
Farrel tak sedikitpun melepaskan genggaman Metta dari tangannya, dia berjalan beriringan masuk kedalam ruangan yang telah dibuka oleh Mac, sesaat mereka berdua tak dapat berkata apapun. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Ibu kenapa ada disini? Ndra, Niss... Apa yang terjadi?" Metta beralih menatap Ayu.
"Kamu menuduh kami mengintimidasi mereka?" Metta menggeleng, namun juga kebingungan.
"Apa maksud semua ini bunda?"
"Apapun yang kalian rencanakan, aku tidak akan berpisah dari kakak, kalau perlu aku akan pergi menjauh dari kalian!"
"Dasar anak nakal, duduklah kau semakin membuat kami menunggu, aku harus menahan lapar hanya untuk menunggu mu saja."
"Alan, jaga bicaramu Nak?"
"Maaf Bun, semua gara-gara dia! Ayo duduk tunggu apalagi!"bentak Alan.
Pandangan Farrel berubah tajam, menyoroti kedua orangtuanya dan juga Alan, "Apa lagi yang kalian rencanakan, untuk memisahkan kami berdua ...?"
"Ibu, katakan padaku bu ada apa?"
"Duduklah dulu Nak," Sri melirik Ayu yang tengah menatapnya lalu mengangguk.
"Duduklah."
Metta duduk di kursi yang diapit oleh Bunda Farrel dan ibunya, sementara Farrel duduk disamping Alan dan juga Ayahnya.
Khem
Arya berdehem, sebelum berbicara.
"Ayah, aku benar-benar tidak akan memaafkan Ayah jika berencana buruk terhadap hubunganku dan kakak."
"Dengarkan dulu baru bicara," bentak Alan, "Kau benar- benar bodoh."
"Kau juga..."
"Jadi bagaimana Ayah berbicara jika kalian saja masih ribut?"
Alan mulai berbicara, semua tanpa terkecuali.
"Jadi kalian selama ini hanya mengujiku?"
Arya dan Ayu mengangguk.
"Untuk melihat bagaimana aku berjuang?" mereka mengangguk lagi.
"Dan kalian memakai kakak menjadi alasan itu?" mereka menggeleng.
"Kalau itu tanya Bunda, Ayah hanya mengikuti rencana bunda!"
"Bunda hanya ingin yang terbaik untuk calon menantu bunda, wanita yang tegar, harus kuat dan tahan godaan apapun." jawab Ayu menatap Metta.
"Apa bunda sudah melihatnya?" Ayu mengangguk.
"Bahkan diluar ekspetasi Bunda," Menyentuh tangan Metta dengan lembut.
"Maafkan Bunda ya sayang, Bunda berlebihan mengkhwatirkan anak nakal Bunda."
Ayu dan Arya menceritakan semua nya tanpa terlewat, bagaimana mereka menekannya hingga melarangnya dan menolak keras hubungannya dengan Metta. Bagaimana mereka membuat Alan dan Dinda ikut bekerja sama agar semua terlihat sempurna.
"Dinda...? Bunda mengangguk.
"Dinda sahabatku...?
"Benar sayang..."
Bertepatan dengan itu, Dinda masuk diantarkan oleh Mac, "Selamat sore semua...!"
Dinda langsung mendudukkan bokongnya di samping Alan, "Hai My Sweety Ice."
Alan memutar malas matanya menghindari Dinda.
"Hai Sha...! Sorry,"
"Aku gak paham sama semuanya, benar-benar gak paham."
Flashback on
"Yah, El akhir-akhir ini sibuk sekali. Apa karena wanita itu?"
"Apa Dia baik?"
"Dia merubah anak manja bunda semakin dewasa?"
"Benarkah?"
Arya menyerahkan laporan pekerjaan yang dilakukan Farrel bahkan sampai berhasil memenangkan dukungan terbesar dari tetua di Kalimantan yang sangat terkenal dengan adat istiadatnya. Hingga dia rela berada disana selama 2 minggu untuk mempelajari semuanya sendiri.
"Apa ini benar anak nakal itu?"
"Hm, dan semua berkat perempuan itu! dia yang membuat anak kita berfikir lebih dewasa,"
"Aku harus melihatnya sendiri Yah,"
"Bunda terlalu berlebihan."
Saat itu Tasya datang dengan rencana busuknya, hingga membuat Ayu semakin tidak percaya sebelum melihatnya sendiri, setelah kejadian di mall itulah Ayu sempat meragukan Metta.
Sementara Dinda yang ingin membantu Metta memutuskan menemui Ayu dan menceritakan semuanya.
"Maaf tapi tante tidak percaya apapun, sebelum tante melihatnya langsung dengan mata kepala tante sendiri."
"Bagaimana caranya agar Tante melihatnya sendiri?" Ucap Dinda kala itu.
"Apa kamu bisa membantuku?"
Namun ketika Ayu sudah yakin dengan Metta, Arya lah yang meminta Ayu membantunya, hanya untuk melihat kegigihan Farrel dalam mengurus perusahaan.
