Berondong Manisku

Berondong Manisku
Misi Kenangan 3


Cinta itu buta,


Dia tak pernah pandang bulu.


Sekalipun seluruh dunia menolaknya,


Akan runtuh juga ketika kita menerimanya.


Dan logika pun akan kalah,


Karenanya ego saling mengalah,


.


.


"Kak, apa lo yakin lo cinta sama cowo itu, dia itu masih muda ka, cuma beda setahun sama gue. Dan cowo seumuran dia gak ada pemikiran serius serius sama pasangan nya, yang ada dia hanya main main sama lo kak? lo mau..?"


"Nih gue, sebagai cowo ngingetin lo nyon, gue gak mau lo sakit hati lagi kayak dulu."


"Gue yakin dia gak serius sama lo"


Sekilas Metta larut dalam lamunan nya, kata kata Andra adiknya beberapa waktu lalu berputar kembali dikepala,


"Mba beruntung punya kekasih seperti mas nya itu, dia begitu baik, penyayang, dan dia juga terlihat sangat menyayangi mba,"


Metta terhenyak dalam lamunan nya, menoleh pada Farrel yang tengah menepuk nepuk punggung bocah kecil itu.


"Masa iya bu" ibu itu mengangguk.


"Tapi kita terpaut usia lho bu"


"Asal tidak mengubah diri kita harus menjadi orang lain, yang tidak membuat mba patah semangat, kenapa tidak mba"


Metta tersentak, baru saja memikirkan keraguan namun Tuhan seakan memberi jawaban.


Farrel melirik ke arahnya, senyum nya mengembang seiring berhentinya roda kereta.


"Inget yang kakak bilang apa?"


"Laki laki gak boleh nangis"


Farrel mengacak rambutnya "Anak pinter.."


Mereka pun berpamitan, Farrel melambaikan tangannya saat anak dan ibunya yang melenggang meninggalkan stasiun.


BANDUNG


Sejuta cerita yang hanya pernah Metta dengar dari teman- teman nya dulu, legenda rakyat Sangkuriang yang berasal dari bandung, Tempat wisata kuliner.


Cerita menarik dari kota kembang itu yang hanya bisa dia lihat dari sosial media. lagi lagi soal keterbatasan biaya, dan juga waktu. Biaya yang lebih baik dia pakai untuk kebutuhan keluarganya.


"Pilihan kamu kenapa Bandung?" Ucap Metta saat mereka baru saja keluar dari stasiun.


"Karena aku belum pernah kesini" Ucapnya dengan meraih tangan Metta.


"Astaga,"


"Kita akan kemana?"


"Ketempat yang kakak ingin pergi"


"Memangnya kamu tau kemana aku ingin pergi, list itu kan aku tandai semua"


Farrel menggenggam tangan Metta dan berjalan beiringan.


"Aku tau semua yang kakak inginkan sebelum kakak mengatakannya padaku"


"Ah manisnya"


.


.


Setelah mengotak ngatik ponselnya, mereka pergi menggunakan Taxi online menuju tempat tujuan hingga mereka berhenti tepat di depannya.


"Makasih Pak," ujar Farrel menyerahkan beberapa lembar uang pada supir itu.


Mereka berdua turun dan berjalan sesuai arahan pak supir, benar saja jarak nya tidak terlalu jauh jika berjalan.


Metta mengedarkan pandangan nya pada tempat yang terasa tidak aneh baginya, pernah melihatnya beberapa kali disosial media dan ingatannya kembali berputar saat saat masa sekolah.


Saat dirinya tidak bisa pergi study tour karena saat itu ayahnya sedang sakit,


Bangunan belanda dengan bentuk kubah besar diatasnya. Dan membelalakan kedua netranya saat menyadari bahwa tempat itu adalah Tempat yang memang tempat yang dia ingin kunjungi.


"Observatorium Bossha"


Farrel mengangguk, dia tersenyum saat melihat Metta yang tengah mengamati bangunan itu dengan penuh takjub.


" Tapi ini kan bukan tempat wisata"


"Memang bukan, tapi kita bisa masuk, mereka menyediakan tiket untuk orang orang masuk dan melihat nya"


"Apa kali ini kamu gak akan menerobos lewat jalan belakang?"Metta terkekeh.


Dia tertawa"Tentu saja tidak, karena aku tidak tau harus kabur kemana jika ketauan"


Dengan tangan saling bertaut mereka memasuki gedung itu, gedung yang merupakan benda cagar alam dan dilindungi pemerintah.


"Mereka tidak banyak menerima pengunjung"


Metta mengangguk." Yaa aku pernah baca itu, mereka melakukan dua sesi kan untuk pengunjung, siang dan malam"


"Kakak sangat pintar" Farrel mengacak pucuk rambut Metta hingga sedikit berantakan.


"Farrel..." Bentak Metta.


"Iya sayang aku disini"


"Astaga, sabar.. sabar , baru tadi dia bersikap manis. Sekarang membuat aku kesal lagi"qq


"Kenapa kakak menyukai tempat ini?"


" Aku menyukai bintang, langit, gugusan bintang, cahaya bintang di malam hari, sangat menenangkan jika sedang melihatnya"


"Menyukai ku juga sangat menenangkan bukan"


"Apa siih" Farrel terkekeh.


Sekian lama mereka menikmati ruangan demi ruangan, penjelasan demi penjelasan yang disampaikan oleh petugas observasi yang berada disana. Tentang pengamatan kurva cahaya, aktifitas matahari, lidah api atau disebut Prominesa, bintik matahari, hingga penelitian terhadap aktifitas matahari yang berdasarkan cuaca antariksa yang berdampak pada iklim dibumi, dan akan memperngaruhi keselamatan penerbangan.


Dan ditempat itu mereka melihat langsung aktifitas matahari melalui teropong, Bangunan yang hampir 90 tahun berdiri yang memiliki beberapa teropong.


Tak henti hentinya Farrel melihat ke arah Metta yang tengah menikmati pemandangan langit. Terlihat raut bahagia dengan jelas di wajahnya, Dengan memasukan satu tangan didalam saku celana nya. Dia berjalan mendekati Metta.


"Aku punya sesuatu buat kakak" Farrel melingkarkan tangannya dipinggang Metta.


"Issh...Farrel malu, gak liat banyak orang disini"


"Mereka gak akan peduli, lihat saja" Farrel terkekeh kemudian merekatkan kembali pelukan nya.


Benar saja, orang orang tampak serius bersama pasangan pasangannya masing masing, lembayung senja yang tergurat dilangit sore itu menambah suasana menjadi begitu hangat.


"Bukalah, ini untuk kakak"


"Apa ini?" Metta mengambil kotak berwarna merah dari tangan Farrel.


"Bukalah"


.


.


Jangan lupa like, komen, dan dukung aku terus.


Makasih 😘