
"Arthur..." Jasmin mengusap rambut putranya dengan mata berkaca-kaca.
Arthur pun mengangkat kepalanya dari paha Jasmin dan menatap Jasmin dengan wajah sendu. "Mommy sembuh kan?" Tanya Arthur yang sudah menangis.
"Maafkan Mommy, Arthur. Untuk saat ini Mom tidak bisa berjanji untuk sembuh dan menemani Arthur hingga tumbuh dewasa." Air mata Jasmin mulai jatuh di kedua pipinya.
"Jasmin, jangan berbicara seperti itu." Tegur Windi merasa tak suka mendengar perkataan Jasmin.
Jasmin menggelengkan kepalanya. "Arthur... berjanjilah pada Mommy jika kau akan tumbuh menjadi anak yang baik jika Mommy sudah tidak lagi berada di sampingmu." Pinta Jasmin.
"Mommy..." tangisan Arthur mulai bertambah kencang.
"Jasmin... aku bilang jangan berbicara seperti itu." Ucap Windi pelan.
Jasmin kembali menggeleng lalu meraih sebelah tangan Windi. "Windi... bolehkah aku meminta satu permintaan terakhir kepadamu?" Pinta Jasmin.
"Jasmin..." Windi menggeleng dan tanpa sadar jika kini air mata sudah mulai menjatuhi kedua pipinya.
"Bolehkah?" Pinta Jasmin lagi sambil menahan rasa sakit yang teramat pada perutnya.
"Katakan. Apa itu?" Tanya Windi.
"Windi... aku tahu kau adalah wanita yang baik. Aku ingin meminta satu permintaan kepadamu yaitu untuk melanjutkan perjalananku untuk merawat Arthur hingga dewasa. Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa selain pada dirimu." Ucap Jasmin sedikit terbata.
"Jasmin..." tubuh Windi dibuat bergetar mendengar permintaan Jasmin.
"Windi... aku tahu waktuku sudah semakin dekat. Aku tahu jika aku sudah tidak bisa lagi berjuang untuk merawat Arthur. Ku mohon padamu, Windi. Ku mohon jaga Arthur untukku. Tidak ada lagi orang yang Arthur punya selain diriku di dunia ini." Lirih Jasmin.
"Jasmin, tanpa kau minta aku pasti akan merawat Arthur selayaknya anakku sendiri. Ku mohon bertahanlah untuk tetap hidup. Aku akan merawat Arthur selama kau berjuang untuk sembuh." Ucap Windi.
Jasmin hanya tersenyum membalas perkataan Windi. Kini pandangannya beralih pada Arthur dan meminta Arthur untuk memeluk dirinya. "Arthur... Mommy sangat menyayangimu, Nak. Jadilah anak yang baik dan penurut pada Tante Windi." Pinta Jasmin.
"Iya, Mommy." Jawab Arthur patuh.
Tak lama kemudian Windi tiba-tiba panik saat melihat Jasmin yang tiba-tiba pingsan.
Arthur pun seketika mengangkat kepalanya dari paha Jasmin saat merasa tangan Jasmin tak lagi mengusap kepalanya.
"Mommy? Kenapa Mommy tidur?" Tanya Arthur.
"Dokter!" Pekik Windi menatap Dokter dan perawat yang berdiri tidak jauh darinya.
Mendapatkan panggilan dari Windi membuat Dokter dan perawat bergegas menghampiri Jasmin.
"Suster. Cepat bawa Nona Jasmin kembali ke dalam ruangannya!" Titah Dokter dengan wajah yang nampak tegang.
"Mommy mau dibawa kemana?" Arthur berupaya menahan langkah perawat yang hendak membawa Mommynya.
"Maaf, Tuan kecil." Ucap perawat lalu dengan segera mendorong kursi roda Jasmin masuk kembali ke dalam rumah sakit.
"Ada apa dengan Jasmin, Dokter?" Tanya Windi cepat.
Dokter hanya menggeleng lalu berlari mengejar langkah perawat yang membawa Jasmin.
"Mommy... Mommy..." Arthur pun ikut berlari hingga membuat Windi ikut berlari mengejarnya.
"Windi!" Suara teriakan Marvel menghentikan langkah Windi. "Berhenti. Biarkan Jhoni yang mengejarnya!" Titah Marvel.
Windi terdiam dan mengangguk sebagai jawaban.
Jasmin... ku mohon bertahanlah... ucap Windi dalam hati merasa cemas sekaligus takut dengan kondisi Jasmin.
"Apapun yang terjadi kita harus menerimanya." Ucap Marvel penuh arti.
***
Extra chapt akan berlanjut dengan cerita kehamilan Windi ya. Cuma tidak banyak hehe🤗