"Maaf yaa Sha, gue hanya ingin bantuin lo?"
"Astaga..." Metta meraup wajah dengan kedua tangannya.
"Maafkan Bunda dan Ayah ya Nak,"
"Ayah dan Bunda keterlaluan! bagaimana bisa Ayah bekerja sama dengan bunda dan kalian semua membantunya,"
"Maaf El, kami bersalah, karena menginginkan yang terbaik untuk keduanya." Arya memegang bahu Farrel.
"Perusahaan dan juga masa depanmu."
"Tapi tidak begitu cara nya yah! Apa Ayah tahu bagaimana rasanya setiap hari melihat Bunda yang selalu menghindariku,"
"Apa ibu juga mengetahui semua dari awal?" Sri menggelengkan kepala nya saat Farrel bertanya padanya.
"Ibu baru saja tahu semua seminggu yang lalu, saat kedua orang tua mu datang menemui ibu di rumah."
"Datang kerumah?" ucap Metta dan Farrel serentak.
"Mereka mencari kamu yang pergi dari rumah, hingga menceritakan semuanya sama ibu, Nak."
"Dan Tante Ayu menghubungiku juga, meminta bantuanku, karena hanya dengan menemui kakak, Kamu yang menghilang pasti akan menghubungi mereka!" Ucap Dinda.
Ayu membulatkan kedua matanya menyoroti Farrel. "Semua karena kamu mengabaikan panggilan dan pesan dari Bunda,"
"Astaga, kerja sama keluarga yang lebay,"
"Ini pasti akal-akalan lo aja kan, sejak awal lo tau gue dimana? Mac bahkan selalu laporan setiap hari."
"Gue disini hanya membuat semua berjalan sempurna, Ayah perlu pembuktian, Bunda perlu keyakinan dan lo - anak nakal butuh pengakuan,"
"Semua sudah senang, mari kita makan... aku sudah sangat lapar,!"
Sementara Metta dan Farrel saling menatap, bahkan belum mengerti kenapa bisa- bisanya mereka makan setenang ini.
"Apa bunda tidak keberatan dengan usia ku yang jauh diatas usia anak bunda," ucapnya saat Ayu dan yang lainnya selesai makan.
"Tidak sayang, sama sekali tidak. Kau jangan khawatir,"
Metta mengangguk, namun dia kini berdiri dan menggebrak meja, "Apa kalian semua puas? karena mempermainkan perasaan anak-anak kalian sendiri?"
"Apa kalian tahu bagaimana aku dan El setiap hari saling menguatkan satu sama lain?"
"Apa kalian juga tahu seberapa banyak tangisan yang aku dan El habiskan?"
"Egois...!"
"Sha, sudah tenangkan dirimu Nak," Sri mengusap pelan punggung Metta.
Metta luruh dengan sendirinya, tangisannya pecah saat itu juga,
"Sha gue minta maaf, " Dinda meraih tubuh Metta,
Metta terus menangis, dalam dekapan sang ibu, kedua adiknya yang belum paham sepenuhnya hanya mampu melihat tanpa berbuat apa-apa.
"Kak..."
Farrel mendekati kekasihnya itu, dia merengkuh Metta dalam dekapannya.
"Sudah berhenti menangis ya,"
Metta semakin mengeratkan pelukannya pada Farrel. Tangisnya semakin hebat. Perasaannya merasa dipermainkan.
"El bawa aku keluar dari ruangan ini, aku tidak bisa berfikir apa-apa saat ini."
"Iya kita pergi dari sini... sudah berhenti menangis."
Farrel membawa Metta keluar dari ruangan itu.
Dia juga tidak peduli pesta yang masih berlangsung, Farrel hanya ingin menenangkan kekasihnya, meskipun dia sendiri masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan keluarga nya yang berlebihan itu.
Bukankah seharusnya bahagia?
Iya, tapi hatinya juga perlu waktu,
Kecewa? pasti ...
"Yah bagaimana ini? Mereka pasti kecewa dengan tindakan kita yang berlebihan,"
"Biarkan mereka tenang dulu, habis itu kita bicarakan lagi." ucap Arya.
"Maafkan kami yaa jeng, mereka pasti sangat kecewa pada kami."
"Tidak apa-apa jeng, Mereka pasti kaget dengan semua yang sudsh terjadi." ucap Sri.
"Meminta maaflah dengan cara yang benar, tunjukan kalau Ayah dan Bunda menerima mereka tanpa pembuktian apa-apa lagi." Tukas Alan datar.
.
.
Maafkan Authornya geje ini muter-muter kek gasingš¤,
jangan lupa like dan komen nya yaa..tak lupa beribu banyak terima kasih Author ucapkan pada semua yang sudah dukung Author sampe hari ini.
Author baru sadar kalau sudah di bab 100 lagiš¤£. dan semua karena dukungan dari kalian semuaā¤ā¤
Terima kasihā¤