
"Bisakah kita membahas hal yang lain? Aku rasa membahas masa lalu tidak terlalu penting saat ini." Pungkas Jasmin.
"Tidak terlalu penting?" Daniel tersenyum sinis. "Aku rasa itu penting sebelum apa yang kita bahas saat ini menjadi masalah untuk kedepannya." Balas Daniel.
"Percayalah jika apa yang kau takutkan tidak akan terjadi." Jawab Jasmin cepat.
"Lalu bagaimana jika aku tidak percaya? Tidak ada satu pun orang yang bisa dipercayai saat ini termasuk diriku sendiri dan dirimu." Sindir Daniel.
Jasmin menghela nafas panjang. "Aku mohon jangan mengusik hidupku yang sudah tenang saat ini." Pinta Jasmin.
"Aku tidak bermaksud mengusik. Aku hanya ingin kau jujur dengan permasalahanmu saat ini dan jujur tentang anak itu." Tekan Daniel.
Jasmin memalingkan wajah ke samping agar Daniel tidak melihat perubahan ekspresi wajahnya saat mendengar kata anak yang kelur dari mulut Daniel.
"Bisakah kau berkata jujur tentang siapa ayah kandung anakmu?" Tanya Daniel.
Pandangan Jasmin kini kembali terpusat pada Daniel. "Aku rasa kau sudah mengetahui jawabannya." Balas Jasmin tak ingin menjawab pertanyaan Daniel.
"Jika aku tahu maka aku tidak akan bertanya kepadamu. Saat ini kau tinggal menjawab siapakah ayah dari anakmu. Apakah anak itu benar-benar anak dari selingkuhanmu atau—" Ucapan Daniel terputus karena Jasmin memangkasnya.
"Stop. Hentikan omong kosong ini." Pinta Jasmin.
Kevin menatap datar pada Daniel seolah memberi kode agar Daniel tak melanjutkan perkataannya.
"Baiklah-baiklah. Aku rasa untuk pertemuan di awal kita ini sudah cukup. Kalau begitu aku pamit dulu dan akan segera kembali lagi untuk mengunjungimu." Ucap Daniel penuh makna.
Jasmin memilih diam dengan kepala tertunduk. Daniel dan Kevin pun bangkit dari duduk mereka masing-masing dan berpamitan untuk keluar dari dalam ruangan.
"Tunggu dulu." Jasmin menghentikan langkah Daniel dan Kevin.
"Ada apa?" Kevin yang menjawab.
Daniel dan Kevin hanya diam saja tak menanggapi ucapan Jasmin karena mereka tidak bisa menjanjikan untuk hal itu. "Kami pergi dulu." Ucap Daniel kemudian lalu melanjutkan langkah meninggalkan ruangan Jasmin.
Jasmin menatap sendu kepergian Daniel dan Marvel. Saat ini hatinya mulai dibuat cemas jika apa yang dipikirkannya akan terjadi. "Ku mohon jangan lakukan hal itu." Pintanya lirih dan tidak akan didengar oleh Daniel dan Kevin.
*
"Kalian dari mana saja?" Tanya Marvel dengan tatapan penuh selidik pada kedua sahabatnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Apakah kau sangat penasaran kemana kami pergi?" Tanya Daniel.
"Ck." Lidah Marvel berdecak. "Jangan bilang jika kau baru saja menemui wanita itu?" Tebak Marvel.
"Seperti yang kau pikirkan. Kami baru saja menemuinya." Balas Daniel santai lalu duduk di sofa tanpa menunggu izin dari Marvel.
"Ck. Sungguh tidak penting!" Sungut Marvel.
Daniel tersenyum miring. Pun dengan Kevin. "Aku tidak yakin kau akan menganggap hal ini tidak penting setelah mengetahui tujuan kami menemuinya." Pancing Daniel.
"Apa alasanmu?" Tanya Marvel cepat.
Daniel menggeleng. "Kau akan mengetahuinya setelah semuanya jelas dan nyata. Untuk saat ini lebih baik kau banyak berdoa jika semuanya akan baik-baik saja." Ucap Daniel dengan wajah berubah serius. Entah apa maksud ucapan Daniel saat ini. Yang jelas Marvel dapat menangkap ada hal yang tidak beres dari ucapan sahabatnya itu.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.