
"Siapa?" Tanya Farrel penasaran.
"Jangan-jangan kau terlibat masalah lagi, kau tidak ada kapok-kapoknya apa?" gumamnya kesal.
"Ii--ini ... bukan...."
Farrel menempelkan telunjuk di bibirnya, "Suuthh ... diam lah, aku tidak ingin mendengar apa masalahmu!"
Sialan, tiap aku terkena masalah juga karena kau, sadar si bayi besar, aku tidak akan mau membantu mu lagi kalau begitu. Batin Doni.
Hingga akhirnya meeting selesai, para staf saling menjabat tangan, begitu pula dengan Farrel. Dia bangkit dan menghampiri stafnya tanpa ragu dan berbaur dengan mereka. Namun mereka juga mempunyai batasan.
Satu persatu dari mereka keluar dari ruang meeting, begitu juga dengan Farrel dan Doni, mereka harus sesegera mungkin menuju tempat lain untuk bertemu dengan klien selanjutnya.
"Doni, apa aku tidak ada waktu sedikit saja? Aku merindukan istriku," ujar Farrel saat mereka masuk kedalam kotak besi yang akan membawa mereka turun.
"Astaga, kau baru saja bertemu dengan nya 1 jam yang lalu," ujar Doni dengan melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
"1 jam rasanya seperti setahun! Aku benar-benar merindukannya." ujar nya dengan merogoh ponsel dibalik saku jas nya.
Dreet
Dreet
Ponsel Doni kembali bergetar, dengan sengaja dia menganti mode getar pada ponselnya agar tidak mengganggunya bekerja.
Farrel mengernyit, mengurungkan niatnya menghubungi Metta. Dia lantas merebut ponsel milik Doni dan menatap layar yang masih menyala itu menampilkan kontak nama Nissa.
"Ada urusan apa kau dengan Nissa?" Sentak Farrel.
Doni berdecak, "Bukan hal penting! Kembalikan ponselku."
"Jawab aku! Sebelum aku lempar ponsel ini kewajahmu!"
"Bukan apa-apa, itu hanya hal kecil! Kau ingat waktu kau dan istrimu tidak juga keluar dari mobil? anak kecil itu merangsek, bahkan memaksa menyusul mu, dan aku hanya berusaha menghalanginya," jelas Doni.
"Kau melakukan apa padanya?" Farrel mengotak-ngatik ponsel Doni.
"Buka kuncinya!" mengulurkan ponsel pada pemiliknya,
Doni membuka ponsel dengan Finger print, lalu Farrel kembali mengotak- ngatiknya, memeriksa pesan masuk dan galeri foto di ponsel itu.
"Astaga, aku tidak melakukan hal-hal bodoh padanya!" Doni meraup wajahnya.
"Aku hanya memeriksa, kau melakukan apa Hah?" tanyanya ulang.
"Aku hanya berjanji mengantarnya ke toko buku. Itu saja!" ucap Doni.
"Bodoh!" Farrel melemparkan ponsel itu kepada Doni.
Hap
Doni menangkapnya walau gelagapan, hampir saja ponsel itu terjatuh, jika Doni terlambat menangkapnya.
Dengan cepat dia memasukkan ponsel keluaran terbaru yang baru saja dia beli itu sebelum ancaman Farrel menjadi nyata.
"Jangan macam-macam dengannya, dan jangan mengambil kesempatan untuk itu. Kau paham maksudku!" sentak Farrel lagi.
"Berikan berkasnya, kau antar Nissa seperti janjimu, sebatas itu. Hanya ke toko buku, aku akan meminta orang mengawasimu!" imbuhnya lagi.
"Lalu meetingmu?"
"Aku bisa melakukannya sendiri! Ingat hanya toko buku!?" imbuhnya dengan tegas.
Doni mengangguk, Kenapa aku selalu saja apes, kena marah pula.
Farrel yang tidak jadi menghubungi sang istri kini mendial nomor kontak lain.
