
Satu minggu telah berlalu sejak Windi dinyatakan hamil. Dan kini di kediaman Atmajaya tengah diadakan acara syukuran atas kehamilan Windi sekaligus perayaan ulang tahun pernikahan Marvel dan Windi yang pertama.
Tidak terlalu banyak orang yang diundang Tuan Bagas di acara syukuran malam itu karena Tuan Bagas hanya mengundang kerabat dan orang-orang terdekat mereka saja.
Sejak awal acara dimulai baik Marvel atau pun Windi tak melunturkan senyuman di wajah mereka masing-masing. Mereka terus tersenyum menatap pada para tamu undangan yang datang seolah menggambarkan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan saat ini.
"Sayang, jika kau lelah kau bisa istirahat di sana saja." Ucap Marvel lembut pada istrinya.
"Aku belum lelah, Mas." Jawab Windi.
"Jangan memaksakan tubuhmu, ingat kau sedang hamil." Ucap Marvel sambil merangkul pinggang Windi.
"Iya, Mas..." balas Windi sambil mengelus tangan suaminya.
Tak berselang lama seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua nampak berlari ke arah mereka sambil memegang permen di tangannya.
"Anty Windi, apa adik Arthur belum datang?" Tanya gadis kecil yang tak lain adalah Zeline.
Mendengar nama Arthur tentu saja membuat Windi tertegun. Ia hampir saja melupakan anak dari sahabat baiknya itu. Pandangan Windi seketika teralihkan pada Marvel yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Mas..." tegur Windi.
"Ada apa?" Tanya Marvel sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Apa Mas sudah menghubungi Jhoni dimana keberadaannya saat ini? Kenapa sampai saat ini Jhoni belum juga sampai membawa Jasmin dan Arthur kemari?" Tanya Windi.
"Aku belum menanyakannya. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai." Ucap Marvel.
"Coba hubungi saja, Mas." Pinta Windi.
Belum sempat Marvel menjawab, panggilan suara dari Papa Bagas sudah mengalihkan perhatian Marvel dari istrinya.
"Tunggu sebentar. Aku ingin menemui Papa dulu." Ucap Marvel.
"Anty..." Zeline menatap Windi dengan mata berkedip-kedip.
"Adik Arthur masih berada di dalam perjalanan menuju ke sini, Sayang." Ucap Windi sambil mengusap rambut Zeline.
"Apa masih lama? Zel sudah tidak sabar bermain dengannya." Ucap Zeline.
Windi terdiam. Ingin sekali ia menanyakan keberadaan Jasmin saat ini namun ia tidak bisa melakukannya karena ponselnya tertinggal di dalam kamarnya.
"Kita tunggu sebentar lagi saja, ya. Sekarang lebih baik Zel bermain dengan Kak Farhan dan Kak Fahri dulu." Tawar Windi.
Wajah Zeline seketika berubah masak mendengarkan nama kedua kakak jahilnya itu. "Zel bermain dengan adik Ziko dan Boy saja. Kak Farhan dan Kak Fahri selalu jahil pada Zel." Adunya.
Windi tertawa mendengarnya.
"Zel pergi dulu, Anty." Ucap Zeline lalu kembali ke tempat semula dimana Ziko dan Boy kini berada.
Setengah jam telah berlalu, namun Windi tak kunjung melihat tanda-tanda Jasmin, Jhoni dan Arthur datang ke kediamannya. Rasa cemas pun mulai menghantui pemikirannya karena hatinya merasa ada yang tidak beres saat ini.
Tak ingin menunggu Marvel lebih lama, Windi pun segera melangkah menghampiri Marvel yang sedang berbincang dengan para sahabatnya.
"Mas, bisa pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Jhoni." Pinta Windi.
Marvel mengiyakannya lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Setelah ponsel berada di tangannya, Windi segera menghubungi nomer ponsel Jhoni.
"Jhoni, apa kau sudah menjemput Jasmin? Kenapa kalian lama sekali sampai?" Tanya Windi tanpa basa-basi setelah panggilan terhubung.
Maaf, Nona. Saat ini saya sedang berada di dalam perjalanan ke rumah sakit karena tadi Nona Jasmin pingsan di apartemennya. Jawab Jhoni di seberang telefon yang berhasil membuat Windi terkejut mendengarnya.
***