
Pagi-pagi sekali Doni sudah sampai di rumah Metta, bukan ... bukan menemuinya, namun dia ingin menemui ibu Sri. Dia ingin meminta maaf secara langsung padanya, atas apa yang terjadi semalam.
Doni menghentikan motornya di pekarangan rumah yang tampak sepi itu. terlihat beberapa ibu-ibu baru saja keluar dari dalam rumah.
Doni turun dari motor dan membuka helmnya. Tak lama dia berjalan dan mengucapkan salam.
Pintu tengah terbuka, namun tidak ada yang menjawab salamnya. Membuat Doni menunggu beberapa saat.
Doni menunggu nya dengan duduk di kursi plastik yang berada diteras, dengan kebun kecil sebagai pemandangannya, tampak asri karena terawat dengan baik, walaupun kebun itu tidaklah besar, seperti yang dia lihat di rumah utama keluarga Adhinata yang pernah dia lihat.
"Lho Nak Doni? Kenapa tidak masuk saja, ibu sedang di dapur tadi. Biasa ibu-ibu, ayo masuk."
"Terima kasih bu, tapi aku ingin bicara dengan ibu, aku minta maaf karena semalam."
Ibu Sri tampak mengernyit, "Memang semalam ada apa Nak?"
Aduh, apa ibu tidak tahu? Celaka, bagaimana jika malah menjadi masalah baru jika aku menceritakannya. Tapi jika bukan aku yang menceritakannya, ibu pasti tambah marah padaku. Dan itu tidak bagus, apalagi Andra berada dalam tanggung jawabku saat ini.
Akhirnya Doni menceritakan semuanya pada Ibu Sri, dia terlihat kaget pada awalnya, saat Doni bercerita, Ibu tetap diam, namun diamnya seorang ibu pastilah hatinya tengah merasakan keresahan, apalagi Nissa adalah anak bungsu dan masih dibawah umur. Namun ternyata Ibu Sri tersenyum padanya.
"Nak Doni tahu Nissa itu masih dibawah umur? Kadang tingkahnya masih kekanak-kanakan, dan dia harus diberi pengertian oleh kita yang sudah lebih dewasa,"
Doni mengangguk, "Maaf bu ... aku memang salah karena mengajak nya menginap di hotel."
"Mungkin Nak Doni berfikir saat itu tidak ada pilihan, tapi orang lain akan beranggapan berbeda dengan niat kita, tidak semua berfikir seperti nak Doni kan? Apalagi kak Sha ... Dia memang emosional, karena dia bertanggung jawab sebagai seorang kakak, Nak Doni juga harus maklum jika dia marah besar."
Doni mengangguk lagi.
"Ibu mengerti, maafkan anak ibu ya! Dia merepotkanmu."
"Lho kenapa ibu malah meminta maaf, harusnya aku yang minta maaf."
Ibu Sri mengangguk, "Nak Doni sudah ibu maafkan!"
Kenapa ibu baik banget,
Hatinya terasa menghangat, tinggal jauh dari orang tua membuat hidupnya tidak mengenal aturan, merasa hidup bebas sebebas-bebasnha, melakukan apapun tanpa memikirkan orang tua, namun hari ini dia mendapat kehangatan dari seorang ibu, membuatnya rindu pada kampung halaman, pada Ibu dan ayahnya.
Ibu Sri menyambutnya dengan hangat, bahkan tidak ada kata-kata yang membuatnya tersudut, apalagi menyalahkannya, nasihat demi nasihat terlontar dari ibu dengan tiga anak itu, pantas saja ketiga anaknya hidup dengan aturan yang longgar tanpa tekanan, namun dengan norma yang mereka jalankan dengan baik.
Tidak mengenal dunia malam bukan berarti kuno, tidak merokok bukan berarti cupu, tidak nakal bukan berarti tidak gaul.
