Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kunjungan mendadak 2


"Maksud kakak apa?"


"Sifatmu persis seperti ibumu ..." bisik Metta pelan.


"Benarkah ...?"


Metta melangkah menuju ruang makan dan menggeser kursi untuk dia duduki. Sementara Farrel mengikuti langkahnya dari belakang, seakan tidak mau ditinggalkan.


Sementara para orang tua duduk di rumah tamu, entah berbicara apa, mereka juga memperhatikan beberapa orang yang masih hilir mudik membawa barang masuk kedalam rumah.


"Berarti aku berlebihan begitu?" seru Farrel dengan menggeser kursi disamping kekasihnya itu.


Metta menarik tipis bibirnya keatas, menatap kekasih kecilnya itu.


"Kak, jawab aku! bukannya hanya melihat begitu!apa aku berlebihan..?"


"Bukan begitu!"


"Lantas kakak bilang aku seperti Bunda, berarti aku berlebihan begitu!"


"Astaga El ... udah ah!


"Jawab dulu, atau aku marah! kakak belum tahu kan seperti apa marahnya aku..hem?"


"El jangan menakutkan begitu!"


Metta menatap lekat wajah kekasihnya itu, dia memang berlebihan namun entah kenapa Metta juga menyukai sikap berlebihan nya itu, merasa diperlakukan special, bahkan di nomor satukan dari segala hal? bukankah semua gadis juga akan menyukainya.


"Kenapa? kakak mau mengakui kalau aku benar-benar tampan kan!"


"Astaga, kamu tuh yaa!" tangan nya menggusel kedua pipi Farrel.


"Kakak, sakit!"


"Biarin, aku gemes sama kamu!"


"Sepertinya benar kata temen kakak yang aneh itu, kakak kecintaan kan sama aku!" Farrel menarik turunkan alis tebalnya.


Metta tersentak, " Hei, bicara apa kamu? kapan Dinda bilang begitu!"


"Aku mendengarnya sendiri! iya kan ayo ngaku," Farrel menusuk-nusuk pelan pinggang Metta.


"El jangan gitu, nanti dilihatin ..."


"Ayo ngaku..."


"El... hentikan aku geli!"


Farrel berkacak pinggang, "Ayo ngaku dulu ...!"


"Iya ... iya,"


"Iya apa hem?"


"Iya, Dinda emang bilang gitu!"


"Bukan itu..." kembali menusuk-nusuk pinggang.


"Astaga... lantas apa?" tubuhnya ikut meliuk-liuk menghindari Farrel.


"Aku ingin dengar kakak bilang sendiri!"


"Bilang apa?"


"Ayolah kak, sekali saja!" raut wajah menggemaskan dengan mata membulat dan mengangguk-ngangguk.


"Orang aneh!" Metta beranjak dari duduknya. Melewati meja masuk kedalam dapur.


Metta mengambil gelas yang dia isi dengan air, lalu menenggaknya hingga tandas.


"Bilang kakak mencintai aku!" sergap Farrel yang memeluk Metta dari belakang, membuat Metta tersedak.


"El ... Astaga, ayo lepaskan, kamu gak lihat didepan banyak orang. Nanti kita ketahuan!"


"Bilang dulu baru aku lepaskan!"


"El nanti kita ketahuan lagi! nanti masalah lagi,"


"Biar saja aku tidak takut!"


"El, astaga..."


Farrel justru membalikkan tubuh Metta hingga mereka saling berhadapan. Kedua tangan Farrel bertumpu pada wastafel, mengunci tubuh Metta.


"Katakan, aku ingin mendengarnya!"


"Kau kan sudah tau jawabannya El,"


"Aku yang duluan mengatakannya, kakak hanya membalasnya saja,"


Metta mulai menghentakkaan kakinya dilantai, dia benar-benar takut ketahuan lagi. Tidak ingin mencari masalah dengan anggota keluarganya karena kembali berbuat macam-macam. Meskipun saat ini desiran demi desiran mulai terasa dialiran darahnya.


Sementara Farrel masih bertahan dengan posisinya, membuat kekasihnya itu semakin salah tingkah, Metta memang sudah mencintai Farrel, tapi untuk mengakuinya secara terang-terangan? nanti dulu, dia gadis berego tinggi.


"El, ayolah..." Metta sudah mulai kesal.


"Ayo... kita mau mulai dari mana hem?"


"Astaga... El!" Metta memejamkan matanya sekilas, betapa susahnya menghadapi bocah yang tengah jatuh cinta.


"Tidak sebelum kakak mengatakannya!"


"Katakan apalagi? kau sudah tau jawabannya,"


"Udah ah, jangan terus membahas hal begini!"


"Ah, kakak! kenapa sangat susah sekali, padahal hanya tinggal bilang saja."


"Bagaimana kalau aku tidak mengatakannya?" Metta bersidekap tangan.


"Berarti kakak tidak sungguh mencintaiku !" Farrel merengut.


"Astaga...kamu gak tau rasanya jika kata-kata yang ingin kau ucap itu tercekat di tenggorokan,"


Farrel meraih dagu Metta, mengangkatnya dengan jari telunjuk hingga sepasang netra mereka bertemu, "Jika kakak belum sepenuhnya mencintaiku, aku akan menunggu lebih lama lagi."


"Bukan begi-"


Farrel mengecup pelan bibir Metta, memundurkan kembali wajahnya dan menatapnya kekasihnya itu dengan lekat, "I love you Mettasha,"


Farrel kembali menyambar bibir yang masih saja kelu untuk mengatakan apa yang dirasakannya, mencecapnya dalam-dalam. Semakin lama semakin lihai saja lidahnya menari didalam sana.


