
Sebulan kemudian
Metta sudah tidak diperbolehkan lagi untuk membantu Farrel di kantor, selain Farrel melarang dirinya melakukan apa-apa, dia juga tidak ingin kejadian sebulan yang lalu terulang kembali.
Usai kandungannya sekarang 32 minggu, dengan perut yang semakin mengembang, ruang geraknya pun semakin sempit. Selain senam kehamilan, yoga, juga berenang, dia tidak melakukan apapun, begitu pun jika dia sedang di rumah, Farrel benar-benar overprotektif.
Namun Metta ingin sekali membantu persiapan pernikahan sahabatnya, dia kerap datang ke rumah utama untuk membantu. Atau hanya sekedar minum teh dan bercerita dengan Dinda, sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya sendiri. Sesekali menginap di rumah utama agar tidak bulak-balik, itupun harus selalu dengan Farrel, kalau tidak, mana mungkin bisa.
Seperti hari ini, semua berkumpul di rumah utama, kecuali calon mempelai pria. Metta pun berlalu pergi ke kamar Farrel, namun hendak masuk ke dalam, Dinda yang baru saja tiba memanggilnya, dan mereka pun mengobrol di dalam kamar.
"Shaun ... kangen!" ujar Dinda memeluk sahabatnya.
"Ish ... pelan-pelan, kau tidak lihat perut ku!"
"Ya ampun, sudah mau jadi ibu masih saja galak!"
"Apa hubungannya!"
Mereka berdua tertawa, lalu masuk ke dalam kamar,
"Kau masih ingat tidak, dulu kau itu sering modus mengantarkan berkas hanya untuk melihat Sweety ice mu itu, sampai kau menyamar jadi pohon," ujar Metta tergelak.
"Ya ampun memang memalukan sekali dulu itu, aku sempat menyerah, membuang barang pemberiannnya, bahkan novel kesayangan dari penulis favorit ku! Nyesel banget deh!"
"Gak apa-apa kali Sardin! Yang penting pada akhirnya kau akan menikah dengan nya."
Dinda merengkuh bahu Metta yang tengah hamil besar itu, "Semoga aku bisa segera menyusulmu Sha! Dan aku tidak menyangka kita akan menjadi saudara ipar."
Metta mengangguk, "Huum ... aku pun sama."
Ceklek
"Sayang, ayo istirahat!" seru Farrel yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Sayang ... aku kan hanya mengobrol, tidak melakukan apa-apa!"
Farrel meraih tangannya, "Istirahat yaa,
"Farrel benar, kamu harus banyak istirahat ya Sha, aku keluar dulu kalau begitu."
"Nyebelin deh, udah ini gak boleh, itu gak boleh, ngobrol juga gak boleh!"
Farrel merengkuh bahu sang istri, "Sayang ... kan harus simpan energi untuk melahirkan nanti!"
"Bukan berarti tidak boleh melakukan apapun sayang! Iihh ... gemes aku sama kamu!" ujarnya dengan memjumput hidung Farrel hingga kemerahan.
Farrel terkekeh, "Kalau aku gemes karena melihat ini!"mengusap perut buncit, Metta mengerucutkan bibirnya, seketika Farrel mengecup bibir Metta yang masih mengerucut itu dengan terkekeh, namun pada akhirnya
Metta mencubit pinggangnya, tangannya dan juga kedua pipi Farrel dengan gemas, "Mandi dulu kau baru saja pulang!"
"Habis mandi kita bersenang-senang yaa, aku ingin menengok!" ujarnya dengan melirik bagian perut Metta.
Metta mengangguk kecil, membuat Farrel bersorai, " Yess...."
Farrel pun berjalan masuk kearah kamar mandi, namun urung dia lakukan karena mendengar Metta meringis karena perutnya kembali sakit, Farrel yang melihatnya pun menjadi panik.
"Tuh kan kakak kurang istirahat!"
" Sayang, sepe--sepertinya a--aku mau ... aaahhh melahirkan!" ujar Metta dengan tergagap.
