
Kerena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Marvel, Windi pun berinisiatif masuk ke dalam kamar mandi menghampiri suaminya. Dan betapa terkejutnya Windi setelah masuk ke dalam kamar mandi melihat Marvel tengah menangis sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Mas... ada apa ini?" Tanya Windi merasa takut melihat suaminya yang tengah menangis.
Marvel membalikkan tubuhnya menghadap pada Windi sambil menangis tersedu-sedu.
"Mas..." Windi semakin dibuat takut sekaligus khawatir melihat sikap suaminya saat ini.
"Sayang..." Marvel tiba-tiba saja merentangkan kedua tangannya. Melihat itu membuat Windi yang tadinya takut menjadi bingung. Namun karena tak ingin semakin larut dalam kebingungannya, Windi memilih segera masuk ke dalam dekapan suaminya.
"Ada apa ini, Mas?" Tanya Windi sambil mendongak menatap wajah tampan suaminya.
Bukannya menjawab, Marvel justru semakin menangis dengan kencang layaknya seorang anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Mas... ayo jawab. Ada apa ini?" Tanya Windi lagi.
Marvel pun perlahan meregangkan pelukannya pada tubuh Windi lalu memperlihatkan ketiga buah tespek di hadapan Windi.
"Tespek? Bagaimana hasilnya, Mas?" Kali ini Windi berubah gugup menatap benda yang sangat sensitif baginya. "Apa hasilnya tetap sama seperti kesebelas tespek yang lainnya?" Tebak Windi. Karena melihat ekspresi wajah Marvel saat ini membuatnya berpikir hasilnya tetap sama hingga Marvel menangis seperti saat ini karena kecewa.
Marvel menggeleng lalu memutar tespek di tangannya hingga Windi dapat melihat dengan jelas hasilnya.
"Ma-mas..." tubuh Windi bergetar hebat menatap ketiga buah tespek yang memperlihatkan hasil garis dua di sana.
"Kau hamil, Sayang." Ucap Marvel kembali menangis.
"A-aku hamil?" Tanya Windi tergagap. Ia bahkan tidak sadar jika kini air mata sudah mengalir di kedua pipinya.
"Mas..." Windi buru-buru menghambur di dalam pelukan suaminya. Rasa harus dan sedih kini menjadi satu di dalam dadanya melihat hasil yang sudah sangat ia nantikan selama ini bersama suaminya.
"Aku benar-benar hamil, Mas?" Tanya Windi di dalam dekapan Marvel.
"Seperti yang kau lihat, Sayang." Jawab Marvel lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di kening istrinya.
"Huu..." Windi menangis tersedu-sedu di dalam pelukan suaminya. Ia bahkan tidak memperdulikan jika kini baju Marvel telah basah karena air mata dan ingusnya menempel di sana.
"Akhirnya penantian kita berbuah manis, Sayang." Ucap Marvel masih dengan tetap menangis.
Windi pun mengangguk di dalam dekapan suaminya. Rasanya ia benar-benar tidak percaya jika kini ia tengah hamil. Penantiannya selama ini bersama Marvel akhirnya berbuah manis seperti yang Marvel katakan.
"Sayang, bisakah kita melanjutkannya di luar kamar mandi saja? Aku tidak nyaman menangis di sini?" Pinta Windi dengan kata berkedip pada Marvel.
Mendengar permintaan istrinya membuat Marvel segera melepas peluknnya dan menatap sekitarnya.
"Emh, ya. Kita lanjutkan di kamar saja. Ayo keluar." Ajak Marvel cepat. Ia baru saja tersadar jika sudah hampir lima belas menit menangis haru bersama Windi di dalam kamar mandi.
Windi mengiyakannya lalu berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Senyuman di wajahnya pun nampak terbit saat keluar dari dalam kamar mandi dan melihat mata suaminya yang bengkak dan wajahnya yang nampak sembab.
"Apa kau sangat bahagia, Mas?" Tanya Windi pada Marvel walau ia sudah dapat menebak jawabannya.
***