi. Karena memang dirinya lah yang menyebabkan Tiwi kecelakaan, akibat menyelamatkannya lah, dia kehilangan anak dslam kandungannya dan bahkan nyawanya sendiri.
Metta berusaha menenangkan ibunya Tiwi, sedangkan Farrel yang membantu Doni yang masih terpaku ditempatnya.
"Ini bukan salahmu Doni, bukan! Ayo bangunlah, kita akan mengurus pemakaman." ujar Farrel yang berusaha tegar, meskipun dirinya juga merasakan perih di hatinya.
Sekalipun tidak mengenal dekat, namun sempat beberapa kali bersinggungan dengan nya.
"Tenanglah bu, tenang, Tiwi sudah tidak ada, kasian dia, jika ibu terus menangis, Tiwi juga sudah bahagia disana bu."
Sari menggelengkan kepalanya. "Ini semua gara-gara dia! Semua gara-gara kamu! Anakku meninggal gara-gara kamu!" teriak nya dengan histeris.
"Kemana saja kau selama ini? Hah... kau baru mengakui dia anakmu sekarang? Kemana saat dia membutuhkanmu." Seru Doni yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Sari tersentak, dia juga bersalah, dia benar-benar menyesal justru saat anaknya itu telah tiada.
"Cih ... kedatanganmu sungguh terlambat! Kau lupa, kau sendiri yang menginginkan dia mati! Apa kau lupa? Hah..." teriaknya lagi.
Farrel memegang bahunya, "Tenanglah, kau akan membuat keributan disini, jangan begitu!"
Doni lantas keluar dari ruangan begitu saja, menghirup udara sebanyak dia bisa, berharap dadanya yang terasa sesak tergantikan oleh udara yang baru.
Doni menatap ruang lab yang tidak jauh dari sana. Terlambat sudah, percuma mengetahui anak siapa pun itu, kedua nya telah hilang, keduanya telah pergi.
Dia mendudukkan dirinya dikursi panjang, dengan berkali-kali dia menghembuskan nafasnya panjang.
Doni tak sedikitpun menoleh, dia hanya meraup wajahnya dengan kasar.
"Dia sudah pergi, dan aku yang membunuhnya Rel!" lirihnya.
"Tidak Don, bukan karena kamu, tapi ini sudah menjadi takdirnya."
Doni menggelengkan kepalanya, "Hari ini Tes DNA itu keluar, harusnya hari ini aku tahu anak yang dikandungnya itu anakku atau bukan? Apa kau tahu Rel?"
"Dia menuliskan surat untukku, tentang curahan hatinya," Doni mendengus.
"Kau tahu, dia bilang dia akan pergi saat tahu hasil DNA itu, Apa yang dia ucapkan adalah hari ini? Apa dia sudah tahu anak siapa yang di kandungnya?" sambungnya lagi.
"Dia bilang dia sudah tidak mau mengejarku, dia sudah lelah dan tidak akan peduli padaku lagi."
Farrel terhenyak, namun dia juga tidak bisa bicara apapun. Dia hanya menekan bahunya, agar dirinya kuat, dan juga tegar dalam menghadapinya.
"Kita harus kembali, kita akan mempersiapkan segala sesuatunya.
.
Hari pemakaman.
Semua orang berpakaian hitam-hitam tampak berkumpul di area pemakaman, larut dalam kesedihannya masing -masing. Sari yang datang dengan suaminya, lalu Metta juga Farrel, Dinda dan sejumlah teman dan rekan-rekan sekantor Tiwi.
Tiwi tidaklah punya banyak teman, bahkan terkenal angkuh dalam segala hal, namun kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan membawa kita.
Sejumlah anak jalanan tampak berkumpul diarea makam, namun mereka tidak berani mendekat. Hingga prosesi pemakamana selesai, dan semua orang telah pergi dengan sendirinya.
Yang tersisa hanya Doni, dia masih belum mau pergi meski Farrel memaksanya. Akhinya Farrel dan Metta pun berlalu pergi.
Sejumlah anak jalanan itu baru berani mendekat, bahkan di antara mereka ada yang menangis,
Doni menatap mereka, begitu juga dengan mereka.
"Ini Mbak Tiwi, yang selama ini selalu mengasuh kami dan adik-adik kami, dia sudah seperti orang tua bagi kami, yang memang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua."
Doni terhenyak, dia bahkan tidak pernah tahu akan hal itu.
"Mbak Tiwi sering berkunjung ke sanggar tempat tinggal kami, tapi sudah hampir sebulan dia tidak pernah datang lagi." ujar Salah satu anak yang paling tinggi.
"Mbak Tiwi sering datang sebelumnya?"
"Saat Mbak Tiwi libur, kadang-kadang datangnya dini hari ataupun malam hari, dia bilang karena dia harus mencari uang dulu yang banyak agar bisa memberikannya pada kamu." ucap anak perempuan.
Aku tidak pernah menyangka, Tiwi yang kehilangan kasih sayang keluarga dan menghancurkan keluarga orang lain, namun may mengurusi anak-anak yang mengalami hal yang sama dengannya.
Aku terlambat mengenal mu ... Tiwi.
Setelah kepergian anak-anak itu, Doni kembali merutuki dirinya, dia sungguh menyesal dengan apa yang terjadi.
Sementara itu Farrel dan Metta baru masuk kedalam mobil. "Sayang, tunggu sebentar yaa, aku harus kembali melihat Doni,"
Metta mengangguk, "Iya El, gak apa-apa."
Tak lama kemudian Farrel berjalan mendekat pada Doni yang masih berdiam diri di makam yang masih basah itu.
Farrel menyodorkan selembar kertas kehadapannya, "Aku rasa kamu harus tahu!"
Doni mengenadahkan kepalanya. Dia lantas meraih selembar kertas dari tangan Farrel.
Deg
"Surat hasil tes DNA?"
Farrel mengangguk, "Saat kamu kemarin meninggalkan rumah sakit, aku mengambilnya dari Lab, aku ingin kamu tahu apapun hasilnya,"
"Thanks Rel, aku bahkan nyaris melupakannya."
Farrel kembali mengangguk, "Jika sudah selesai, pulanglah. Kau butuh istirahat."
Doni mengangguk, sementara Farrel kembali meninggalkannya sendiri.
Tak lama kemudian Doni membuka amplop uang masih tersegel rapat itu. Membuka selembar kertas itu dan berakhir dengan luruhnya kembali air mata dari kedua matanya.
Dadanya kembali sesak, bahkan terasa sangat sesak.
Dari hasil ilmiah yang diperoleh, dengan mengacu sample yang diperiksa, menunjukan bahwa analisa dari terduga ayah Doni permana dan janin yang dikandung Ny Pratiwi. Menunjukan probabilitas Doni permana sebagai ayah biologi dari janin Ny Pratiwi adalah 100%. Oleh karena itu Doni Permana sebagai terduga Ayah biologis dari janin Ny Pratiwi tidak bisa diganggu gugat.
"Dia benar-benar anakku Wi...Anakku, dan aku yang membuatnya hilang!!" gumam Doni dalam penyesalan.
Dirinya bersimpuh dengan menggenggam tanah merah yang menggunduk di makam Tiwi.
Jika ada yang bisa dia lakukan untuk membuat mereka kembali, pasti dia akan melakukannya.
"Maafkan aku Tiwi, kamu memang benar-benar pergi setelah hasil tes DNA itu keluar. Kau menepati janjimu dalam surat yang kau tulis untukku."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"