
Marvel hanya bisa tertawa melihat kekesalan dari raut wajah sahabatnya saat ini. Sedangkan Naina dan Windi yang melihat interaksi suami mereka hanya bisa menggelengkan kepala karena mereka sudah terbiasa melihat tingkah Marvel dan Daniel yang kadang-kadang seperti anak kecil.
Setengah jam sudah berada di kediaman Daniel dan Naina, akhirnya Marvel dan Windi pun berpamitan untuk pergi menuju hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap.
"Semoga misimu sukses kali ini." Ucap Daniel menepuk pundak Marvel sebelum Marvel masuk ke dalam mobilnya.
"Doakan saja." Jawab Marvel seraya tersenyum.
Daniel mengangguk mengiyakannya.
"Kabari aku jika ada apa-apa pada Arthur." Pesan Marvel sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya.
"Kau bisa mempercayakannya padaku." Jawab Daniel.
Marvel merasa cukup lega menitipkan Arthur pada sahabatnya yang dapat ia percayakan bisa menjaga Arthur. Setelah masuk ke dalam mobilnya, Marvel segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan perkarangan rumah Daniel dan Naina.
"Mas, kira-kira apa yang akan kita lakukan selama berada di hotel nanti? Sepertinya aku cukup bosan jika hanya berdiam diri di sana. Apa lagi jika pagi harinya kau berangkat bekerja. Aku pasti merasa sendirian di dalam hotel." Ucap Windi.
"Siapa bilang aku akan berangkat bekerja besok? Apa kau tidak sadar jika kau tidak ada mempersiapkan baju kerja untukku? Lagi pula kau tidak akan merasa bosan karena setiap waktu kita akan melakukan hal yang menyenangkan." Ucap Marvel tersenyum penuh maksud.
"Hal apa itu, Mas?" Tanya Windi penasaran.
"Tentu saja menciptakan gol terbaik." Kelakar Marvel.
Wajah Windi seketika memerah mendengar jawaban suaminya. Windi pun memilih menatap ke arah luar jendela agar Marvel tak melihat rona merah di wajahnya saat ini.
*
Satu jam kemudian, Marvel dan Windi sudah berada di dalam kamar hotel tempat mereka menginap. Marvel terlihat baru saja keluar dari dalam kamar mandi sedangkan Windi terlihat tengah sibuk menatap pakaian mereka di dalam lemari.
"Sayang, apa kau ingin menikmati makan malam di dalam kamar saja?" Tanya Marvel sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil di tangannya.
"Emh, ya. Sepertinya malam ini aku ingin makan malam di sini saja." Jawab Windi karena ia merasa sudah lelah untuk bergerak ke lantai bawah.
Marvel mengangguk paham lalu meraih ponselnya untuk menghubungi petugas hotel untuk mengantarkan makan malam ke dalam kamar mereka.
"Sayang, apa kau sudah membuka isi paper bag kecil yang aku masukkan ke dalam koper tadi?" Tanya Marvel saat tak melihat paper bag yang ia maksud.
"Belum. Aku memasukkannya ke dalam lemari." Windi segera meraih paper bag yang ada di dalam lemari dan menunjukkannya pada Marvel.
"Sekarang coba buka paper bag itu. Isi paper bag itu untukmu." Ucap Marvel.
"Untukku?" Tanya Windi dengan wajah bingung. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Marvel, Windi pun segera membuka paper bag dan mengeluarkan isinya.
"A-apa ini?" Kedua bola mata Windi membola sempurna saat melebarkan pakaian yang ia keluarkan dari paper bag.
"Itu adalah baju lingerie. Aku ingin kau memakainya sebelum tidur nanti." Pinta Marvel dengan tatapan menggoda.
***