Berondong Manisku

Berondong Manisku
Aku ingin melihatnya


Metta kembali menangis, memegangi tangan Ayu dengan erat. Dan menatap Ayu dan Arya bergantian.


"El ... Bunda ...."


"Sabar Nak, istirahat dulu yaa, setelah ini kita akan kembali pulang." ucap Ayu dengan menarik tipis bibir yang terlihat dipaksakan itu.


Metta terperangah, "Maksud Bunda, pulang....?"


Ayu menitikkan air matanya, " Kamu harus istirahat sayang!"


Metta kembali menangis, "Enggak Bun, aku gak apa-apa ..."


"El pasti baik-baik saja kan! Dia gak kenapa-napa kan Ibu ... Bunda?"


"Tenangkan dirimu Nak," Usap Ayu dikepalanya.


Metta menggelengkan kepalanya, dia menyeka air matanya, "Dokter pasti bohong kan, El gak akan ninggalin aku kan bun, iya kan!"


"Tenangkan dirimu sayang,"


Metta mulai berteriak, "Katakan ini semua bohong, katakan!"


"Dia sudah gak apa-apa, sekarang berada diruang pemulihan, masih belum sadar, tapi kondisinya stabil."


Metta terperangah, kembali menangis namun juga tertawa,


"Benarkah itu Bunda? Bunda tidak sedang membohongiku kan?"


"Aku ingin pergi melihatnya, aku ingin kesana." Metta beringsut dari ranjangnya.


"No ...No...kamu istirahat dulu, setelah kondisimu sendiri pulih, baru kita kesana ya sayang," ucap Ayu mengelus kepala Metta.


Metta menggelengkan kepalanya, "Enggak Bun, aku ingin lihat sekarang, tolong ...." lirihnya.


"Baiklah, tapi kita tunggu Dokter kesini dulu yah, kalau kata Dokter kamu sudah boleh keluar, kita kesana." ucapnya lembut.


Namun Metta tidak menggubrisnya, dia turun dari ranjang dan berhambur keluar, dia tidak memperdulikan dirinya, saat ini hanya Farrel lah yang ingin dia temui secepatnya.


"Anakmu Jeng ...." ucap Ayu pada Sri.


Sri hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Ayo kita susul mereka." ucapnya sambil beranjak dari duduknya kemudian keluar.


Metta menyusuri lorong demi lorong rumah sakit, mencari ruangan tempat Farrel di rawat. Hatinya merasa lega, Lalu apa yang dikatakan Dokter? Masa bodoh apa yang dikatakan Dokter itu , yang pasti kini Metta berlari mencari pria kecilnya.


Hingga dia menemukan Mac tengah terduduk didepan sebuah ruangan. Sementara Alan harus kembali ke perusahaan untuk mencari tahu apa apa yang terjadi sebenarnya.


"Mac, apa dia didalam?" tanya Metta dengan tidak sabar.


"Jawab Mac....!"


Belum sempat Mac untuk menjawab, namun Metta segera membuka pintu kamar bertuliskan Ruang VIP, perlahan dia masuk kedalam ruangan yang terlihat hening, hanya terdengar bunyi alat-alat medis yang menancab pada tubuh Farrel.


"Ini beneran kamu kan El?" lirihnya,


Tubuh kaku terbujur lemah, dengan kepala yang diperban, alat-alat medis yang terhubung pada mesin yang berbunyi menyayat hati, dengan beberapa selang menancap pada tubuh Farrel.


Metta mendudukkan bokongnya dikursi, menatap lekat wajah kekasihnya yang pucat, perasaan lega juga khawatir bersamaan. Bulir bening itu meluncur bebas lagi, membasahi wajahnya yang entah keseberapa kalinya.


Metta menyentuh tangan Farrel yang tak bergerak sedikitpun.


"El, bangunlah... jangan lama-lama tidur, jangan membuat aku takut seperti tadi." Metta memeluk Farrel, bahkan air matanya ikut menetes ke baju pasien yang dikenakan oleh Farrel.


"Aku takut ...aku kira aku tidak akan melihatmu lagi, aku kira tadi it-u ...." Metta masih memeluk Farrel dengan sesegukan.


Sri dan Ayu masuk kedalam, sementara yang lainnya menunggu diluar ruangan.


"Sha, jangan begitu! nanti Nak El gak bisa nafas kalau ditindih seperti itu."


Ayu membelai rambut Metta, "Sudah sayang, jangan menangis terus, El sebentar lagi juga akan sadar.


