Berondong Manisku

Berondong Manisku
Marahnya Farrel ( kejadian tak terduga)


" Kenapa dia "


Metta mengerdikkan bahunya menjawab pertanyaan Doni. Apa mungkin Farrel sedang cemburu? pertanyaan itu yang melintas kini di benaknya. Tak sadar seutas senyum terbit di bibirnya.


Dasar bocah.


Rasanya Metta tak pernah melihat Farrel marah, kecuali...kecuali ketika berkelahi dengan mas Faiz, selain itu tak pernah dilihatnya, atau karena Metta bersikap tak perduli.


Farrel membuka pintu kamarnya dengan kasar, Amarah yang tak jelas itu memenuhi dirinya. Senyum yang Metta tunjukkan pada bocah sialan itu terbayang dibenaknya,


" Kenapa si Doni harus kesini, gak ada hotel lain Apa " gerutunya.


" Kakak juga sangat genit "


"Aagghhh "..


Farrel menyugar rambut nya dengan kasar. Hatinya terasa mendidih, ingin marah marah.


Mana mungkin ..


Mulai mengemasi, melipat bajunya dan memasukan barang yang dia bawa kedalam ranselnya. Memastikan tidak ada yang tertinggal Farrel segera pergi.


Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara senyum dan tawa Metta saat bersama Doni masih terlihat dipelupuk mata.


Sementara Metta memutuskan kembali ke kamar setelah berpamitan pada Doni, berjalan melewati beberapa lorong hotel. Niat hati ingin mencari tau keberadaan Farrel.


kok malah penasaran sama dia..eeh


" Sha dari mana?" Hendra entah datang dari mana dia tak tahu.


" Eh Pak Hendra, habis makan Pak"


Yah malah bertemu dia.


" Makan apa makan " cibir Hendra melirik jam yang menempel ditangannya.


" Yaa begitulah..selera makan ku sempat hilang gara-gara manusia es batu" Bisik Metta pelan.


"Es batu..?? Hendra mengernyit...


" Haaahaa..lupakan " mengibaskan tangan.


" kau ini, Ayoo kita minum kopi" Hendra menarik lengan Metta.


" Heh..tidak tidak sudah terlalu kenyang, aku mau ke kamar saja"


" Hanya sebentar please " Hendra menunjukkan wajah memelas.


" Baiklah hanya sebentar " Telunjuk Metta mengarah tepat di wajah hendra.


ย Mereka pun pergi dengan mobil yang dikemudikan Hendra.


" Lho Pak kenapa gak minum kopi di hotel saja" Metta dengan polosnya saat jalan yang dia lalui sudah keluar jalur menjauh dari hotel atau pun kantor managemen kebun.


" Kita akan pergi sebentar kok aku janji " tukas Hendra tanpa mengalihkan pandangannya.


Langkah Metta meragu saat memasuki sebuah club malam, tempat yang amat asing karena Metta belum pernah sekalipun. Bagaimana tidak hidupnya hanya digunakan untuk mencari nafkah untuk keluarganya, dan tidak memang tidak menyukai kehidupan malam seperti kebanyakan orang.


Metta melangkahkan kakinya dengan berat, mengedarkan pandangan ke segala arah sudut sudut tempat yang temaram dan lampu warna warni menyilaukan mata dengan suara musik yang merusak gendang telinga.


" Ayo..kenapa malah diem aja" Tukas Hendra.


" Kenapa malah kesini, bukan kah kita hanya minum kopi?"


" Aku berubah fikiran, ayoo masuk"


" Maaf Pak lebih baik aku pulang saja" tolak Metta sopan.


Hendra mencekal tangannya ketika dia hendak berbalik.


" Ayolah kita bersenang senang dulu disini"


" Jangan kurang ajar, lepas" seru Metta menghempaskan cekalan tangannya.


" Cx Ayolah kau jangan jual mahal"


" Lepaskan, jangan membuat aku berlaku tidak sopan pada anda" seru Metta berusaha melepaskan cekalan Hendra.


" Cx ...Kau ini jangan sok jadi perempuan, kau justru akan sangat menikmatinya nanti"


" Brengsek "


Metta menendang tulang kering Hendra dengan kuat, namun itu justru malah membuat Hendra semakin murka.


" Dasar perempuan tidak tau diri, kau akan membayarnya " tukas Hendra dengan seringaian di bibirnya.


" Kurang ajar, kau fikir aku perempuan macam apa hah " tukas Metta dengan melayangkan sebuah tamparan di pipi Hendra.


" Perempuan sialan"


Hendra mencekal bahu Metta dan menyeretnya masuk ke dalam club itu, Metta menendang perutnya hingga terhuyung. Namun dengan cepat Hendra bangkit dan mendekam tubuhnya yang tak seberapa itu, bahkan berani menyentuh bokong Metta yang tenagah meronta ronta.


" Kurang ajar, lepas " teriaknya


Pun dengan seseorang yang dari tadi tengah berdiam diri di satu sudut kursi. Dia menoleh melihat keributan yang terjadi dipintu masuk. suara teriakan perempuan yang tak asing ditelinganya dan suara erangan pria yang tengah marah.


