Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Saksi perjuangan


Satu tahun tanpa terasa sudah berlalu Marvel dan Windi menjalani pernikahan. Selama satu tahun pula Marvel dan Windi mencoba menjalani pernikahan mereka dengan baik-baik saja meski cukup banyak rintangan dan halangan yang datang silih berganti menghampiri mereka.


Sebagai seorang pria yang sudah cukup banyak pengalaman dalam rumah tangga setelah melihat pernikahan kedua sahabatnya dan teman-temannya yang lainnya, Marvel selalu berupaya menjadi suami yang baik dan mempertahankan rumah tangga mereka agar tetap baik-baik saja.


Walau awal pernikahan mereka terjadi dengan sebuah keterpaksaan dari pihak Windi, namun Marvel berhasil membuat Windi hidup nyaman dengannya bahkan kurang dari satu tahun sudah mencintainya.


Di dalam hidup berumah tangga tentu ada saja rintangan dan ujian yang harus Marvel dan Windi lewati. Seperti saat ini mereka masih diuji dengan kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga mereka.


Sudah berbagai cara Marvel dan Windi lakukan agar mereka segera dikaruniai keturunan. Namun mereka tetaplah manusia biasanya yang hanya bisa memasrahkan segalanya pada yang maha kuasa.


Walau cukup merasa sedih karena sampai saat ini ia belum juga hamil, namun Windi masih tetap menampilkan senyuman manis pada semua orang untuk memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja. Dan hari ini, tepat di satu tahun pernikahan mereka, Windi menutup kotak berisikan sebelas tespeck yang ada di dalam lemarinya dan hendak membuangnya ke tempat sampah.


Ya. Windi sudah memutuskan untuk tidak lagi berharap dan memasrahkan segalanya pada yang maha kuasa. Ia ingin membuang kesebelas tespek itu beserta semua harapannya selama ini. Karena jujur saja setiap ia melihat kotak berisikan tespek itu hatinya selalu dibuat bersedih.


Ceklek


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengagetkan Windi yang baru saja mengeluarkan kotak tespek dari dalam lemarinya.


"Ma-mas..." Windi sedikit tergagap melihat Marvel yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah kantong plastik di tangannya.


Marvel tak mengucapkan sepatah kata pun pada istrinya karena kini pandangannya terfokus pada kotak yang ada di tangan Windi.


"Emh..." Windi segera menyembunyikan kotak berisikan sebelah tespek itu di belakang tubuhnya.


"A-aku tidak menyembunyikan apa-apa." Jawab Windi mencoba tersenyum.


"Lalu itu?" Marvel memusatkan pandangannya pada kotak yang masih terlihat oleh matanya.


"Oh, ini." Windi terpaksa memperlihatkan kotak kecil bewarna coklat tua itu di depan Marvel. "Ini bukan apa-apa." Jawabnya.


"Bukan apa-apa?" Marvel mengulang perkataan istrinya. Pandangannya masih terpusat pada kotak kecil yang ada di tangan istrinya.


"Emh, ya. Ini hanya kotak kecil yang aku bawa dari kontrakan dulu. Karena bentuknya sudah jelek aku berniat membuangnya." Jawab Windi. Masih tetap tersenyum agar Marvel tidak menaruh rasa curiga padanya.


"Apa aku boleh melihat isinya? Sepertinya ada sesuatu di dalamnya." Pinta Marvel.


Windi menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak ada isi apa-apa di dalamnya, Mas." Jawabnya berbohong.


Marvel menghela nafasnya. "Kenapa berhohong seperti itu? Aku bahkan sudah melihat isinya." Ucap Marvel yang berhasil membuat Windi begitu terkejut mendengarnya.


"A-apa? Kau sudah melihat isinya?" Tanyanya.


Marvel mengangguk. "Kenapa kau berniat membuangnya? Biarkan kotak itu tetap ada di lemari. Biarkan kotak itu menjadi saksi perjuangan kita selama satu tahun belakangan ini. Dan hari ini, kau harus menambah satu isian lagi di dalamnya karena aku sudah membawa tespek baru untuk kau gunakan. Aku harap kali ini kita bisa mengisi kotak itu dengan hasil yang berbeda." Ucap Marvel lembut.


***