Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Harusnya bahagia


"Tidak masalah Mama." Windi masih tetap menampilkan ekspresi tersenyum pertanda ia baik-baik saja walau hatinya saat ini mulai merasa terganggu mendengar pertanyaan yang sama dari Mama Belinda.


Percakapan di antara mereka pun berlanjut dengan pembahasan yang berbeda karena Marvel dengan cepat mengambil alih topik. Setelah hampir lima belas menit berbincang, Marvel pun berpamitan untuk berangkat bekerja.


"Windi, sepertinya Mama dan Papa harus pergi juga. Mama lupa jika setengah jam lagi ada undangan perkumpulan dari teman-teman Mama." Ucap Mama Belinda setelah kepergian mobil Marvel.


"Baiklah, Ma." Jawab Windi lalu kembali mengantarkan Mama dan Papa mertuanya ke depan rumah.


Setelah kepergian mertuanya, Windi pun kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah layu. Entah mengapa pertanyaan Mama Belinda masih saja mengusik pemikirannya saat ini.


"Windi?" Amri yang baru saja keluar dari dalam kamarnya terlihat berjalan menghampiri Windi yang tengah duduk di sofa sambil melamun.


"Ayah?" Windi tersenyum menatap pada ayahnya.


"Ada apa denganmu, Nak? Kau terlihat sedang bersedih." Tanya Amri.


"Windi tak apa, Ayah." Jawab Windi berbohong dan itu dapat dilihat jelas oleh Amri.


"Windi... kau tidak lupa bukan jika Ayah adalah ayah kandungmu. Apa yang kau rasakan saat ini ayah dapat merasakannya."


Windi mengusap sebelah tangan ayahnya. "Windi benar-benar tidak apa-apa, Ayah." Ucap Windi tersenyum berharap dapat menenangkan ayahnya.


Amri pun memilih tak memaksa putrinya untuk bercerita karena ia tahu Windi tak ingin ia mengetahui masalahnya saat ini. Tak berselang lama, Windi berpamitan pada Amri untuk pergi ke pasar membeli kebutuhan dapur yang sudah habis bersama pelayan di rumahnya. Amri pun mengiyakannya lalu ikut berpamitan kembali ke dalam kamarnya.


*


"Bibi pulanglah lebih dulu." Ucap Windi setelah mereka selesai berbelanja di pasar tradisional pagi itu.


"Bibi tenang saja, saya akan pulang dengan taksi online nanti." Jawab Windi.


"Tapi..." Bibi nampak meragu terlebih apa yang akan ia jawab jika nanti Marvel menanyakan keberadaan Windi padanya. Windi yang melihat kecemasan di wajah Bibi pun menenangkannya dan mengatakan jika nanti ia akan mengabari Marvel dimana ia berada. Setelah bernegoisasi dengan Bibi, akhirnya mereka pun berpisah. Bibi pulang dengan sopir yang mengantarkan mereka sedangkan Windi pergi ke suatu tempat dengan menggunakan ojek online yang sudah dipesannya.


*


Di sinilah Windi berada saat ini. Di sebuah taman yang terletak tidak terlalu jauh dari perumahannya berada. Windi memilih untuk pergi ke taman biasa yang sering ia kunjungi di saat sedang merasa tidak nyaman dengan pemikirannya seperti saat ini.


"Huft, kenapa dengan hatiku, harusnya aku bahagia karena tadi malam Marvel menyatakan cintanya padaku. Lalu kenapa sekarang aku harus bersedih karena pertanyaan singkat dari Mama." Lirih Windi sambil menatap ke sembarang arah.


Di saat ia sedang menatap kesekitarnya, pandangan Windi tiba-tiba tertuju pada sosok anak kecil dan wanita dewasa yang sangat dikenalinya.


"Bukankah itu Jasmin?" Gumam Windi. Setelah memastikan apa yang dilihatnya adalah benar, Windi pun bangkit dari duduknya menghampiri Jasmin yang terlihat sedang menemani putranya bermain di sekitar taman.


"Jasmin?" Windi menepuk pundak Jasmin hingga membuat Jasmin menoleh kepadanya.


"Nona Windi?" Ucap Jasmin dengan wajah terkejut melihat keberadaan Windi di tempat yang sama dengannya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.