Tak lama kemudian Dokter datang dengan suster yang membawa obat yang berada alam suntikan.


"Maaf, kita periksa lagi pasiennya yah!"


Sri menarik Metta agar sedikit mundur hingga Dokter dapat memeriksa Farrel, Metta menatap tajam dokter yang sempat membuatnya berfikiran buruk.


Dokter mulai memeriksa, sementara suster terlihat menyuntikkan obat yang dia masukkan kedalam selang infus.


"Bagaimana hasilnya?"


"Syukurlah, kau membuat anak orang ketakutan Frans!" Ayu memukul bahu Dokter.


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak mengatakan apapun,"


Dokter mengerdikkan bahunya, Lalu dengan santai nya memasukkan tangannya dalam saku jas putihnya.


Ayu menggelengkan kepalanya, " Kau ini selalu membuat keluarga pasien berfikir yang tidak- tidak dengan ucapanmu yang selalu menggantung itu."


"Mbak sudah jangan marah-marah lagi, mau darah tingginya naik lagi?" ucap Dokter


"Kau tahu tidak? kau yang membuat darah tinggiku naik lagi! sentak Ayu.


"Hehehe, iya maaf mbak! Maaf ya semua, aku tidak bermaksud."


Flash back On


"Bagaimana keadaannya Frans?" ucap Ayu saat mereka masuk kedalam ruangan Dokter didalam UGD tersebut.


"Syukurlah luka dibelakang kepalanya tidak terlalu dalam, hanya merobek kulit kepalanya saja. Sepertinya dia tersayat sesuatu benda yang tidak terlalu tajam."


"Aku akan mencari tahunya setelah ini, mereka mengatakan tubuhnya terbentur pipa yang lumayan besar," ucap Alan.


"Tapi melihat kondisi lukanya seperti yang Om bilang, ini bukan disebabkan oleh benturan dari pipa maupun tembok!" Ucap Alan kembali.


Frans menghembuskan nafas, "Tapi kita tunggu setelah anak itu sadar, kita akan melakukan CT Scan untuk melihat apa ada luka dalam maupun tidak,"


Ayu mengangguk, "Syukurlah, aku sungguh takut saat Doni menghubungiku!"


"Anak yang diluar itu?" Ayu menangguk,


"Dia bahkan mengancamku, dan mencengkram kerah kemejaku dengan marah,"


"Itu karena mungkin kau tidak memberikan informasi yang akurat seperti biasanya,"


"Aku hanya berkata maaf! Memangnya seorang Dokter tidak boleh berkata maaf." Frans mengerdikkan bahu.


"Terserah Om!" Ucap Alan dengan ketus.


"Ya sudah kami keluar dulu, sambil menunggu kondisi El membaik."


Merekapun keluar dari ruangan itu, namun saat keluar, meraka melihat Metta yang sudah tak sadarkan diri.


Doni melihat kearah mereka, "Om ... Tante?"


"Kenapa dia Don?" Tanya Arya.


Doni menjelaskan bahwa Metta tak sadarkan diri setelah melihat Brankar yang membawa jenazah Farrel keluar. Membuat Ayu dan juga Arya mengernyit.


"Permisi, mohon untuk tidak menghalangi jalan evakuasi seperti ini." ucap Suster yang tengah membawa Brankar.


"Rel ....?" Doni terperanjat saat melihat sahabatnya yang tengah terbaring di Brankar.


"Dia akan baik-baik saja, sebentar lagi dia juga sadar!" Ucap Arya memegang bahu Doni.


"Ta - Tapi tadi?"


Perawat itu mendorong Brankar menuju ruang inap di Vip rumah sakit itu.


"Ah ... syukurlah!!" Doni menghela nafas lega.


Kenapa perawat yang tadi juga langsung berkata seperti itu, membuat kami khawatir saja! Mungkin menganggap kami ini adalah keluarga pasien yang meninggal tadi.


Doni sibuk dengan fikirannya sendiri, terlebih saat Dokter muncul dibelakang Ayu juga Arya. Doni menggaruk kepalanya, dia merasa canggung karena telah mengancamnya tadi.


"Maafkan saya Dok, saya tadi tidak bisa menahan diri sampai mengancam Dokter." Doni menyalami Dokter Frans.


"Dia adik tante!" Ucap Ayu bangga.


Flash back Off


"Tenanglah, Farrel pasti kuat!"


.


.


jangan lupa apa? udah tau yaa