Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Belajar menerima


"Aku bukan belum menerimanya. Aku hanya belum terbiasa dengan keberadaannya." Jawab Marvel.


"Belum terbiasa dengan keberadaannya atau kau berat menerimanya karena dia adalah anak dari mantan kekasihmu?" Tebak Daniel.


Marvel menyandarkan punggungnya di sandaran sofa lalu menghembuskan nafas dengan kasar di udara. "Tidak sepenuhnya seperti yang kau bayangkan." Jawabnya.


"Hei, ayolah... Windi saja dapat menerimanya dengan tulus. Masa dirimu tidak. Kau bisa lihat, Arthur adalah anak yang baik dan ramah. Di balik siapa kedua orang tuanya, dia tetaplah anak yang polos dan membutuhkan kasih sayang dari orang di sekitarnya saat ini."


"Aku sedang berusaha untuk menerimanya." Jawab Marvel singkat.


"Marvel, kita tidak tahu jalan mana yang sedang kita lewati saat ini. Dan mungkin saja jalan yang sedang kau lewati saat ini adalah jalan yang akan menuntunmu mendapatkan apa yang kau inginkan saat ini." Ucap Daniel penuh maksud.


Marvel dapat mengerti kemana arah pembicaraan Daniel. Marvel pun mengangguk mengiyakan perkataan Daniel tanpa berniat membantahnya. Setelah cukup berbincang dengan Daniel, Marvel pun berpamitan untuk pergi karena Naina dan Windi telah turun sambil membawa barang-barang yang diperlukan oleh Zeline dan Ziko selama bermain bersamanya nanti.


*


Saat ini Marvel dan Windi telah berada di taman bermain yang berada tidak terlalu jauh dari kediaman Daniel. Mereka memutuskan membawa Arthur, Zeline dan Ziko bermain ke tempat ini agar anak-anak itu bisa saling menjalin kedekatan dengan bermain bersama.


"Om tunggu sini aja." Ucap Zeline pada Marvel tak ingin Marvel mengawasinya dari dekat.


"Baiklah." Jawab Marvel menurut.


Windi tersenyum melihat interaksi Marvel dan Zeline yang terlihat menggemaskan di matanya. Walau menuruti keinginan Zeline agar tak mengawasi mereka dari dekat, namun tetap saja Marvel tak melepaskan pandangannya dari Zeline, Ziko dan Arthur yang tengah bermain bersama.


"Marvel, rasanya sangat menyenangkan jika nantinya kita akan memiliki anak seperti mereka bukan?" Tanya Windi pada Marvel tanpa mengalihkan pandangannya dari Zeline, Ziko dan Arthur:


Windi tersenyum mendengarnya. Rasanya jawaban Marvel saat ini dapat menenangkan hatinya yang sejak kemarin gundah.


"Jangan memikirkan hal yang belum menjadi takdir kita. Sebagai manusia kita hanya bisa berusa dan berdoa agar keinginan kita bisa terwujud. Jika takdir belum menberikannya untuk kita, kita harus bisa ikhlas dan sabar menerimanya." Tutur Marvel.


Windi menganggukkan kepalanya. Ia menoleh menatap Marvel yang tengah tersenyum kepadanya.


"Aku menyayangimu." Ucap Marvel menggenggam erat tangan Windi.


"Begitu pun dengan aku." Balas Windi membalas genggaman tangan Marvel. Keduanya saling tersenyum lalu kembali menatap Arthur, Zeline dan Ziko yang sedang asik bermain bersama.


Mungkin Daniel benar. Jika aku bisa belajar menerima Arthur dalam hidupku dan Windi, mungkin saja itu adalah jalan untuk aku dan Windi bisa memiliki seorang anak suatu saat nanti. Ucap Marvel dalam hati.


"Arthur... kenapa kau terlihat sangat ganteng seperti ini? Apa Daddymu juga ganteng seperti dirimu?" Tanya Zeline pada Arthur yang sedang mengantri untuk naik seluncuran.


Mendengar kata Daddy yang keluar dari mulut Zeline tentu saja membuat Arthur bingung. Bagaimana tidak, selama ini ia tidak pernah bertemu dengan Daddynya bahkan melihat seperti apa wajah Daddynya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.