Berondong Manisku

Berondong Manisku
Semua akan baik-baik saja


Secepat kilat Erik melajukan mobil dengan kecepatan tinggi kecepatan tinggi, membelah jalanan dengan melesat. Tak peduli dengan teriakan kaget dari pengendara lain karena dia menekan klakson nya berkali-kali. Dan berakhir di sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi."


"Aku harus memastikan semua nya sendiri." gumamnya saat membuka seat belt yang membelit tubuhnya. Lantas dia turun dari mobil dan langsung menghampiri penjaga rumah yang juga tengah berdiri menyambutnya.


"Apa Tasya ada di rumah?" tanya nya.


Security itu mengangguk, " Ada Tuan, tapi mohon maaf, saya harus menanyakan langsung pada nona, apa akan menerima tamu atau tidak! Karena sepertinya nona sedang tidak sehat dan butuh istirahat."


"Kalau begitu, tanyakanlah...." Ujar Erik yang mempersilahkan security itu menanyakan terlebih dahulu.


"Maaf dengan Tuan....?"


"Erik ... bilang padanya Federicko."


Security itu mengangguk, lalu masuk kedalam pos penjagaan dan menelepon majikannya, tidak lama kemudian dia kembali keluar dan membuka gerbang untuk Erik.


"Silahkan masuk." ucap Security itu.


Erik mengangguk."Terima kasih."


Pintu terbuka, seorang pelayan mempersilahkannya masuk kedalam ruang tamu untuk menunggu Tasya turun.


Erik menghempaskan tubuhnya disofa, meskipun sofa yang di duduki empuk namun Erik merasa tengah berada di ujung jembatan yang hampir rubuh. Semua seperti petir disiang hari. Entah apa yang akan dia katakan pada Tasya saat mereka bertemu muka.


Tasya baru keluar dari kamar dan menuju tangga kebawah untuk menemui Erik, meskipun berat, semua harus dihadapi sebagai resiko bukan? Dan Tasya sudah benar-benar berubah.


Raut wajah kelelahan dengan mata yang sedikit sembab, dan hidung memerah tampak jelas disana,


Erik memandang Tasya yang berjalan ke arahnya.


Dia pasti mengalami hari-hari yang berat.


"Hai...!" ujar Erik dengan kedua tangan berada di saku, menutupi rasa canggung dan keresahan yang dia alami.


Tasya hanya mengangguk dengan senyum teramat kecil, dia lebih banyak menundukkan kepalanya karena canggung dan juga bingung.


"Maaf...!"


Tasya menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu meminya maaf."


"Aku telah melakukan hal yang bodoh." Ujar Erik dengan kedua bola mata yang mengarah pada perut Tasya.


Tasya mendudukkan dirinya di sofa, "Duduklah!"


Erik kembali duduk, kedua bola matanya tidak lepas dari memandang wajah Tasya dan berakhir diperutnya yang sudah terlihat.


"Are you oke?"


Tasya tak menjawab, dia hanya tersenyum.


"Apa kau sudah memeriksanya?" Ujar Erik dengan memegang kepalanya tidak karuan.


"Jujur saja, ini situasi yang baru aku alami, dan aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, yang jelas aku menyesal."


"Dan juga aku akan bertanggung jawab, a--aku ...."


"Sudahlah aku tidak menuntut mu melakukan hal itu, karena aku juga bersalah dalam hal ini. Lebih baik begini saja, anggap saja tidak pernah ada apa-apa diantara kita! Itu lebih baik."


"Apa kau tidak mau aku bertanggung jawab karena aku orang yang brengsekk? Aku tidak pantas begitu?"


"Aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini lagi, ini sudah menjadi keputusanku!"


"Kau mengatakan hal ini keputusan mu sendiri? Lantas kau tidak mengatakan apapun padaku? Aku bahkan baru tahu hari ini. Apa aku seburuk itu? Hingga kau tidak mau melibatkan aku?" kata Erik dengan sekali nafas.


Tasya mendengus, "Aku tidak perlu meminta pendapatmu, ini hidupku!"


"Tapi aku ayahnya Tasya ... aku tetap ayahnya sekalipun kau tidak mau, bukan begitu?"


"Sudahlah, aku kan tidak menuntut mu, aku tidak memintamu bertanggung jawab."


Erik menarik tipis bibirnya, "Tasya, ternyata kau keras kepala juga!"


Tasya hanya mendesis. Kecanggungan yang terjadi diantara mereka, menjadi penyebabnya.


Hening


Untuk beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan, berselancar dalam fikiran masing-masing dengan segala rencana yang tersusun rapi dikepala dan hancur seketika. Membuat mereka harus menyusun kembali rencana yang bahkan akan mempersulit, namun semua masalah ada jalan keluarnya bukan?


"Aku akan menikahimu." Ujar Erik memecah keheningan.


Membuat Tasya tercengang, dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau, dan aku tidak setuju."


