
"Huh, bagaimana ini, apa aku harus memakainya?" Windi nampak ragu untuk memakai pakaian transparan yang ada di tangannya saat ini. Beberapa kali ia membolak-balikkan pakaian tipis itu dan menempelkannya di tubuhnya.
"Apa aku harus memakainya?" Tapi aku merasa tidak pantas untuk memakainya. Pakaian ini sungguh tipis dan transparan." Windi semakin ragu untuk memakainya. "Tapi Marvel memberikan ini sebagai hadiah untukku. Dia sudah begitu baik memberikan aku hadiah. Rasanya sungguh tidak pantas jika aku tidak menggunakannya.
Windi kembali menimbang. Setelah meyakinkan dirinya untuk memakai pakaian yang diberikan Marvel, akhirnya Windi memasangkannya ke tubuhnya.
"Oh astaga... kenapa aku sudah seperti wanita penggoda." Windi merasa geli melihat penampilannya saat ini. Gaun malam bewarna merah menyala itu terlihat sangat ketat menempel di tubuhnya dan memperlihatkan bentuk tubuhhya.
"Tidak, tidak, ini tidak cocok untukku." Windi berniat menanggalkan pakaian itu. Namun saat mendengarkan ketukan pintu dari luar kamar mandi mengurungkan niatnya.
"Sayang, kenapa kau lama sekali?" Marvel terdengar berteriak di luar kamar mandi. Sepertinya pria itu sudah sangat tidak sabar menanti istrinya untuk keluar dari dalam kamar mandi.
"Tunggu sebentar." Sahut Windi. "Aduh, bagaimana ini?" Windi nampak gugup. Rasanya ia sungguh malu memperlihatkan dirinya pada Marvel dengan penampilan seperti saat ini. Walau sudah sering memperlihatkan tubuh polosnya pada Marvel, namun tetap saja Windi merasa malu jika menggunakannya di depan Marvel.
"Sayang..." Marvel kembali mengetuk pintu namun lebih keras.
"Aduh..." Mau tidak mau Windi pun memberanikan dirinya keluar dari dalam kamar mandi karena tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama dan membuatnya kecewa.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terdengar terbuka membuat Marvel segera menjauhkan tubuhnya dari pintu.
"Sayang..." kedua bola mata Marvel berbinar menatap penampilan istrinya saat ini.
"Mas..." Windi yang merasa malu segera menutup bagian tubuhnya yang menonjol dengan tangannya.
"Hei, kenapa kau menutupinya? Kau terlihat seksi seperti ini." Marvel mendekati istrinya dan melepaskan tangan Windi yang sedang menutupi kedua bagian tubuhnya yang sangat menggiurkan di matanya.
"Jangan menutupinya. Kau terlihat semakin cantik seperti ini." Ucap Marvel dengan tatapan memuji. Entah mengapa ia merasa istrinya semakin bertambah cantik dengan penampilan barunya seperti saat ini.
"Mas, apa aku sudah boleh mengganti pakaian ini? Aku sungguh tidak nyaman memakainya. Lagi pula kau sudah melihatku memakainya bukan?" Pinta Windi.
"Tidak boleh." Sahut Marvel cepat.
"Tapi Mas..." Windi memasang wajah protes. Ia sungguh malu dengan penampilannya saat ini yang sudah pantas disebut sebagai wanita penggoda.
"Tidak ada bantahan, Sayang." Ucap Marvel lalu dengan gerakan cepat menggendong istrinya.
"Mas, apa yang kau lakukan!" Pekik Windi merasa terkejut dengan aksi Marvel.
"Menggendongmu." Jawab Marvel singkat lalu membawa tubuh Windi ke arah ranjang.
"Turunkan aku, turunkan aku, Mas!" Windi menepuk-nepuk punggung Marvel berharap Marvel segera menurunkannya. Namun Marvel seolah tidak peka dan terus membawa istrinya melangkah ke arah ranjang.
Dengan hati-hati Marvel menurunkan istrinya ke atas ranjang lalu menatap penampilan istrinya dari atas sampai bawah. "Kau terlihat sangat seksi dan menggemaskan." Ucap Marvel lalu dengan gerakan perlahan menaiki ranjang.
"Ma-mas... apa yang mau kau lakukan?" Tanya Windi merasa takut melihat tatapan suaminya saat ini.
"Memangsamu." Jawab Marvel asal lalu menghimpit tubuh istrinya.
**^