Dia tersentak setelah penglihatan nya tidak salah. Amarahnya semakin membuncah tatkala melihat Hendra membekam mulut Metta yang tengah berteriak, mengkungkung tubuh kecilnya dengan kasar. Dan segera beranjak melangkah dengan cepat.


Brengsek!!


" Hei lepaskan dia "


" Farrel.." seru Metta kearah suara.


Tak kalah kaget dengan Metta ketika Hendra melihat Farrel berada didepannya.


Mereka beradu pandang, namun Farrel segera mengalihkan pandangan tajam pada Hendra tanpa ampun.


" Kubilang lepas breng sek"


"Saya bisa jelaskan " melepaskan cekalan nya pada Metta.


Farrel mendaratkan pukulan bertubi tubi kearah Hendra, tak ingin memberikan kesempatan apapun untuk Hendra meski dia berulang kali memohon.


Meski tubuh Hendra lebih besar dari padanya tak membuat Farrel sedikitpun gentar. jiwa yang terbakar amarah itu bahkan jauh lebih besar kekuatannya.


" ini tak seperti apa yang anda lihat, ini hanya kesalahan pahaman saja "


" Salah paham hah " kau bilang salah paham..


Brug...


Orang orang mendekati berusaha memisahkan mereka. Menarik tubuh Hendra yang sudah tak berdaya itu sebelum Farrel kehilangan kendali hingga berujung maut.


Farrel berontak dari orang yang telah memegang tubuhnya.


Tendangan Farrel mengenai perut Hendra hingga dia tersungkur tak berdaya dengan wajah penuh luka.


Sementara Metta duduk terkulai dengan tangisan yang membasahi seluruh wajahnya. Meratapi betapa bodoh dirinya hingga terjebak dalam situasi ini. Kejadian yang tak pernah diduganya. Entah bagaimana nasibnya jika tidak ada Farrel yang datang tepat waktu.


Farrel berjongkok menghampiri Metta, merapihkan anak rambutnya yang berada diwajahnya.


" Kita pergi dari sini "


Metta mendongkak melihat Farrel dan berhambur memeluknya. Hingga menangis sejadi jadinya.


Tanpa banyak kata Farrel mengangkat tubuh Metta dan membawanya masuk ke mobilnya.


kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak ada penolakan yang biasa dari perempuan yang selalu terlihat kuat itu sekarang. Bahkan kesombongan dan sikap galak yang biasa ditunjukannya kini tidak ada, menyisakan perempuan yang tetap lemah dan tak berdaya itu begitu membutuhkan sandaran.


Bahkan kemarahan Farrel hilang begitu saja, Kemarahan yang tidak jelas di mata Metta itu. Kemarahan yang membuat dirinya segera pergi tanpa kejelasan juga, kemarahan ketika melihat Metta dan sahabatnya Doni.


Tak ada percakapan diantara mereka, Metta masih menangis meski tak sehebat tadi.


Farrel membuka pintu mobilnya dan mengangkat tubuh Metta memasuki sebuah hotel, tentu saja hotel yang berbeda dengan hotel tempat mereka menginap.


" Dia tak ingin orang orang kantornya tau apa yang tengah melanda Metta. Dan tentu saja menghindari kemungkinan masalah yang akan terjadi nantinya.


Hotel yang sebelumnya sudah dipersiapkan Alan untuknya ketika mereka tiba di kota ini. Namun Farrel dengan sengaja menolaknya karena Farrel ingin tinggal di hotel yang sama dengan para karyawan nya, tanpa membatalkan pemesanannya di hotel berbintang lima itu, tentu saja sangat berbeda dengan hotel yang ditempati karyawan nya.


Untung saja dia masih memegang room key nya hingga mereka tidak perlu lagi memesan kamar. Dan segera bisa masuk tanpa banyak pertanyaan.


Farrel membuka pintu kamar hotelnya dan segera menurunkan tubuh Metta dipinggir ranjang berukuran king itu, membantu melepaskan sepatunya dan mengangkat kedua kakinya keatas ranjang.


" Kakak butuh sesuatu " Farrel membuka suara, sangat lembut bak sedang berbicara dengan seorang bayi.


Metta hanya menggelengkan kepalanya, tatapan nya kosong dengan wajah yang menyedihkan.


" Aku mau mandi " gumamnya pelan.


" Aku siapkan air hangat untuk kakak"


Farrel berlalu menuju kamar mandi dan mengisi bathtube dengan air hangat yang sudah dicampurkannya dengan aroma terapi yang dia bawa, dan memastikan airnya sudah siap.


" Ayoo kakak mandilah " seru Farrel.


" Kak.." tidak ada jawaban dari orang yang dipanggil.


" Kakak..." masih tidak ada jawaban.


Farrel mendekati Metta yang tengah bergelung didalam ranjangnya. Terbelalak kaget dan mengguncang guncangkan tubuh Metta.


" Kakak.."


๐Ÿ๐Ÿ


Terus dukung aku dengan like dan komen disetiap bab nya yaa..๐Ÿ˜š


jangan lupa๐Ÿ˜‚ kalo lupa balik lagi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Salam geje๐Ÿ˜š


ย