Walau mereka hampir sama, hidup dalam kesederhanaan. Yang membedakannya hanya cara mendidik anak-anaknya.
Doni didik keras oleh sang ayah, bahkan cacian dan makian menjadi makanan sehari harinya, pukulan pun kerap melayang, namun menjadikannya menjadi seorang anak yang membangkang, hingga memutuskan kuliah di luar kota untuk menghindari keluarga.
Seandainya saja ibu ku seperti ibu Sri.
.
.
"Doni berani datang kesini tadi? Kenapa ibu tidak kasih tahu aku, aku belum puas memarahinya,"
Farrel menghela nafas, "Sayang...."
"Apa, kau juga sama konyolnya dengan asistenmu itu! Heran, kenapa laki-laki selalu berfikir segala sesuatu itu pendek, tidak jauh memikirkan akibatnya." sungut Metta.
"Karena kami tahu kapan harus berfikir panjang, kapan harus berfikir pendek." ujar Farrel dengan memutar-mutar ujung rambut Metta.
Metta menatap tajam ke arahnya, "Memangnya kau pernah berfikir panjang setiap melakukan sesuatu?"
Farrel mengulum bibir, dia mengusap perut sang istri, "Ini hasil pemikiran panjang aku, bahkan kakak ketagihan!"
Pluk
Metta memukul kepalanya dengan banyak sofa, "Kau ini tidak pernah berfikir jernih, susah diajak bicara serius."
Farrel tergelak, bahkan ibu Sri yang tengah menyiangi sayur itu pun tergelak, "Kalian ini ada-ada saja."
"Bu ... astaga! Bagaimana bisa ibu mempunyai menantu seperti ini, tiap hari aku dibuatnya emosi,"
"Sayang, kau sedang mengadu kejelekan suamimu pada ibu lho!"
"Biarin ... aku kesal sama kamu, sama Doni juga!"
Farrel mencondongkan kepalanya. "Kakak mau aku bungkam dihadapan ibu? Tidak kan, jadi berhentilah marah, karena aku juga bisa marah dan aku juga bisa mengadu!" ujarnya lalu mengedipkan matanya.
"Kakak juga sudah menghukumku dengan berat semalam, apa itu tidak cukup?"
Ibu Sri menoleh, "Sha ... ibu tidak mengajarkan kamu bersikap tidak baik pada suamimu!"
Metta menatap tajam pada Farrel, "Nyebelin banget sih kamu ...."
"Makanya jangan marah-marah terus, ibu benar yang terpenting Nissa baik-baik saja, lagi pula ... jika Doni berani macam-macam aku orang pertama yang akan menghajarnya, kakak tidak usah khawatir!"
"Dan Doni sudah datang menemui ibu untuk minta maaf, itu artinya Doni sudah menyesali perbuatan yang tidak disengajanya itu. Iya gak Bu?"
Ibu Sri mengangguk, "Itu benar, ibu juga tahu kapan harus marah, semua orang sudah memarahinya, apalagi kamu Sha."
Metta akhirnya menghela nafas, "Tapi aku tetap akan mengawasi asistenmu itu."
Farrel mengulum bibir, "Lakukan apa yang ingin kakak lakukan, asal jangan menghukumku untuk tidak tidur bersama kalian."
"Aku nyaris tidak bisa tidur gara-gara itu!"
"Udah deh jangan manja, kamu udah baik-baik saja juga!"
Nissa yang berada di kamarnya pun mendengar apa yang mereka katakan, "Kak Doni kesini untuk meminta maaf pada ibu, kasian juga kak Doni, kak Sha terus memarahinya."
Nissa terus berguling-guling di atas kasurnya, rasa lelahnya hilang begitu saja.
Drett
Drett
"Kak Doni? Panjang umur sekali."
'Kak Doni?'
'Nissa? Kamu baik-baik saja kan?'
'Iya kak, Nissa baik-baik saja kok. Makasih udah datang kesini dan bilang sama ibu.'