Membuat Metta kembali terbuai, hembusan nafas keduanya saling berlomba, namun tiba-tiba pagutan mereka terlepas saat ada seseorang yang masuk kedalam dapur.


"Astaga, apa aku sedang bermimpi! semakin hari mimpiku semakin aneh saja." Dinda mengucek kembali matanya, kemudian berlalu menuju kamar mandi melewati mereka begitu saja.


"Dia benar-benar aneh kan!" ucap Farrel kemudian.


"Dia memang begitu kalau bangun tidur, jadi aku tidak heran,"


"Syukurlah, berarti teman kakak tidak menyadari kita barusan sedang apa," menyatukan jari dengan jari yang dibentuk kerucut.


Metta menepis tangan Farrel, " El... Astaga!"


Lalu mereka keluar dari dapur masih dengan kikikan mereka.


"Hey, anak nakal ! kemari ..." Seru Arya dari kejauhan, membuat Metta berhambur dengan cepat, sementara Farrel berdecak frustasi.


"Syukurlah kita tidak ketahuan...." Farrel mengurut dadanya.


"Bukan kah kau tadi tidak takut ketahuan?" Farrel terkekeh.


Metta memukul bahunya dengan keras,


"Aw..." Ringisnya,


"Rasakan...!" Metta menjulurkan lidahnya.


.


.


"Astaga, sudah seperti lamaran saja ini!" gumam Metta pelan, melihat barang-barang begitu banyaknya tersusun rapi memenuhi meja makan.


"Memangnya begini ya kalau lamaran?" tukas Farrel dari belakang telinganya, dan Metta mengangguk.


Mereka semua duduk, Farrel berada di samping sang Bunda yang berada disisi Ayahnya. Sementara Metta berada disamping ibu dan juga Andra.


"Jadi begini Bu Sri, kedatangan kami sekeluarga ini untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas perbuatan kami yang tidaklah patut seperti kemarin,"


"Kami juga membawa barang-barang ini bukan bermaksud apa-apa, inilah bentuk permintaan maaf kami pada keluarga ibu khususnya pada putri Ibu, karena kami belum tahu apa yang disukai maupun tidak oleh anak Ibu dan juga adik-adiknya." kelakar Arya.


"Maafkan kami ya Nak," ucap Arya pada Metta.


"Maafkan sikap berlebihan kami yang membuat kamu sulit," kali ini Ayu yang berbicara.


"Kami benar-benar meminta maaf pada keluarga jeng Sri,"


"Sudah jeng, Pak Arya ... kami sudah memaafkan semua, yang sudah, sudahlah tidak usah dibahas lagi,"


"Terima kasih jeng Sri, keluarga kalian sangat berbesar hati. Mengerti dan memaklumi kami," Ayu menyentuh tangan Sri.


"Maafin Bunda El bu, Bunda memang selalu berlebihan begitu!"


"Iya seperti kamu juga kan El," Arya ikut menyela.


"Ayah...!" Ucap sang istri.


.


.


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan dari luar, "Permisi..."


Semua mata mengarah kearah pintu, Sosok tegap dan dingin itu kini berdiri diambang pintu.


"Alan, sini Nak masuk!"


"Pak- " Metta mengangguk.


"Tidak usah sungkan begitu, aku bukan atasanmu disini!"


"Heh, tidak usah galak-galak, kau mau membuat pacarku takut!"


"Diam jangan banyak bicara kau!"


"Alan, El, kalian ini tidak dimana-mana ribut terus," ucap Ayu.


"Maaf semuanya aku terlambat datang! ada sesuatu yang harus aku urus sebelumnya.


"Sudah, ayo Nak duduk!" Ucap Sri dan Alan hanya mengangguk.


"Nih Sardin kalau tahu dia ada disini bagaimana reaksinya ya!"


Mereka kemudian bercengkrama, segala macam hal menjadi topik mereka, Farrel dan Metta sibuk membereskan barang-barang di ruang makan. Dibantu Andra dan juga Nissa.


Alan terduduk di sofa yang menghadap ruang makan, sesekali memperhatikan mereka yang tengah meributkan barang-barang.


"Dasar kalian ini!kenapa hal begitu saja menjadi ribut." ucap nya dengan ketus. Saat memperhatikan Farrel yang selalu menjaili Andra maupun Nissa.


"Abang, nih mau? biar gak marah-marah terus!" mengacungkan permen coklat kearah Alan.


Membuat Alan jengah dan berlalu dari sana.


Alan keluar dari rumah, berjalan ke arah samping rumah, dan terduduk di kursi. Melihat berbagai tanaman yang ada disana. Fikiran nya melayang,


Brug


Dinda yang baru saja keluar dari rumah bertabrakan dengan Alan yang hendak masuk kembali.


"Apa aku sedang bermimpi lagi?"


"Kau... sedang apa kau disini!"


"Aku...eeh aku sedang aa- a ...." Dinda terlihat bingung menjawab pertanyaan yang diajukan Alan.


"Apa...sedang Apa?" Alan melangkah maju namun Dinda terus mundur.


"Kau sudah bosan hidup! mana nyali mu yang besar itu?" Alan terus melangkah.


"Apa sekarang kau takut Akira...?"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi🤣 karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi ❤ dalam kehaluan ini..


🤣🤣🤣🤪❤