
Beruntung, Mac dan juga Doni masih berada di lobby hotel saat Farrel meneleponnya untuk menyiapkan mobil.
Mereka membawa Metta yang merintih memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit. Farrel semakin panik karena melihat bercak darah di sela paha istrinya itu.
"Sayang...tahan sebentar lagi ya, kita akan segera sampai di rumah sakit."
Sesampainya di rumah sakit, Metta segera mendapat pertolongan, dokter Frans masuk untuk memeriksanya, dan segera menghubungi dokter Mariska selaku dokter kandungan yang menanganinya selama pemeriksaan.
"Sayang ... maafkan aku! Semua pasti gara-gara aku, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan bayi kita!"
Metta yang terbaring di atas ranjang pemeriksaan pun menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Tidak apa-apa El ... aku dan bayi kita pasti akan baik-baik saja, kau harus tenang!"
Dokter Mariska pun datang dan langsung masuk ke dalam kamar pemeriksaan, dia melakukan pemeriksaan pada bayi dalam kandungannya.
Terlihat wajah Farrel panik dengan kedua mata coklat yang berkaca-kaca, dia terus berada disisi Metta, walau perawat sudah menyuruhnya untuk menunggunya di luar saja, namun Farrel menolaknya, dia tidak ingin sedikitpun meninggalkan sang istri.
"Biar saja sus! Biar dia tahu keadaan istri dan calon anaknya." Ucap Mariska tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor USG.
Mariska terlihat lega, dia menatap layar monitor itu dengan tersenyum,
"Hai ... say hai pada mama dan papa!" Ujarnya dengan menggerakan alat Tranduser dipermukaan kulit yang membuncit itu.
"Gimana dok, apa dia baik-baik saja?" tanya Farrel dengan khawatir.
Masih mengulum senyum, Mariska menoleh sekilas lalu kembali menatap monitor. "Ayo Nak tunjukan dirimu, disini ada papa yang khawatir padamu." Ucapnya dengan menggerakkan alat itu ke kiri dan ke kanan.
"Dokter Mariska! Jangan membuat aku semakin panik, mana ada bayi bisa menyaut, periksa yang benar!!" sentaknya.
"El ... jangan marah," ucap Metta lemah.
"Bagaimana aku tidak marah, dia malah bermain-main dengan alat itu."
Mariska terkekeh, "Kalian tenang saja, kandungannya baik-baik saja!" ucap Mariska yang membuat keduanya menghela nafas lega.
Farrel merengkuh istrinya, "Sayang maafin aku ya!"
Mariska bangkit dan berjalan menuju Tapi malam ini, "Lebih baik istrimu di rawat dulu, agar bisa istirahat total, pendarahan yang terjadi karena terlalu banyak fikiran dan juga stress, bisa juga karena kecapean!"
Farrel mengangguk, "Lakukan saja yang terbaik dok."
"Pasti itu El...."
"Makasih tante Mar,"
"Hih ... tadi saja marah-marah!" ujar Mariska dengan memutar bola matanya malas.
.
.
Keesokan hari
"Sayang, mau sesuatu? Biar aku menyiapkannya!"
Metta tidak menjawab, dia menarik tangan suaminya, "Aku tidak mau apa-apa El ..."
"Kakak masih marah padaku?"
Metta menggelengkan kepalanya. "Tidak ada guna nya lagi aku marah padamu? Semua toh sudah terjadi, aku juga bingung mau marah atau tidak sama kamu!"
"Maafin aku sayang, kedepannya aku tidak akan berbuat masalah lagi,"
"Jangan pernah berbohong lagi masalah apapun!" tunjuknya.
Farrel mengangguk, "Tidak akan pernah my Cerry...." ujarnya mengecup tangan istrinya.
Setelah berjaga semalaman suntuk, Mac dan dan Doni mengetuk pintu lalu masuk. Doni juga merasa dia mesti minta maaf, bagaimanapun juga dia sudah membantu Farrel berbohong.
Farrel membuka pintu, "Masuklah...."
Metta mengernyit, "Memangnya apa yang kalian bicarakan, aku tidak mendengarnya!"
Farrel menatap Doni, begitu pun sebaliknya,
"Jadi kakak tidak mendengar apa yang aku dan Doni bicarakan? Lantas kakak kesal kenapa?"
"Ya aku kesal karena kamu tidak pergi, malah Doni yang kau suruh kemari."
"Jadi hanya karena aku tidak menemui Doni dan malah sebaliknya?"
Metta mengangguk, "Iya ... memangnya kalian kenapa? Jangan melakukan hal aneh lagi El...."
"Enggak sayang!"
Ternyata kakak tidak mendengar apa yang aku dan Doni bicarakan, dan aku mengatakan semuanya! Sialan ... ku kira kakak tahu.
Mampus kau Rel, mau mengatakan kebohonganmu sendiri selama ini!
Metta memicingkan kedua matanya, "Kau berfikir aku mendengarnya dan itu sebabnya kamu mengatakan semua kebohonganmu!"
Farrel menggaruk kepalanya, dan mengangguk lemah.
"Kau ini ... jadi kalau aku tidak terlihat kesal kemarin, kau tidak akan mengatakannya?"
Farrel menatap wajah istrinya, "Aku tetap akan mengatakannya, mungkin!"
Membuat kedua mata ketiga orang menyalang ke arahnya.
"Enggak sayang ... aku akan tetap mengatakannya!"
Doni mendecih, begitu juga Mac yang mengulum bibirnya, Farrel melihat ke arahnya, "Sudah kalian pergi sana, jangan lupa kembali nanti siang."
Mac dan Doni pun mengangguk dan keluar dari sana.
Metta memukul lengan suaminya, "Dasar bocah!"
Farrel terkekeh mendengarnya, "Bocah yang berhasil menaklukan perempuan galak dan acuh menjadi perempuan yang pintar merayu dan mencintaiku dengan kekonyolanku, terima kasih sayang."
Metta tersenyum, "Sama-sama, aku juga tidak akan seperti ini jika tidak bertemu kamu."
.
.
Sementara Doni dan Mac keluar, dan mereka berpapasan dengan ibu Sri, dan juga Nissa. Mereka terlihat tengah mencari kamar di mana Metta di rawat.
"Kak Doni ... Hai kak!"
Doni mengangguk ke arah Nissa, lalu ke arah ibu Sri, " Ibu ... apa kabar? Mau ke ruangan Kak Metta?"
"Iya Don, Ibu baru dikabari tadi ... kenapa tidak dari semalam?"
"Semua sudah baik-baik saja kok bu, jadi tidak perlu khawatit, silakan ibu lurus, kamar VVIP disebelah kiri."
"Terima kasih Mac."
"Ayo Niss," Nissa mengikuti langkah ibunya, namun kembali menoleh ke arah belakang.
"Kak Doni!"
Doni menoleh kembali, dan melihat Nissa berjalan menghampirinya, "Selamat atas keberhasilannya,"
Doni mengacak rambutnya, "Terima kasih Nissa!"
"Jangan lupa traktir Nissa ya nanti!"