Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Kehadiran seorang anak


Kedatangan Arthur ke rumah sakit untuk melihat Jasmin yang telah sadar dari komanya siang itu membuat suasana haru tercipta di antara Jasmin dan Arthur. Arthur yang masih berusia di bawah lima tahun itu terlihat tak dapat membendung air matanya melihat Mommynya telah sadar dan bisa melihat wajahnya kembali.


Windi yang memilih berada di luar ruangan bersama Marvel nampak memeluk erat tubuh Marvel sambil tersenyum.


"Apa kau merasa senang saat ini, Sayang?" Tanya Marvel.


Windi mengangguk perlahan. "Tentu saja." Jawabnya.


Marvel tersenyum lalu mengajak Windi untuk duduk di kursi tunggu. Ia dan Windi menunggu Arthur berbicara dengan Jasmin di dalam ruangan ICU bersama Jhoni yang menemaninya.


Setelah waktu menjenguk mereka habis, Marvel dan Windi pun membawa Arthur kembali ke kediaman Daniel dan Naina karena Marvel berniat melanjutkan penginapan mereka di hotel.


"Apa Arthur tak apa menginap kembali di rumah Kak Zel?" Tanya Windi saat mobil milik Marvel telah hampir sampai di kediaman Daniel dan Naina.


"Tidak apa-apa, Tante. Arthur senang berada di sana bisa bermain bersama Adik Ziko dan Kak Zel." Jawabnya.


Windi tersenyum mendengarnya. Kini ia merasa lega melihat Arthur yang terlihat jauh lebih bahagia setelah melihat Jasmin sadar dari komanya.


"Tante, apa besok Mommy sudah bisa pulang? Arthur rindu tidur bersama Mommy." Tanya Arthur pelan.


Windi terdiam beberapa saat. "Untuk itu Tante tidak bisa memastikannya, Sayang. Tapi besok Tante akan mempertanyakannya pada Dokter." Janji Windi.


Arthur mengangguk saja dan tak lagi bertanya. Setelah mobil kembali sampai di kediaman Daniel dan Naina, Arthur segera turun dari dalam mobil dan menghampiri Zeline yang terlihat telah menunggunya di depan pintu.


"Kalian ingin kembali menginap di hotel?" Tanya Daniel pada Marvel.


"Apa Windi setuju untuk itu?" Tanya Daniel menatap Windi yang tengah berbincang dengan Naina/


Marvel mengangguk. "Tentu saja dia mau kerena dia ingin membayar segala kesalahannya padaku." Jawab Marvel sedikit pelan agar Windi tak mendengarnya.


Daniel menggeleng mendengar jawaban sahabatnya. Setelah cukup berbincang dengan Daniel dan Naina, Marvel dan Windi pun berpamitan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


*


Satu bulan kembali terasa berlalu. Dan saat ini Arthur sudah tak lagi tinggal bersama Marvel dan Windi karena kini Jasmin sudah diperbolehkan pulang dan kembali tinggal bersama Arthur di apartemennya.


Dan sesuai permintaan Windi pada Marvel beberapa hari sebelum Jasmin pulang ke apartemennya, saat ini sudah ada seorang perawat yang ditugaskan untuk membantu Jasmin dan Arthur karena Windi yakin saat ini Jasmin membutuhkan bantuan seseorang untuk membantu merawat dirinya dan putranya.


Di tengah gelapnya malam, Windi terlihat tengah duduk di balkon kamarnya dengan pandangan lurus ke depan. Wajah wanita itu nampak sendu seakan ada sesuatu hal berat yang tengah dipikirkannya saat ini.


"Sayang..." suara lembut Marvel memanggilnya tak membuat Windi mengalihkan pandangan dari Marvel yang baru saja datang menghampirinya.


Marvel menghela nafas lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Windi.


"Mas, apa sudah saatnya kita memeriksakan kondisi kesehatan kita pada dokter kandungan?" Tanya Windi tanpa menoleh pada Marvel.


"Sayang... jangan terlalu memikirkan ucapan Mama. Jika saatnya sudah tiba kita pasti akan memilikinya." Ucap Marvel yang sudah mengerti maksud ucapan Windi saat ini. Apa lagi jika bukan karena perkataan Mama Belinda yang kembali mempertanyakan kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga mereka.


***