
"Kau ada di sini juga?" Tanya Windi sambil menatap pada Arthur yang kini tengah menatap padanya.
"Emh, ya. Aku sedang menemani putraku bermain." Jawab Jasmin lalu mengikuti arah pandangan Windi yang kini tertuju pada putranya.
"Apa kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Windi setelah melepaskan tatapan matanya dari Arthur.
"Tidak. Aku mengambil cuti tiga hari ini karena putraku sedang sakit." Jawab Jasmin.
"Sakit? Arthur sakit apa?" Tanya Windi lalu berjalan mendekat pada Arthur.
"Demam. Beberapa hari yang lalu Arthur bermain hujan di luar apartemen bersama teman-teman barunya hingga membuat dia demam. Hari ini demamnya sudah mulai turun dan Arthur meminta untuk diajak bermain ke taman." Jawab Jasmin.
Windi mengangguk paham lalu berjongkok di hadapan Arthur. "Hai, tampan. Apa benar kau sedang sakit, hem?" Tanya Windi sambil mengusap rambut Arthur.
"Benar, Tante. Aku sedang sakit tapi sekarang sudah mulai membaik." Jawab Arthur layaknya orang dewasa.
"Oh... syukurlah..." Windi mengusap kepala Arthur.
"Windi, bagaimana kalau kita duduk di sana saja sambil memperhatikan Arthur bermain." Ajak Jasmin.
"Baiklah." Windi bangkit dari posisinya lalu mengikuti Jasmin berjalan ke arah kursi yang tadi ia tunjuk.
"Oh ya, kau sedang apa di sini?" Tanya Jasmin.
Windi tak langsung menjawab pertanyaan Jasmin karena kini ia sedang berpikir apakah harus menceritakan masalahnya dengan teman barunya itu.
"Windi?" Ucap Jasmin melihat Windi yang hanya diam saja.
"Aku sedang menenangkan pemikiranku di sini." Ucap Windi dengan wajah yang berubah layu.
"Ada apa denganmu?" Jasmin sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat melihat jelas wajah Windi.
"Hatiku sedang tidak baik-baik saja, Jasmin." Ucap Windi dengan lirih.
"Kenapa? Apa ada hal yang mengganggu pemikiranmu?" Jasmin terlihat tertarik mendengar cerita Windi.
Windi mengangguk mengiyakannya lalu mulai menceritakan hal yang mengganggu pemikirannya saat ini. Apa lagi jika bukan persoalan anak. Windi menceritakan bagaimana suami dan mertuanya yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak dari rahimnya namun ia belum bisa memberikannya.
"Jangan terlalu bersedih. Usia pernikahanmu masih dini dan masih banyak waktu untukmu dan suamimu berusaha mendapatkan seorang anak."
"Ya, aku tahu itu. Namun tetap saja aku merasa terbebani saat ini dengan itu." Keluh Windi.
"Kau jangan terlalu bersedih. Tuhan akan menitipkan anak di dalam rahimmu di waktu dan saat yang tepat. Mungkin saja saat ini kau diminta untuk menikmati pernikahan kalian hanya berdua saja dan menjalin kedekatan satu sama lain."
Windi mengangguk membenarkannya. "Kau benar. Aku terlalu banyak berpikir karena masalah ini hingga melupakan jika aku punya Tuhan yang mengatur jalan hidupku."
"Apa kau ingin mendengarkan ceritaku?" Tanya Jasmin sambil menatap putranya.
"Apa itu?" Tanya Windi.
Jasmin menghela nafas sesaat sebelum bercerita. "Aku justru menjalani pernikahan yang tidak sehat dari awal kami menikah hingga sampai Arthur lahir ke dunia. Apa kau tahu, di saat semua orang suami seperti suamimu menginginkan seorang anak dari rahimmu, suamiku justru sebaliknya. Ia tidak menginginkan anak dari rahimku bahkan tidak menganggap Arthur sebagai anak kandungnya sendiri."
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.