
Malam semakin sunyi, jalanan pun semakin lenggang. Hanya terlihat beberapa sorot lampu yang berasal dari kendaraan yang hanya sesekali lewat saja.
"El ... mundur enggak! Kali ini menaikan intonasi suaranya.
"Terlambat, aku ingin menghabiskan kakak sekarang juga." Farrel berseringai.
"El... gak lucu, mun-mundur!"
"Karena kakak membuatku tidak bisa menahannya lagi,"
Metta kini berada dikungkungannya, Farrel mengunci tubuhnya dengan menempelkan lengannya pada bantalan kursi dan satu tangan yang menekan kaca.
"El, jangan bikin aku takut...!"
Seketika Farrel tertawa hingga terpingkal, " Maaf sayang, aku hanya bercanda! Apa aku cocok memerankan peran begitu?"
Tubuh Metta seketika melunglai, nafasnya terengah-engah, kepanikan jelas kentara di wajahnya.
"Gak lucu tahu!" Matanya menyalang tajam kearah Farrel.
"Menyebalkan."
"Maafin aku sayang, janji deh gak akan lagi,"
"Gak usah berjanji, aku gak suka."
"Sayang udah dong, jangan marah-marah lagi ya. Atau kakak ingin aku cium beneran?"
"El, bener-bener ya. pantas saja bunda selalu memanggilmu anak nakal," Metta memukul Farrel dengan brutal,
"Kesel tahu gak, ih... awas ya ... Aku aduin!" ucapnya kemudian.
"Habisnya kakak sangat menggemaskan! Aku selalu ingin menggoda kakak."
"Menyebalkan." Metta menyilangkan tangannya.
Farrel masih dengan tawanya," Maaf yaa, ayo kita pergi makan sekarang!"
Akhirnya Farrel melajukan kembali mobilnya, menyusuri jalan hingga mereka menemukan tempat untuk mereka mengisi perut mereka.
Farrel mengantarkan Metta pulang setelah sebelumnya mengisi perut terlebih dahulu. Metta membuka seat belt yang melingkar di tubuhnya, sementara Farrel keluar mengitari mobil membuka pintu untuk Metta.
"Sudah aku bilang, aku bisa buka sendiri El, kau ini!"
"Apa karena aku masih berusia dibawah kakak, kakak tidak mau menurutiku? begitu?"
"El apa sih? Aku hanya tidak terbiasa saja."
"Mulai sekarang kakak harus membiasakan diri."
"El apa tidak ada yang lebih penting untuk dibahas dari hanya sekedar buka pintu?" Metta mengerucutkan bibirnya.
Metta duduk di kursi depan rumah, sementara Farrel duduk disampingnya, "Memangnya apa yang lebih penting? kakak ingin membahas pernikahan sekarang?"
"Astaga, sayang!"
Farrel hanya terkikik, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Metta sontak kaget melihat sahabatnya yang muncul dari balik pintu.
"Sha, Aku mau ngomong sama kamu bentar, bisa kan?" Melirik Farrel yang juga tengah menatapnya.
"Bicara saja,"
Dinda memainkan ujung kukunya, dia tertunduk saat bicara. Karena selama ini menyembunyikan sesuatu.
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu Sha!"
"Minta maaf untuk apa?"
"Aku minta maaf, karena aku udah ikut-ikutan rencana yang tante Ayu buat, tapi sungguh, aku tidak ada niat terus membohongi kamu Sha?"
"Lantas sejak kapan kamu tahu El adalah anak Tante Ayu dan juga berasal dari keluarga Adhinata."
"Waktu di mall itu aku tidak sengaja melihat Pak Alan berjalan tergesa-gesa. Aku ikutin dia Sha karena aku pengen tahu. Ternyata dia pergi ke Basement, disana aku lihat semuanya. Kalian dan juga Tante Ayu. Aku memang tidak melihat Pak Alan setelah itu, dan aku juga lupa aku ke Basement hanya untuk ngikutin dia."
"Lantas, Kamu kerumah Tante Ayu?" Dinda menggeleng.
"Aku ketemu Tante Ayu pertama kali, saat aku ketahuan ngikutin pak Alan sampai ke Apartemennya, dan ternyata Apartement yang waktu itu kita lihat Farrel berdua dengan Tasya,"
"Dan kamu tidak bilang apapun padaku Din, bahkan kamu bisa sama kagetnya pas aku tanya anak kecil didalam foto yang kita lihat di lobby, Astaga....Bego kan aku Din!"
"Tapi gak gitu caranya Sardin,"
"Aku beneran gak tega waktu kamu nangis-nangis di Apartement waktu itu. Makanya aku nekat pas aku lihat Tante Ayu berada di Apartemen Alan,"
"Yang aku kira mereka ada hubungan spesial dan ternyata memang spesial Sha," Dinda melirik Farrel yang tengah menyorot padanya.
"Aku sudah bilang memang aneh kan teman kakak ini!"
"Memang kamu mengetahui apa?" liriknya pada Farrel.
"Aku tidak tahu apa-apa selain teman kakak ini selalu menguntit Alan,"
"Benar Din?" Dinda mengangguk.
"Kamu gak pernah cerita apapun sama aku?"
"Gimana mau cerita kamu aja sibuk gak jelas, pacaran mulu, sekali nya nangis kejer kan!"
"Jadi waktu kamu nemuin aku itu emang sengaja ngikutin? karena sudah tau semua?" Dinda mengangguk lagi.
"Aku yang kasih tahu pak Alan agar dia juga kasih tau Farrel."
"Mereka berdua benar-benar pasangan aneh kan!" Farrel ikut menyela.
Metta mengernyit, "Pasangan? maksudnya...?"
"Iya, mereka sepasang yang suka ikut campur."
"My Sweety ice? my hot my ice?"
"Ceritanya panjang, nanti aku cerita!" tukas Dinda.
"Jadi kamu udah maafin aku kan!"
"Sudahlah toh semua sudah terjadi, aku hanya kaget dan tidak menyangka kalau kamu juga ikut terlibat, ya meskipun niat kamu baik Din, awalnya!"
"Kakak memang super, selalu memaafkan dan tidak berlarut-larut!" mengelus punggung Metta.
"Makasih ya Sha." Dinda memeluk Metta.
"Sudah gak apa-apa, udah terjadi juga kan!" membalas pelukan Dinda.
"Aku juga mau dipeluk!" Farrel merentangkan tangannya.
"El..."
Farrel terkekeh, "Enggak sayang, aku bercanda!"
"Sha, aku nginep sini yah!" Metta mengangguk.
"Ayo, biar kamu bisa cerita semua nya!"
"Aku juga boleh nginep sini gak?" Farrel terkekeh lagi.
"Aku bercanda lagi sayang."
"El ..astaga!" Farrel masuk kedalam rumah untuk berpamitan pada Ibunya Metta.
"Bu, aku pulang!"
Sementara Metta dan Dinda silih menatap.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen dan terus dukung karya receh aku yaa dengan rate 5, Fav dan juga vote nya.
Gift juga boleh yaa..
Makasih😘
✍ Cerita lengkap Dinda dan Alan lengkapnya ada di novel aku yang Assistant Love yaa..