Berondong Manisku

Berondong Manisku
Salah lagi, kalah lagi


" Kak.." Farrel menghentikan langkahnya saat mereka berjalan melangkah keluar dari mall itu.


" Apa..?" Metta berbalik menoleh Farrel,


" Apa yang terjadi didalam tadi?"


" Tidak ada apa apa, itu hanya kesalah pahaman saja!" Metta berbicara tanpa menghentikan langkahnya


" Kakak bohong" tukas Farrel


" Tidak, memang hanya salah paham"


" Kalau kakak tidak cerita, aku tak akan mengikuti kakak makan ditempat yang kakak tunjuk" ancam Farrel dengan menyilangkan kedua tangannya.


" Yaa sudah" Metta mengerdikan bahunya dan kembali berjalan.


" Kakak!!" suara Farrel naik beberapa oktav.


" Apa, kalau kamu gak mau yaa sudah kita pulang saja"


teriak Metta.


" Kalau kakak tidak cerita aku tidak akan pulang " Farrel tak kalah berteriak melihat Metta semakin menjauh.


" Yaa sudah, kau bisa menginap sesuka hati mu disini"


" Kakak!!" Farrel berteriak membuat orang orang yang berada didekat nya menoleh ke arahnya.


" Kalau kakak tidak cerita aku akan kembali kedalam dan menanyakan langsung pada pegawai yang tadi, kalo perlu aku akan temui manager atau periksa CCTV sekalian" tukas Farrel berbalik, melangkahkan kakinya ke arah mall.


" Nah kan, kakak ini harus selalu digertak " batin Farrel.


Seketika Metta membalik kan tubuhnya ke belakang, dengan berlari kecil menyusul Farrel yang sudah beberapa langkah, mencekal tangan nya hingga Farrel terhuyung namun Metta juga ikut terhuyung ke belakang.


Grep...


Dengan cekatan Farrel menahan pinggang Metta dan menariknya " Apa yang terjadi didalam sana saat tadi, hingga kakak hampir terjatuh hanya untuk mencegahku." satu tangan Farrel merapikan rambut Metta yang berantakan.


" Cx iya iya aku cerita" Metta melepaskan dirinya dari Farrel.


"Jantungku selalu tidak bisa bekerja sama jika tingkahnya seperti ini" Batin Metta


" Nah gitu dong, jadi ada apa?" mendekatkan wajahnya tepat berada didepan wajah Metta. Membuat Metta salah tingkah dan dengan cepat membalikkan tubuhnya.


" Nanti aku ceritakan, sekarang kita pergi dulu aku lapar" Metta menarik tangan Farrel menuju mobil nya yang terparkir.


Mereka pun masuk kedalam mobil, Farrel mengemudikan mobilnya mengikuti arahan dari kekasihnya itu.


.


.


" Ini tempatnya kak,?"ucap Farrel saat sampai ditempat yang ditunjuk Metta. Mengedarkan pandangannya bukan mall, bukan pula restoran mewah, melainkan tempat pedagang soto ayam kaki lima. Beratapkan tenda berwarna biru dengan gerobak sederhana nya.


Mobil berhenti, Metta melepaskan selt belt nya " Ayoo turun" ucapnya kearah Farrel, kemudian Metta membuka pintu dan berhambur keluar tanpa menunggu Farrel.


Metta langsung menarik kursi untuk duduk, " Bang seperti biasa yaa"


" Eeh, kirain siapa mbak, Kemana aja mbak,? tumben udah lama gak kesini "


" Ah, iya bang Joko aku akhir akhir ini sibuk, gak sempet mampir "


" Bang Marco, masih saja Joko Joko" ucapnya dengan tersungut.


Metta terkekeh mendengarnya, "Selalu saja ingin dipanggil Marco jelas jelas Joko juga" gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Farrel.


Sementara Farrel yang baru saja menarik kursi menoleh ke belakang pada pedagang yang terlihat akrab dengan kekasihnya itu.


" Gak pakai bawang goreng kan?"


" Haha, iyaa bang masih tau aja!" ucap Metta


" Iyaa lah mana mungkin bisa lupa, mbak cantik pelanggan setianya abang marco gitu lho" Joko mengedipkan satu bola matanya ke arah Metta. Membuat Farrel kesal melihatnya.


" Bang Joko!"


" Marco cantik, Marco"


Braak..


Farrel menggebrak meja, menatap tajam ke arah bang Marco Marco itu. Untung saja ditempat itu hanya ada Metta dan Farrel.


" Kamu kenapa?"