"Kenapa? Kenapa kau tidak mau? Apa karena Tiwi."


Tasya terdiam, itu memang benar, dia tidak ingin merusak hubungan nya dengan Tiwi, terlebih karena Erik mencintai Tiwi.


"Aku tahu ini tidak akan mudah untukmu, dan jujur aku juga, tapi aku akan berusaha semampuku. Aku akan bertanggung jawab terhadap mu dan bayi yang ada didalam kandungan mu."


Tasya tidak menjawab, fikirannya terlalu sibuk mencerna, Perlahan Erik mendekat.


"Boleh aku menyentuhnya?"


Tasya mengangguk, bagaimanapun juga dia lah ayahnya, dan otaknya memerintahkan sel saraf leher untuk mengangguk.


tiba-tiba menyeruak di dalam tangan Erik. Menggantikan seluruh kecemasan di dalam hatinya.


"Berapa usianya sekarang?"


"Kata dokter 22 minggu." Erik mengangguk.


"Hei, dia berdenyut .... Apa dia sudah bisa merasakan sentuhan?" seru Erik saat perut Tasya bergerak.


Tasya mengangguk, "Mungkin dia mengenalimu!" gumamnya pelan.


"Tentu saja dia mengenali ku! Dia mengenali ayahnya, iya kan." Ujar Erik dengan mencondongkan tubuhnya menghadap perut buncit Tasya.


"Aku akan berusaha menjadi Ayah terbaik untukmu, aku janji." Ujarnya kemudian kembali mengelusnya.


Tasya menyusut ujung mata yang menganak, hatinya mulai menghangat mendengar ucapan Erik. Lalu Erik menatap wajah sendu miliknya, " Aku juga berjanji padamu, aku akan berusaha memperbaiki semua nya! Jadi tolong, ijinkan aku bertanggung jawab."


"Bagaimana dengan Tiwi? Aku tidak ingin menyakiti hati nya."


"Tiwi memang tidak pernah mencintaiku seperti aku yang mencintai dan menerimanya. Dan harapanku ternyata sia-sia." Ucap Erik.


Tasya terdiam.


"Kita ini sebenar nya sama, kau juga mencintai orang yang tidak bisa membalas cintamu bukan? Dan kita akan sama-sama berusaha melupakannya, itupun jika kamu mau! Aku tahu ini berat untuk kita, tapi coba fikirkan dia." Ujar Erik dengan tangan kembali mengelus perut Tasya.


"Entahlah, a--aku ...."


"Apa kedua orang tua mu tahu?"


"Tasya menggelengkan kepalanya, "Mereka terlalu sibuk,"


"Aku akan bicara pada mereka secepatnya,"


"Ja--jangan!!" seru Tasya mengagetkan Erik.


Erik mengernyit, "Kenapa? Kau takut mereka akan marah, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Bu--bukan itu, mereka tidak akan kembali dengan cepat, mereka menatap disana dan akan kembali 2 tahun lagi."


"Baiklah, kalau begitu kita akan mengunjungi mereka."


Ucap Erik pada akhirnya.


"Kau gila....!!"


Erik menarik bibirnya tipis, dia menggenggam tangan Tasya, " Sudah aku bilang, aku akan berusaha memperbaiki semua nya, jadi tolong ijinkan aku."


Tasya mengangguk, "Maaf Erik, kalau aku menyeretmu dalam hal semacam ini!"


"Hei ... It's not only your fault, it's also mine (ini bukan hanya kesalahanmu, ini juga salahku)!"


Tasya tersenyum, Erik pun mengangguk, "Apa aku boleh memelukmu?"


Tasya kembali mengangguk, lalu Erik menarik bahunya dan memenamkannya di dalam dadanya.


"Semua pasti akan baik-baik saja, aku janji."


.


.


Sementara Tiwi yang masih berada di kafe setelah kepergian Erik. Dia mengecek ponselnya dan mendadak bibirnya tersungging lebar melihat notifikasi yang masuk dari mobile banking nya.


"Banyak duit juga bocah itu." ucapnya dengan berbinar.


"No pay no love." gumamnya lalu kembali menyeruput minumannya.


Doni kembali pulang ke Apartemennya, dia memarkirkan motor sport miliknya. Motor sport hasil kerja kerasnya bekerja dengan Farrel.


Ting


Doni masuk kedalam lift, kini hatinya merasa lebih tenang, semoga dengan ini Tiwi berhenti mengganggu hidupnya. Dan dia juga tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya.


Dreet


Dreet


Nomor tidak dikenal tampak di layar putih ponselnya. Doni mengernyit, "Nomor siapa nih?"


Kemudian dia menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Don...."


"Sialan aku kira siapa?" Ucapnya saat mengenali suara si penelepon diujung sana.


Terdengar di ujung telepon terkekeh, "Memang kau kita aku siapa?"


"Bukan siapa-siapa? Apa yang kau inginkan? Tumben kau telepon?"


"Besok aku pulang, siapkan semua!"