
"Aku ini akan menikah, dan hari ini 2 hadiah sudah aku dapatkan terlebih dulu."
"Cari penyakit...."
"Jelaskan padaku, untuk apa kau menyimpan senjata itu, Mac tidak akan membuka mulutnya meskipun aku menghajarnya." lanjutnya lagi.
Farrel terus bicara tanpa satu orang pun yang menjawab, dan dia mulai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, karena dia jelas kaget dan tidak percaya sama sekali. Orang yang selama ini selalu ada untuknya, yang selalu melindunginya. Dan seorang pahlawan dihati sang bunda.
Alan berdecak, "Tidak usah kau ambil pusing, itu hanya senjata api!"
Farrel bangkit dari duduknya dan merangsek kerah kemeja Alan, "Hanya...!? Kau bilang hanya... Brengsekk!"
Buggh
Farrel mendaratkan pukulan tepat dirahang Alan. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal semudah itu, apa yang kau fikirkan Alan?"
Brengsekk
Sialan
Farrel terus mengumpat, sementara Alan masih dengan datarnya dan tidak sedikitpun ingin membalas amarah Farrel. Dia hanya menyusut bercak darah yang keluar dari sudut bibir dengan punggung tangan nya.
"Bagaimana kalau bunda tahu? ayah tahu....Kau gila."
Alan menghembuskan nafasnya, "Tenang lah kita akan bicara!" ujarnya menyerah.
Ini Memang tidak bisa ditutupi selama- lamanya, bagaimanapun juga ini lah kekhawatiran yang paling ditakutkan oleh Alan, keluarganya, orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dicintainya, mengetahui hal yang sebenarnya. Apa yang jadi pekerjaan terselubungnya, bahkan dia pun seorang pembunuh.
Setidaknya cukup Farrel yang tahu untuk saat ini. sementara bunda dan ayah tidak perlu tahu. Alan melangkah keluar dari kamarnya dan berdiri diambang pintu menunggu Farrel yang diikuti oleh Mac, lalu dia menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Cih...Terlambat, aku sudah melihatnya!" ujar Farrel yang langsung menuruni tangga tanpa menengok lagi.
Alan hanya menarik tipis bibirnya, lalu dia pun menyusul Farrel yang masih diliputi amarah. Alan masuk kedalam dapur dan mengambil es cube begitu saja lalu dia tempelkan disudut bibirnya.
Alan tidak terlihat meringis sedikitpun, dia kembali berjalan menghampiri Farrel yang saat ini tengah duduk disofa dan Mac yang berdiri mematung disampingnya.
"Duduklah Mac...." Ucap nya sebelum dia juga mendaratkan tubuhnya.
Hening
Semua saling menunggu, hingga Farrel meraih bungkus rokok, mengambil sebatang tembakau itu lalu membakarnya.
"Kau tidak merokok Farrel!!"
"Bukan urusanmu, cepat katakan!" ujarnya dengan kepulan asap keluar dari kedua lubang hidungnya.
Alan menghela nafas, dia pun bingung harus memulai perkataan nya dari mana, "Aku minta maaf, tapi apa yang kau lihat itu benar, selama ini aku memang mempunyai senjata api untuk berjaga-jaga,"
Farrel berdecak, "Berjaga-jaga dari apa? Jangan konyol, keluarga kita itu pebisnis sehat, tidak bersinggungan dengan hal kotor sedikitpun. Kau fikir kita keluarga mafia, seperti di novel-novel yang sering kau baca! Cih ... halu menjadi-jadi,"
Alan menghela nafasnya kembali, "Bukan begitu, ini tidak ada hubungannya dengan novel yang aku baca, Dan aku tidak halu yaa...." ucapnya lagi dengan seutas tipis senyum di bibirnya.
"Cepat kau katakan, jangan membuatku semakin kesal."
"Menunggu mu bicara sama dengan menunggu seorang gadis berdandan." sungutnya lagi dengan membakar roko yang baru dia ambil lagi.
Alan tergelak, " Berarti lama juga yaa, sampai kau menghabiskan beberapa batang roko seperti itu."
Farrel melemparkan bantal sofa kearahnya, "Jangan terus membual brengsekk, kau fikir ini lelucon!!"
"Karena kau lucu sekali jika sedang marah, dan aku lupa sampai mana tadi pembicaraanku," rungut Alan.
