
Windi dan Marvel nampak berjalan tergesa-gesa menuju ruangan perawatan ICU dimana Jasmin berada. Sesekali Windi hampir saja terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan kaki dengan tubuhnya untuk melangkah.
"Sayang, hati-hatilah." Pesan Marvel saat Windi hendak terjatuh kembali.
Windi hanya mengangguk sambil terus mempercepat langkahnya.
"Huft, huh, huh." Windi mengatur nafasnya yang naik turun setelah berada tepat di depan ruangan ICU. Di depan ruangan Jhoni nampak telah berdiri menunggu kedatangan mereka.
"Jhoni, bagaimana? Apa yang kau katakan itu benar?" Tanya Windi tak sabar setelah mengatur nafasnya.
"Benar, Nona. Anda dan Tuan Marvel bisa memastikannya langsung ke dalam." Ucap Jhoni.
Windi mengangguk lalu menatap pada Marvel. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Marvel, Windi segera melangkah masuk ke dalam ruangan ICU.
"Jas-jasmin..." baru saja Windi masuk ke dalam ruangan ICU, pandangan Windi sudah langsung tertuju pada sosok yang tengah berbaring di atas ranjang. "Jas-jasmin, kau sudah sadar?" Windi tak dapat membendung air matanya. Kedua tangannya refleks terangkat dan menutup kedua mulutnya.
"Jas-jasmin..." Windi langsung berjalan cepat ke arah ranjang dan langsung memegang sebelah tangan Jasmin yang tidak terpasang jarum infus.
"Wi-windi..." lirih Jasmin seraya tersenyum tipis. Sangat tipis sekali hingga Windi tak dapat melihatnya dengan jelas.
"Jasmin... kau sudah sadar... huuu..." Windi menangis tersedu-sedu.
Jasmin yang melihat Windi menangis pun turut meneteskan air matanya. Ia tahu lewat tangisan Windi saat ini Windi tengah mengutarakan kebahagiaannya di sana.
Setelah cukup bisa mengontrol hatinya yang tengah merasa haru dan bahagia kerena mengetahui Jasmin telah sadar, Windi pun duduk di sisi ranjang.
"Jasmin... aku sangat senang akhirnya kau sudah sadar." Ucap Windi dengan tersenyum dan mata berkaca-kaca.
"Jasmin, terima kasih karena kau sudah berjuang untuk sadar selama tiga bulan ini. Aku yakin jika Arthur mengetahuinya dia pasti sangat senang karena selama ini dia selalu berdoa untuk kesembuhanmu." Ucap Windi lembut.
Jasmin kembali tersenyum membalas perkataan Windi. Arthur, putranya itu adalah alasan terbesarnya untuk sadar dari komanya. Ia ingin memperlihatkan kembali senyuman di wajahnya pada putra kecilnya itu sebelum terlambat.
"Apa kau ingin bertemu dengan Arthur?" Tanya Windi saat melihat kedua bola mata Jasmin kembali berkaca-kaca mendengar nama putranya.
Jasmin mengangguk dengan lemah. Setelah mendapatkan jawaban dari Jasmin, Windi pun berpamitan melangkah keluar dari dalam ruangan dengan alasan memberikan waktu Jasmin untuk beristirahat.
"Sayang?" Marvel meraih sebelah tangan istrinya yang baru keluar dari dalam ruanga ICU.
"Mas, ayo kita jemput Arthur sekarang. Dia pasti sangat senang melihat Jasmin telah sadar dari komanya." Ajak Windi cepat.
"Sayang..." suara Marvel terdengar lemah.
"Ada apa, Mas? Ayo kita jemput Arthur." Ajak Windi lagi. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menjemput Arthur di kediaman Naina dan Daniel dan membawanya bertemu dengan Jasmin.
"Nona Windi... ada hal yang ingin saya sampaikan pada anda." Ucap Jhoni mengambil alih apa yang ingin Marvel katakan.
"Nanti saja. Aku ingin menjemput Arthur lebih dulu." Jawab Windi cepat.
"Sayang, tunggu dulu." Marvel akhirnya meninggikan nada suaranya agar Windi mau mendengarkan perkataannya.
***