
"Apa?!" Tentu saja setelah mendengarkan jawaban Jhoni membuat Windi terkejut. "Kenapa Jasmin bisa pingsan?" Tanya Windi sedikit keras hingga beberapa orang yang berada di dekatnya dapat mendengarnya.
Windi pun mematikan sambungan telefonnya setelah mendapatkan jawaban dari Jhoni. Pandangannya pun beralih pada Marvel yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Acaranya akan selesai sebentar lagi." Ucap Marvel penuh maksud.
Windi mengangguk paham. Ia mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu. Tentu saja Marvel tidak ingin ia terlalu memikirkan orang lain dan sampai meninggalkan acara malam ini hanya karena ingin melihat Jasmin.
"Baik, Mas." Jawab Windi mencoba menutupi kecemasan di dalam hatinya.
Marvel tersenyum tipis mendengarnya. Walau ia cukup penasaran bagaimana keadaan Jasmin saat ini, namun ia memilih memprioritaskan acara mereka malam ini dan tak ingin mengecewakan keluarganya.
Acara pun terus berlanjut namun Windi tak lagi menikmatinya karena kini hati dan pemikirannya tertuju pada Jasmin. Walau ia mencoba memasang wajah tersenyum, namun Marvel tahu istrinya tengah menahan rasa cemasnya pada Jasmin.
Satu jam berlalu, acara malam itu pun selesai. Marvel dan Windi mengantarkan para tamu undangan sampai ke depan pintu hingga kini hanya tinggal Daniel dan keluarganya sebagai tamu di dalam rumah.
"Ada apa, Windi? Aku melihat kau gelisah sejak tadi." Tanya Naina pada Windi yang baru saja kembali ke ruang tengah.
"Jasmin, Jasmin tadi pingsan dan saat ini tengah berada di rumah sakit." Jawab Windi sambil memasang wajah cemas. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya di depan Naina.
Tak berselang lama Marvel telah kembali ke ruang tengah bersama Daniel. "Aku dan Daniel akan pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Jasmin. Kau tetaplah di sini bersama Naina dan jangan berniat keluar dari rumah tanpa izinku." Ucap Marvel dengan tegas. Bukannya tidak ingin membawa istrinya yang sedang cemas itu ikut bersama dengannya, hanya saja Marvel tidak ingin karena kecemasan Windi yang terlalu berlebihan akan berakibat buruk pada janinnya.
"Tapi..." Windi hendak membantah namun genggaman lembut tangan Naina menghentikan niatnya.
"Baiklah, kabari aku jika Mas sudah berada di sana." Ucap Windi pada akhirnya.
Marvel menganggul lalu meraih tangan Windi agar mendekat dengannya. Setelahnya ia mendaratkan ciuman singkat di kening Windi dan mengelus perutnya. "Aku pergi dulu dan jangan menungguku pulang. Tidurlah dengan nyenyak di dalam kamar." Titah Marvel lembut namun penuh penenakan.
Windi hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Setelah berpamitan pada istri, orang tua dan mertuanya, akhirnya Marvel pun pergi ke rumah sakit bersama dengan Daniel.
"Aku tidak yakin untuk kali ini jika Jasmin akan baik-baik saja." Ucap Daniel saat mereka sudah hampir sampai di rumah sakit.
Marvel hanya diam dengan pandangan fokus ke depan. Selama satu bulan belakangan ini ia memang sudah mendapatkan informasi jika kondisi Jasmin semakin menurun namun ia merasa enggan menyampaikannya pada Windi karena tidak ingin membuat istrinya itu terlalu banyak pikiran.
"Aku hanya berharap Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk tetap hidup dan bisa merawat Arthur hingga dewasa. Kasihan sekali anak itu jika harus ditinggalkan satu-satunya orang yang sangat menyayanginya." Lanjut Daniel kemudian.
***