"Dari berjaga-jaga Mas...." sela Mac yang membuat Alan membulatkan kedua mata menatap nya.
Lebih baik kau diam
Oh...maaf keceplosan bos
"Iya berjaga-jaga saja, siapa tahu ada yang ingin mencelakaiku, atau kamu, mungkin." Ucap nya.
"Impossible...."
"Kalau kau tidak bicara juga, aku akan mencari tahunya sendiri." Farrel bangkit dari duduknya namun Alan mencekalnya.
"Ok...ok... Memang sudah seharusnya kau tahu! Kau sudah semakin dewasa El," Farrel menatap Alan dengan nyalang.
"Terserah... kau anggap aku apa sialan!" mendudukkan kembali tubuhnya.
Alan menunduk, "Aku memang punya senjata api, bukan hanya senjata nya saja, aku juga punya perusahaannya."
Farrel mendongkak, "Apa maksudmu?"
"Aku ... Perusahan milik ayahku ... kita memperjual- belikan senjata api."
Farrel menggelengkan kepalanya heran, "Kau benar-benar gila, Alfiansyah!"
"Perusahan ARR. Corps, Bidang keamanan, body guard, pelatihan, pengawalan, namun juga perjual-belikan senjata api... dan ilegal." jelas Alan
Alan menceritakan semua nya tanpa kecuali, "Bahkan aku pernah kehilangan sahabatku sendiri belum lama ini, aku harus membunuhnya dengan sengaja agar tidak membuatnya terus kesakitan."
Farrel terperangah,
"Aku juga pernah membunuh seseorang setahun yang lalu, dan terakhir aku menghabisi seseorang karena dia berlaku licik dan dia juga yang menyebabkan aku harus menghabisi sendiri sahabatku.
Farrel semakin terperangah mendengarnya, menggerakkan kepalanya berulang kali karena tidak percaya dengan semua yang Alan ceritakan.
"Kau benar-benar sudah gila..., dan aku tidak tahu apa-apa? Menyedihkan."
"Bagaimana kalau kau dijebloskan kedalam penjara, kau mati di tembak, kau...kau...Aaaaahhhkk sialan kau." Farrel mere mas rambutnya dengan kasar.
"Kau tenang saja, toh aku baik-baik saja! Dan aku bisa mengatur semuanya dengan baik sampai saat ini, tanpa mengabaikan perusahan ayah, dan tidak mencampur adukkan keduanya." Alan menepuk bahu Farrel dengan kuat.
"Kau juga sudah dewasa sekarang, dan bisa menjalankan perusahaan milik keluarga dengan baik."
Alan bangkit untuk membawa wine didalam lemari es, hatinya kini sedikit tenang karena Farrel tidak semarah tadi, namun terlihat menundukkan kepalanya dan hanya diam saja.
"Siapa saja yang tahu?"
"Tentu saja kau, dan hanya kau! Dan seorang gadis yang pernah melihatku menembak seseorang,"
"Bodoh!!" lirih Farrel.
Alan menoleh, "Apa kau sudah tidak marah?"
"Aku marah, tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Melarangmu ...?Kau bahkan lebih tua dariku, atau aku harus membunuhmu?" Farrel berdecak.
"Kemari lah boy!!"
Alan merangkul Farrel dan mereka berpelukan sesaat, "Jangan terlalu difikirkan, fikirkan saja persiapan pernikahanmu, Cih...."
Farrel mengurai pelukan dengan mendorong bahu Alan, "Kau tahu...aku bertemu Tasya!"
Alan kembali mencecap wine di gelas hingga tandas sekaligus. "Bukan urusanku!!"
"Dia hamil."
Uhuk
Alan tersedak, dengan cepat dia menyeka bibirnya, dan menoleh kearah Farrel, " Apa...? Hamil...."
Farrel mengangguk, "Hmmm... Mac juga melihatnya,"
"Bagaimana bisa?"
"Ya jelas bisa, wanita memang bisa hamil bodoh," Farrel membuka lemari es dan mengambil dua kaleng soft drink, dan salah satunya dia lempar pada Mac.
"Maksudku, kenapa bisa tiba-tiba hamil?"
Farrel membuka kaleng soft drink itu dan meminumnya."Karena itu lah aku kesini, apa kau yang membuatnya hamil? Katakan saja...."
"Kau gila!!!"