
"Menyingkirlah, kau begitu dekat denganku." Ucap Windi pelan sambil memejamkan kedua kelopak matanya.
"Kenapa harus menyingkir, hem?" Marvel menyibak beberapa helai rambut Windi yang menutupi keningnya ke belakang telinga.
Tubuh Windi dibuat meremang merasakan sentuhan lembut tangan Marvel di wajah.
"Windi... kau terlihat sangat cantik." Puji Marvel tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir mungil yang selalu menggoda imannya.
Kedua kelopak mata Windi yang terpejam pun perlahan terbuka. "Kau mengada-ngada." Ucap Windi dengan sedikit terbata.
"Aku tidak mengada-ngada. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau begitu cantik dan juga... seksi." Bisiknya di telinga Windi.
"Emh, Marvel..." Windi dibuat tak dapat lagi berkata-kata saat tangan Marvel mulai turun mengelus lehernya.
Marvel menghentikan aktivitasnya dan menjauhkan tubuhnya memberi ruang pada Windi untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah merasa Windi cukup tenang, Marvel meminta Windi untuk berdiri.
Walau ragu untuk melakukannya namun Windi tetap bangkit untuk berdiri dari posisinya dengan dibantu oleh Marvel.
"Windi... apa kau tahu jika kau sangat cantik? Kau begitu cantik walau tanpa polesan apa pun di wajahmu ini." Ucap Marvel pelan sambil kembali mengusap wajah Windi.
"Aku tidak tahu karena aku tidak merasa seperti yang kau katakan." Windi berusaha untuk tetap tenang di tengah aktivitas tangan Marvel yang mulai nakal.
"Oh benarkah? Apa kau tidak merasakannya di saat begitu banyak pria yang mencoba mendekatimu karena terpesona dengan kecantikanmu termasuk anak dari pemilik supermarket tempat kau bekerja?" Tanya Marvel.
Marvel tersenyum miring tanpa menghentikan kegiatannya. "Tidak ada yang tidak aku ketahui dari dirimu, Sayang." Jawab Marvel.
"Sa-sayang..." Windi tertunduk malu. Untuk yang kesekian kalinya Marvel mengucapkan kata sayang kepadanya dan terdengar sangat indah di telinganya.
"Ya, sayang." Marvel semakin mendekatkan wajah mereka hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.
"Mar—" ucapan Windi terhenti begitu saja saat sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Kedua mata Windi terbelalak saat menyadari apa yang tengah dilakukan suaminya saat ini kepadanya.
Marvel tengah menciumnya. Atau lebih tepatnya menempelkan bibir di bibirnya. Marvel hanya sekedar menempelkan bibir mereka sambil menatap wajah Windi yang terlihat tegang. Marvel tersenyum tipis sebelum akhirnya memberikan lu-matan lembut di bibir Windi. Rasa yang sejak tadi ia tahan ingin merasakan manisnya bibir istrinya akhirnya terwujud saat akal sehatnya tak lagi bekerja dengan baik. Marvel lebih mementingkan apa yang ia inginkan dari pada bertanya lebih dulu pada Windi.
Lagi pula tidak ada yang salah bukan dengan apa yang dilakukannya saat ini? Windi adalah istrinya dan ia sangat berhak atas diri istrinya itu. Windi pun tak dapat menolak apa yang Marvel lakukan saat ini karena ia sadar jika Marvel berhak melakukannya. Kali ini untuk pertama kalinya di dalam hidupnya ia merasakan sebuah ciuman dari seorang pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Hal yang tidak pernah Windi bayangkan akhirnya terjadi begitu saja saat ini.
Marvel terus memberikan ciuman yang lembut pada bibir Windi hingga membuat Windi merasa nyaman dengan ciuman yang ia berikan. Kedua kelopak mata Marvel dan Windi pun perlahan terpejam secara bersamaan menikmati indahnya kegiatan yang mereka lakukan saat ini.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.