"Mac, kirim seseorang ikut dengan Doni." ujarnya tanpa basa-basi.
Sudah dipastikan Mac tengah bingung dengan tugas dengan tugas yang baru saja dia terima, namun dia juga langsung menghubungi anak buah yang berada bawah pimpinannya.
Doni menggaruk tengkuk, sementara Farrel memasukan kembali ponsel ke dalam saku jas nya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi pada Doni.
Selalu saja serba salah jadi bawahan seperti ku, niat hati membantunya, malah selalu kena getahnya.
"Lain kali jangan bertindak gegabah, cukup kesalahan yang kau perbuat dengan wanita licik macam Tiwi." ujar Farrel saat pintu lift terbuka.
Doni mengangguk, dan mengiyakan pernyataan dari Farrel dalam hati. Lalu mereka berdua keluar dari gedung perkantoran. Farrel menuju mobil nya sendiri, tanpa di dampingi Mac maupun Doni, sedangkan Doni memakai motornya yang sejak dari kemarin memang disimpan di kantor.
Doni melajukan motornya menuju sekolah Nissa, tidak memakan waktu lama, Doni sudah sampai di ditempat itu. Dia langsung memarkirkan motor nya di tempat parkir khusus sepeda motor.
Lalu dia turun dari motor, mengedarkan pandangannya di sekeliling bangunan yang sudah tampak sepi, Kegiatan belajar mengajar sepertinya sudah berakhir. Lalu Doni merogoh ponselnya, menghubungi nomor Nissa.
Nada dering pertama berakhir, Doni kembali mendial nya, dan kali ini suara Nissa terdengar.
"Apa?"
"Kau dimana? Cepatlah, aku menunggumu ditempat parkir!" ujar Doni dengan melirik jam tangan.
"Aku tidak mau, sudah kak Doni pulang saja! Ku mau pergi dengan teman-temanku saja!"
Sial, Kenapa tidak bilang dari tadi, aku tidak perlu repot-repot kesini, dasar bocah!
Tapi kalau aku kembali, si Rel ta api pasti marah. Ditambah seseorang yang mungkin saat ini mengawasiku, sial... maju kena, mundur tidak bisa ini namanya.
Doni menghela nafasnya pelan, "Nissa, kak Doni udah bela-belain minta ijin buat nepatin janji, terus kak Doni harus kembali lagi?"
"Terserah, Nissa kan sudah tidak mau pergi dengan Kak Doni, pergi aja!" ujar Nissa lalu terdengar bunyi tut.
Sial, dia malah menutup teleponnya. Doni menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian sekelompok murid perempuan melintas di depannya, Doni menghampiri mereka,
"Maaf apa kalian tahu Nissa ada dimana?"
Duh aku juga tidak tahu dia kelas berapa!
"Nissa yang rambutnya segini, ada lesung pipi dan tingginya segini." ujar nya dengan tangan yang disejajarkan dengan dadanya.
"Oh mungkin Nissa adiknya Andra."
Doni menjentikkan jarinya, "Nah itu, tepat sekali. Adiknya Andra."
"Oh harusnya bilang dari tadi, tuh disana! bareng anak-anak literasi." ucap salah satu dari mereka.
"Anak-anak kutu buku!" sanggah yang lain lalu serempak tertawa.
Doni mengernyit, lalu menatap arah yang ditunjuk oleh mereka,
"Terima kasih!" ujarnya dengan berlalu menuju tempat yang terletak paling ujung.
Nissa tengah duduk di kursi dengan buku yang dia baca, sedangkan Doni melintas didepannya lalu menyentil dahinya,
"Bersembunyi disini kau rupanya!"
Nissa terkesiap, "Kak Doni ...ngapain kesini, aku kan sudah bilang tidak mau pergi!"
"Udah ayo pergi, jangan ambek-an, nanti kau susah tinggi!" Ujar Doni menarik tangan Nissa.
