Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Semakin indah di wajahmu


"Daniel memang tahu apa yang aku inginkan." Gumam Marvel menatap pada atas ranjang yang memperlihatkan adanya bentukan bukan dengan lambang cinta di sana. Rasanya saat ini Marvel ingin bersorak mengucapkan kata terima kasih pada Daniel yang telah berbaik hati melakukan apa yang tidak ia minta padanya.


"Emh, Marvel, sepertinya aku haus. Bagaimana kalau kita keluar untuk minum." Ajak Windi yang sejak tadi merasa canggung berada di dalam kamar bersama Marvel.


"Baiklah." Marvel menurut dengan membawa Windi keluar dari dalam kamar.


Di ruang tamu terlihat Bi Marni baru saja meletakkan cemilan dan air munum untuk mereka. "Silahkan diminum, Tuan, Nyonya." Ucap Marni.


"Terima kasih, Bibi." Balas Windi.


Pelayan wanita itu mengangguk. "Jika masih ada yang dibutuhkan silahkan panggil saya di belakang, Nyonya." Ucap Bi Marni.


"Baik, Bibi." Balas Windi.


Bi Marni pun berpamitan kembali ke belakang dengan membawa nampan di tangannya.


"Ayo minum, bukankah kau haus?" Tanya Marvel.


"Emh, ya. Aku akan minum." Ucap Windi lalu segera meraih gelas dan meneguk minuman hingga tandas.


"Dia terlihat haus sekali." Ucap Marvel lirih sambil menahan senyum.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama beristirahat di ruang tamu dan menikmati cemilan dan minuman yang diberikan Bi Marni, Marvel pun mengajak Windi untuk berjalan-jalan di sekitar Villa milik keluarga Alexander.


"Ternyata ada bangunan villa lain juga di sekitar sini." Ucap Windi menunjuk pada Villa yang terletak tidak terlalu jauh dari Villa yang mereka tempati.


"Ya. Villa itu adalah villa milik keluarga Paman Andrew Kakak dari Paman Alexander." Jawab Marvel.


Marvel mengangguk mengiyakannya. "Villa ini telah cukup lama tak lagi ditinggali oleh keluarga Pamana Andrew setelah Aga anak dari Paman Andrew memilih menetap di luar negeri dan Agatha sibuk dengan bisnis yang sedang ia kelola." Ucap Marvel sambil terus melangkah.


"Apa keluarga Paman Andrew tidak berniat menyewakan villa mereka pada orang lain?" Tanya Windi. Karena tidak mungkin villa milik keluarga Paman Andrew tidak memiliki minat untuk ditinggali oleh para wisatawan yang sedang berlibur di kota Bogor.


"Tidak. Mereka ingin villa ini khusus dipakai oleh orang-orang terdekat mereka saja. Tapi kau tenang saja, walau jarang ditinggali, villa milik keluarga Paman Andrew dan Paman Alexander selalu terawat setiap harinya." Marvel pun menunjuk pada dua orang petugas kebersihan yang baru saja keluar dari villa milik keluarga Paman Andrew.


"Ooh ya." Windi mengangguk paham.


Marvel pun kembali mengajak Windi melangkah menuju taman bunga yang ada di sekitar villa. Aroma bunga mawar merah mulai menyerbak masuk ke dalam indera penciuman mereka saat mereka sudah hampir dekat dengan taman.


"Harum sekali." Gumam Windi menikmati aroma bunga yang tercium oleh hidungnya.


"Apa kau menginginkan salah satu bunga itu? Jika iya aku akan mengambilkannya untukmu." Tawar Marvel melihat Windi yang terlihat begitu senang menatap bunga-bunga di depan mereka.


"Apakah boleh?" Tanya Windi meragu.


"Tentu saja." Ucap Marvel lalu memetik setangkai mawar merah dan meletakkannya di sela telinga Windi. "Bunga ini akan semakin terlihat indah jika diletakkan di sini." Gumam Marvel sambil menatap indahnya ciptaan Tuhan yang ada di depan matanya saat ini.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.