Farrel berlari keluar kamar dan berteriak pada Mang ujang untuk menyiapkan mobil, dia kembali masuk dan menggendong Metta.
.
Rumah sakit
Farrel berjalan mondar mandir, ruangan dimana Metta di periksa masih tertutup. Terlihat Ayu dan Arya yang duduk menunggu, Dinda juga datang, dia sengaja menjemput ibu Sri dan juga Nissa terlebih dahulu.
"Bagaimana El ... apa kata dokter!" tanya ibu Sri.
Farrel menggelengkan kepalanya, "Belum ada yang keluar dari ruangan ini bu!"
"Bersabar El ... mereka akan memberitahu kita jika sudah selesai pemeriksaaannya."
Terdengar suara bayi menangis, semua orang saling memandang, Farrel mengintip di celah jendela namun tidak melihat apapun.
Ceklek
Semua beranjak dari tempatnya, menyerbu dokter Mariska.
"Benarkah itu dok? Bagaimana keadaan ibunya, bayinya perempuan apa laki-laki?"
"Ya tuhan ... kita jadi Oma jeng Sri!"
"Yah ... ayah jadi opa yah!" seru Ayu dengan bahagia.
Namun Farrel terduduk di kursi dengan menangkup wajahnya, dia terguguk menangis karena mendengar hal itu.
"El ... ayo temui anak dan istrimu!"
Farrel menyusut wajahnya yang basah, kedua matanya berlinang, dia pun masuk ke dalam ruangan dan berhambur memeluk Metta. Menciumi seluruh wajah yang masih basah karena keringat.
"Terima kasih sayang, dan maafkan aku!"
Metta mengangguk lemah,
"El ... kau sudah melihat anak kita!"
Farrel melihat sekeliling namun tidak menemukan anaknya disana.
"Sedang dibersihkan papa, jangan khawatir!" ucap dokter Mariska.
.
Seorang perawat masuk dengan menggendong bayi ditangannya, membuat Farrel maupun metta menoleh ke arahnya, dan memberikannya pada Metta.
"Sayang ... ini anak kita?" Farrel kembali terisak.
"Huum ... lihat, seluruh wajahnya mirip denganmu El, tidak sedikitpun yang mirip denganku!"
"Benarkah?" ucap Farrel dengan menempelkan dagunya di lengan Metta dan melihat ke arah bayi yang tengah menyusu untuk pertama kalinya.
Farrel tersenyum, dan mengecup berulang kali pucuk kepala istrinya. Tak lama seluruh keluarganya masuk, dan melihat baby yang sudah kembali tertidur di pangkuan Metta.
"Wah lihat ... lucunya! Wajahnya sangat mirip kamu El!"
"Benar!" Ujar Sri yang ikut menangis bahagia.
"Kau mau beri nama dia siapa El?" Ujar sang bunda.
Farrel yang duduk di tepi ranjangpun berdiri.
"Shena Queenasha."
Semua orang saling memandang, sementara Metta mengulum senyum.
"Pasti kalian berfikir ini anak laki-laki karena wajahnya mirip sekali denganku kan?"
"Tidak apa, kita punya Farrel versi perempuan!"ujar Ayu dan semua orang mengangguk.
"Terima kasih sayang! Sudah melahirkan anak ku!" ujar Farrel mengelus pipi Baby Shen."
"Aku yang berterima kasih, atas semua kebahagian yang kamu berikan padaku...."
Tamat
.
Hai readers setia BM... jujur, berat hati author ngetik kata tamat ini, makanya, untuk beberapa hari yang lalu author gak bisa up bab, karena itu tadi.
Author sendiri gak bisa move on dari mereka berdua ( Author Sayang banget sama Farrel)
Karena dengan kehadiran baby Shen, melengkapi semua kebahagian mereka.
Mungkin nanti ada boncap khusus buat Doni dan Tia gangguan Nissa tentunya. Tapi nanti yaa.
Sampai jumpa di karya author yang lainnya.