"Jangan mengada-ngada, mana mungkin ada yang begitu,"
Doni masih menarik tangannya pun menoleh, "Ada yang begitu! karena
"Tu--tunggu kak!!" ucap Nissa dengan langkahnya setengah terseret.
"Kita mau ke toko buku yang dimana?" tanya Doni saat mereka berjalan menuju motornya.
Bibir Nissa yang masih mengerucut itu bertambah terkatup. Dia hanya mengejek Doni dibelakangnya, dengan cebikkan bibirnya, mengulang perkataan Doni.
"Kita mau ke toko buku yang dimana?" cebiknya pelan.
Doni memasangkan helm pada Nissa yang masih cemberut, hingga mengunci helm nya selesai.
"Udah dong, jangan cemberut aja, nanti kak Doni kena marah kakakmu, disangkanya Kak Doni jahatin kamu!"
"Emang...."
"Iya... ini kan kak Doni jadi nganterin kamu!"
"Ya udah ah, cepet ah ... udah panas nih!" ucap Nissa kesal. Lalu naik keatas motor.
"Kak Doni aja belum naik lho, kamu sudah disitu aja!" ujar Doni yang kesulitan naik motornya, karena Nissa sudah berada di atas motor.
Nissa mengerdikkan bahunya, "Cepetan ih!!"
Akhirnya Doni melajukan motornya, membawa Nissa ke toko buku yang dia inginkan. Nissa turun dari motor Lalu masuk kedalam toko tanpa menunggu Doni.
Dia sibuk mencari buku yang dia perlukan, setelah beberapa lama, akhirnya dia menemukannya.
"Sudah ketemu?" ujar Doni yang baru saja masuk dan melihat Nissa berjalan menuju kasir.
"Udah nih!" ketusnya dengan tetap berjalan.
"Berikan padaku! Nissa tunggu saja disana,"
"Biar Nissa saja yang bayar! kak Doni aja yang tunggu disana."
Astaga, ini bocah yang lagi ngambek, ngeselin banget.
Akhirnya mereka keluar dari toko buku itu, dengan buku yang sudah dibeli. Nissa berjalan dengan langkah cepat, Hingga Doni harus beberapa kali menyamai langkahnya.
"Bagaimana kalau kak Doni beliin Nissa es krim?"
"Nissa bukan anak SD." ketusnya.
Doni berjalan dengan berfikir, "Bagaimana kalau mie ramen?"
"Udon?" Ujar Nissa yang menoleh.
"Iya udon, kau mau? Disini ada udon ramen yang enak. Kak Doni traktir deh. Gimana?"
Nissa mengangguk, "Mau...."
Akhinya mereka masuk kedalam resto ramen yang cukup ramai tak jauh dari sana.
Mereka duduk berhadapan, dengan menu yang kini tengah di lihat Nissa.
"Aku mau ini...." ujar Nissa menunjuk menu.
Doni mengangguk dan memanggil waiters, "Mungkin agak lama gak apa-apa kan?"
"Kan udah pesen, terus kita mau balik? enggak kan...."
"Masih marah aja sih, buku udah ditangan juga!" ujar Doni yang kini melihat Nissa tengah membuka plastik yang pembungkus buku.
"Hehe... iya! Makasih yaa kak Doni, makasih juga udah traktir!" Doni mengangguk.
Tak lama kemudian, waiters datang dengan pesanan mie ramen mereka.
"Selamat makan kak Doni..." ucap Nissa dengan menyuapkan kuah peras itu kedalam mulutnya.
Nissa hanyut dengan hidangan mie pedas ala korea itu, hingga mangkuk tidak bersisa, dia memang gadis penyuka pedas, sedangkan Doni hanya mengaduk-ngaduk kuah dalam mangkuknya, menyuapkan nya sedikit demi sedikit.
"Oh iya kak, aku boleh tanya sesuatu gak?"
"Boleh dong, mau tanya apa? Pelajaran, atau PR atau apa?" ujar Doni dengan suapan kecil dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya berciuman?"