'Nissa minta maaf ya kak, Nissa memang ke kanak-kanakan!'
'Nissa kan memang masih anak-anak, memangnya Nissa harus dewasa seperti kakak Nissa? Enggak kan....' Doni terkekeh.
Nissa mengangguk, meskipun Doni sudah pasti tidak dapat melihatnya.
'Ya sudah, kak Doni mau langsung jemput abangmu dan langsung berangkat ke kota A. bye Nissa."
'Bye kak Doni.'
Sambungan telepon terputus, dia melemparkan kembali ponselnya di atas ranjang.
"Kalau kak Doni jemput abang, bagaimana dengan Bening dan Renita? Mereka pulang naik apa?" gumamnya.
.
.
"Dasar pacar brengsekk!!" teriak Bening.
Renita berlari ke arahnya, "Kenapa Ning...?"
"Tuh cowo brengsekk, gak mau nganterin kita pulang! Malah pergi begitu saja."
"Tuh kan gue bilang juga apa? Dia tuh gak bener."
"Terus gimana kita pulang?" sungut Bening.
Irfan dan Jaka yang tengah memanaskan motor pun menghampiri mereka, "Babang jaka bilang juga apa? Mending sama babang jaka, iya gak Fan?
"Hooh, dia sudah pasti ngojekin neng Bening kemana aja neng mau dah!"
Jaka menoyor kepala Irfan, "Sialan, gak ngojek juga kali!"
Andra menghela nafas, ide liburan ini kacau karena semalaman dia uring-uringan karena adiknya yang di kantor polisi, sampai ingin menyusul namun dicegah oleh kedua sahabatnya itu.
"Ka Andra udah mau pergi yaa?" ujar Renita.
"Hm ... sebentar lagi mereka jemput kesini, jadi kalian bisa pulang, aku sudah minta kak Doni bawa supir untuk mengantarkan kalian pulang."
"Terima kasih Kak Andra." ujar Bening.
Drett
Drett
Ponselnya berbunyi,
Deg
"Kak Sha! Dia pasti marah." gumamnya.
Tak lama Andra menempelkan teleponnya ditelinganya,
'Iya kak?'
'Ibu dan kakak mengijinkan kamu liburan agar kamu bisa rileks sejenak sebelum bertanding, bukan untuk pacaran apalagi tidak menjaga adikku sendiri!'
'Maaf kak....'
Metta mendengus, 'Kau sudah bisa tahu nanti, apa pacaran itu membuatmu maju dalam prestasi atau justru membuat prestasimu menurun. Kamu bukan Nissa yang harus kakak jelaskan sebab dan akibatnya bukan?'
'Iya kak ... Andra faham, maafin Andra!'
'Kakak kecewa karena kamu tidak menjaga adikmu dengan benar!'
Terdengar suara ibunya, Berikan ponselnya sama ibu, ibu mau bicara dengannya.
"Nda, sudah tahu kan sebabnya jika kamu tidak menjaga adikmu dengan baik?'
'Iya bu....'
'Jangan di ulangi, ibu tidak melarang kamu pacaran, selama itu masih di batas wajar, tapi jangan menjadikan kamu lupa akan tugas-tugasmu! Faham?'
'Makasih bu, ibu memang ter- the best,'
'Ya sudah ibu tutup, kabari ibu kalau kamu sudah sampai di kota A.'
Tut
Ibu menutup teleponnya. Lalu memberikannya pada Metta.
"Kenapa ibu tidak pernah marah?" gumamnya dengan memijat keningnya pelan.
"Sudah aku bilang, kakak jangan marah-marah lagi. Kenapa kakak tidak menurut padaku?" ujarnya dengan tangan mengulur memijat kening istrinya.
"Kau juga sama saja!" Metta menepis tangannya kemudian masuk kedalam kamarnya.
"Astaga, masih marah saja."