Farrel mengerjapkan matanya ke arah Metta " Gak kenapa kenapa SAYANG" menekankan kalimat terakhir dengan suara keras berharap didengar oleh bang Marco.


" Barusan ada lalat"


" Lah biasanya ditempat Marco gak ada lalatnya lho mas,"


" Ada bang Joko, barusan lalatnya minta di tabok " ujar Farrel kesal.


Metta mulai cekikikan, " Aku gak lihat lalat kok,"


" Joko Farrel"


" Terserah lah siapa namanya" sungut Farrel kesal.


" Kamu cemburu yaa," Bisik Metta pelan.


" Pikir aja sama kakak sendiri" Farrel mendekap kedua tangan di dadanya.


" Pesanan sudah siap, silahkan"


Farrel menatap jengah ke arah Joko alias Marco yang tengah tersenyum, meletakkan mangkuk berisi soto ayam di depan Metta.


" Aku udah kenyang!"


" Belum juga di makan kapan kenyangnya Farrel"


" Kakak bilang dong aku pacar kakak, biar dia tau" Farrel mengerlingkan matanya pada Joko yang tengah melihat Metta.


" Astaga memangnya penting kalau dia tau" Metta mengaduk soto ayam nya.


" Penting buat aku, ayo bilang kalau gak aku gak mau makan" masih mendekap kedua tangan di dada.


" Ish, kamu ini!" Metta meletakkan sendoknya kembali.


" Ayoo kak bilang"


" Tidak mau.." Mulai memeras Jeruk nipis diatas soto dengan tambahan cabe diatasnya.


" Kakak!!"


" Udah deh kalau kamu gak mau makan juga aku gak akan cerita yang tadi disalon" Metta mulai menyuap.


Farrel menepuk jidatnya sendiri " Astaga, gue salah lagi, kalah lagi kalau sama kakak" batin Farrel.


" Iyaa iyaa nih aku makan." akhirnya Farrel menyuap makanan ke mulutnya. Hup..hup..


Metta terkekeh " Pacar aku yang manis" mengacak rambut Farrel.


Farrel menaikkan sudut bibirnya ke atas mendengar Metta memanggilnya seperti itu, dengan cepat melirik Joko yang tengah sibuk memotong bawang.


" Yah , dia gak denger lagi" gumam Farrel.


Metta pun menceritakan kejadian yang membuatnya kesal yang terjadi saat dia disalon. Membuat Farrel ikut kesal juga.


" Kenapa kakak tidak langsung bercerita padaku tadi, kurang ajar ayo kita kesana lagi!" Farrel berdiri hendak pergi dengan marah.


" Farrel tidak usah, biarkan saja aku juga tadi sudah peringatkan mereka kok"


" Gak bisa kak, aku gak bisa diem aja kalau ada yang nyakitin kakak, kalau perlu aku bisa beli salon itu buat kakak"


" Cx kamu ini, kamu pikir salon itu semurah kacang goreng!"


Farrel tersungut, " Lihat saja nanti" batin nya.


" Sudah yaa, lebih baik kita selesaikan makannya dan segera pulang"


" Kakak saja habiskan, aku sudah kenyang" sahut Farrel menahan amarah dalam dirinya.


Merogoh ponsel disaku nya dan mulai mengotak ngatiknya, terlihat kedua alisnya ikut mengerut kemudian diakhiri dengan senyumannyang mengembang di bibirnya.


Farrel menatap Metta yang tengah makan dengan lahap.


" Cx kakak ini makan nya pelan saja, mau kemana sih" Farrel mengambil tissu dan mengelap ujung bibir Metta.


Metta tersentak, matanya menatap Farrel yang tengah mengelap bibirnya. Sekali lagi jantungnya berdetak dengan cepat saat jaraknya dengan Farrel begitu dekat.


" Pelan pelan, kayak gak makan 3 hari aja" ucap Farrel terkekeh.


Metta mengerjap dan kembali tertunduk" Duh, bikin malu aja, jiwa miskin ku keliatan banget kalau lagi makan" Batin Metta.


.


.


" Wah..wah ternyata ada yang pacaran disini"


Metta dan Farrel menoleh bersamaan kebelakang.


.


.


.


Jangan lupa jejaknya jika kalian baca karya remahan rengginang sisa lebaran ini, dukung aku dengan like dan komen, rate 5 nya juga. Supaya aku tetap semangat.


Semoga suka dan maafkan jika masih berantakan, kritik dan saran nya juga boleh yaa tinggalkan di komen.


Makasih 😘